Uncategorized

KLUWIH

29 March 2016

 

Tanaman kluwih tumbuh kuat, relatif rimbun mirip tanaman sukun. Tanaman kluwih mudah dibudidayakan didaerah tropis. Selain itu memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi untuk hidup ditempat yang kurang menguntungkan. Kanopi rimbun dengan perakaran yang kuat, cocok untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan (Pitojo, 2005).

Taksonomi Kluwih (Artocarpus camansi) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus : Artocarpus
Spesies : Artocarpus camansi (Park.) Fsb

Deskripsi dari tanaman kluwih (Godam, 2014) adalah sebagai berikut :

Habitus : Pohon, tinggi 10-25 m
Batang : Tegak, bulat, percabangan sympodial
Daun : Tunggal berseling, lonjong, ujung runcing,  pangkal   70 cm,  tebal, permukaan kasar, hijau lebar 25-50 cm, pertulangan menyirip,   meruncing, tepi bertoreh, panjang 50-
Bunga : Tunggal, berumah satu, diketiak daun, bunga jantan silindris
Buah : semu majemuk, bulat, diameter 10-20 cm, berduri lunak, hijau
Biji : Bentuk ginjal,panjang 3-5 cm, hitam
Akar : Tunggang, coklat

Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada 100 gram Kluwih adalah sebagai berikut :

Energi : 111 kilokalori
Protein : 1,5 gram
Karbohidrat : 27,2 gram
Lemak : 0,3 gram
Kalsium : 28 miligram
Zat Besi : 1 miligram
Vitamin A : 20 IU
Vitamin B1 : 0,1 miligram
Vitamin C : 19 miligram

Tanaman kluwih telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain sebagai berikut (Pitojo,2005):

1. Kluwih termasuk tanaman bergetah, hampir semua bagian tanaman dapat mengeluarkan getah, sejak dari bunga, buah, daun, ranting, cabang, batang , maupun akarnya. Pada waktu dahulu getah kluwih dimanfaatkan sebagai perangkap burung.
2. Bunga kluwih yang telah kering dapat digunakan sebagai upet. Asap upet bunga jantan yang telah kering dan dibakar berguna sebagai pengusir nyamuk.
3. Daun kluwih yang telah tua dapat digunakan sebagai pakan ternak dan daun kluwih yang telah tua dapat digunakan sebagai pembungkus atau pembrongsong buah blimbing.
4. Kayu tanaman kluwih tidak keras, berserat kasar, kadangkadang dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan perangkat rumah tangga sederhana
5. Buah kluwih muda dimanfaatkan sebagai aneka sayur. Sementara buah kluwih yang tua diambil bijinya sebagai bahan pangan atau digunakan sebagai benih

 

 

 

Ubi Jalar Ungu

24 March 2016

Ubi jalar ungu merupakan tumbuhan yang merambat dan dapat tumbuh disegala cuaca baik di daerah pegunungan maupun di pantai. Ada tiga jenis ubi jalar yaitu berwarna putih, merah dan ungu. Khasiat ubi jalar didapatkan dari kandungan kimia yang ada didalamnya. Ubi jalar tumbuh di segala macam  tanah, namun lebih cocok pada tanah pasir berlempung yang halus dengan pH 5,6 – 6,6 dan suhu 24 – 250C pada kisaran curah hujan 750-1250 mm (Koeswara, 2008).

Kedudukan taksonomi ubi jalar menurut Rukmana (1997), diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Convolvulales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomea
Spesies : Ipomea batatas

 Ubi Jalar Ungu Cegah Kanker

 

Ubi ungu mengandung pigmen antosianin yang lebih tinggi dari pada jenis lain. Pingmen antosianin pada ubi ungu lebih stabil bila dibandingkan dengan antosianin dari kubis merah, elderberry dan jagung merah. Pingmen antosianin yang    dimiliki    adalah    senyawa cyaniding acylglukosidase dan peonidin acylglukosidase (Yasinaga,1995).

Kandungan kimia dan karakteristik ubi jalar ungu 100 gram adalah sebagai berikut:

Sifat kimia dan fisik Jumlah
Kadar air (%b/b) 67,77
Kadar abu (%b/k) 3,28
Kadar pati (%b/k) 55,27
Gula reduksi (%b/k) 1,79
Kadar lemak (%b/k) 0,43
Kadar antosianin (mg/100 g) 923.65
Aktifitas antioksidan (%) 61.24
Warna (L) 37,50
Warna (a) 14,20
Warna (b) 11,50

Sumber: Widjanarko (2008)

 

Kandungan ubi jalar ungu antara lain adalah vitamin (A, B1, B2, C dan E), mineral (kalium, kalsium, magnesium, tembaga dan seng), serat pengan serta karbohidrat. Bila dibandingkan varietas ubi jalar putih dan oranye, ubi ungu memiliki kandungan nutrisi berupa lisin, Cu, Mg, K, Zn yang berjumlah rata-rata 20% (Koeswara, 2008).

Di beberapa negara berkembang, umumnya ubi jalar dikonsumsi setelah panen tanpa adanya penyimpanan. Pengolahannya sebatas pada proses pemanggangan, penggorengan dan perebusan (Juanda et al., 2000). Sedangkan di Negara maju, ubi jalar diolah menjadi beberapa jenis makanan yang lebih kreatif sehingga mampu meningkatkan nilai jual produk. Di Jepang, ubi jalar dijadikan makanan tradisional yang publisitasnya setaraf dengan pizza dan hamburger, selain itu juga dimanfaatkan dalam dunia tekstil,  kosmetik, kertas, lem dan produk pangan lainnya. Lain lagi dengan Amerika, ubi jalar diolah menjadi bahan subtitusi kentang, serta diolah menjadi gula fruktosa sebagai bahan baku minuman bersoda (Koeswara, 2008).

Sukun (Artocarpus communis)

21 May 2015
Comments Off on Sukun (Artocarpus communis)

Sukun (Artocarpus communis) merupakan tanaman tropik sejati. Tanaman sukun dapat digolongkan menjadi sukun berbiji yang disebut breadnut dan tanpa biji disebut breadfruit. Tanaman ini tumbuh baik di daerah basah, tetapi juga dapat tumbuh di daerah yang sangat kering, asalkan ada air, tanah, dan aerasi tanah yang cukup. Sukun bahkan dapat tumbuh baik di pulau karang dan pantai. Di musim kering, di saat tanaman lain tidak dapat atau merosot produksinya, justru sukun dapat tumbuh dan berbuah lebat, sehingga sukun dapat dijadikan sebagai pangan alternatif, karena keberadaannya tidak seiring dengan pangan konvensional (beras), artinya keberadaan pangan ini dapat menutupi kekosongan produksi pangan konvensional (Hadi dan Yuantika, 2012). Secara sistematis, tumbuhan sukun ini diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom          : Plantae

Divisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Urticales

Famili              : Moraceae

Genus             : Artocarpus

Spesies           : Artocarpus communis

Menurut Hadi dan Yuantika (2012), sukun merupakan salah satu tanaman yang bisa dikonsumsi sebagai sumber karbohidrat. Buah sukun terkandung banyak manfaat salah satunya dapat membantu proses pencernaan, karena mengandung kandungan serat yang lebih tinggi mencapai 16 kali lipat dari serat yang terkandung dalam beras. Hampir seluruh bagian tanaman sukun dapat dimanfaatkan, salah satunya yaitu daging buah sukun. Bagian daging buah yang bisa dimakan yaitu 70% untuk buah yang masih hijau dan 78% untuk buah yang matang. Buah sukun yang telah matang cukup bagus sebagai sumber vitamin A dan B komplek tetapi rendah vitamin C. Kandungan Ca dan P buah sukun lebih baik daripada kentang dan diperkirakan menyerupai ubi jalar. Berikut komposisi kimia dan zat gizi dalam 100 gram buah sukun muda dan tua dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Komposisi Kimia dan Gizi buah sukun (Artocarpus communis)

Zat Gizi

Kadar

Sukun Muda

Sukun Tua

Kalori (kal)

46

108

Air

87,1

69,1

Protein (g)

2,0

1,3

Lemak (g)

0,7

0,3

Karbohidrat (g)

9,2

28,2

Kalsium (mg)

59

21

Fosfor (mg)

46

59

Besi (mg)

0,4

Vitamin B1 (mg)

0,12

0,12

Vitamin B2 (mg)

0,06

0,05

Vitamin C (mg)

21,00

17

Abu (g)

1,0

0,9

Sumber : Hadi dan Yuantika (2012)

Tanaman lidah buaya (Aloe vera L.)

20 May 2015
Comments Off on Tanaman lidah buaya (Aloe vera L.)

Tanaman lidah buaya (Aloe vera L.)

Tanaman lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman yang banyak tumbuh pada iklim tropis ataupun subtropis dan sudah digunakan sejak lama karena fungsi pengobatannya. Lidah buaya dapat tumbuh di daerah beriklim dingin dan juga di daerah kering, seperti Afrika, Asia dan Amerika. Hal ini disebabkan bagian stomata daun lidah buaya dapat tertutup rapat pada musim kemarau karena untuk menghindari hilangnya air daun. Lidah buaya dapat tumbuh pada suhu optimum untuk pertumbuhan berkisar antara 16-33oC dengan curah hujan 1000-3000 mm dengan musim kering agak panjang, sehingga lidah buaya termasuk tanaman yang efisien dalam penggunaan air (Furnawanthi, 2002).

Tanaman lidah buaya termasuk keluarga liliaceae yang memiliki sekitar 200 spesies. Dikenal tiga spesies lidah buaya yang dibudidayakan yakni Aloe sorocortin yang berasal dari Zanzibar (Zanzibar aloe), Aloe barbadansis miller dan Aloe vulgaris. Pada umumnya banyak ditanam di Indonesia adalah jenis barbadansis yang memiliki sinonim Aloe vera linn (Tarigan, 2001). Jenis Aloe yang banyak dikenal hanya beberapa antara lain Aloe nobilis, Aloe variegate, Aloe vera (Aloe barbadansis), Aloe ferox miller, Aloe arborescens dan Aloe schimperi (McVicar, 1994). Secara sistematis, tumbuhan lidah buaya ini diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi              : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida

Ordo                : Asparagales

Famili             : Asphodelaceae

Genus             : Aloe L.

Spesies           : Aloe vera L.

Lidah buaya memiliki ciri-ciri morfologi pelepah daun yang runcing dan permukaan yang lebar, berdaging tebal, tidak bertulang, mengandung getah, permukaan pelepah daun dilapisi lilin, bersifat sekulen, berat rata-rata per pelepah adalah sekitar 0,5-1 kg dan tinggi 45-50 cm. Masa panen lidah buaya sekitar 10-12 bulan setelah tanam, sehingga dalam satu tahun tanaman ini dapat dipanen sebanyak 4 kali (3 bulan sekali). Tanaman lidah buaya ini akan terus menghasilkan pelepah daun hingga 7-8 tahun dan (Furnawanthi, 2002).

Jika daun dilepas dari tanaman, maka akan keluar getah yang berwarna agak kekuningan di bagian yang terluka. Daun lidah buaya mengandung gel yang apabila daun tersebut dikupas akan terlihat lendir yang mengeras yang merupakan timbunan cadangan makanan (Sudarto, 1997). Daun lidah buaya sebagian besar berisi pulp atau daging daun yang mengandung getah bening dan lekat. Sedangkan bagian luar daun berupa kulit tebal yang berklorofil.

 

Gel Lidah Buaya

Menurut Yaron (1991), bahwa pelepah tanaman Aloe vera L. ini terdiri dari beberapa bagian utama, yakni  mucilage gel dan exudate (lendir). Bagian utama  mucilage gel terdiri atas berbagai macam polisakarida (glucomannan, acetylated glucomannan, acemannan, galactogalacturan, dan galactoglucoarabinomannan), mineral (calcium, magnesium, potassium, sodium, iron, zinc, dan chromium), protein (enzim pectolytic, aloctindan lectin (glikoprotein), serta jenis protein lain), ß- sitosterol, hidrokarbon rantai panjang, dan ester. Bagian utama exudate (lendir) terdiri atas yellow sap (lendir berwarna kuning) dan lendir tidak berwarna.  Yellow sap mengandung berbagai komponen seperti anthraquinone beserta turunannya, aloin (barbaloin), dan aloe-emodin, sedangkan lendir tidak berwarna mengandung berbagai jenis komponen fenolik.

Gel lidah buaya ini tidak berwarna dan berbau, tidak mempengaruhi rasa atau rupa dari buah, aman digunakan, alami serta aman bagi lingkungan. Gel lidah buaya yang terdiri dari polisakarida, berperan menghalangi kelembaban dan oksigen yang dapat mempercepat pembusukan makanan. Gel ini juga mengandung antibiotik dan anti cendawan yang berpotensi memperlambat atau menghalangi mikroorganisme yang mengakibatkan keracunan makanan pada manusia (Reynolds dan Dweck, 1999).

 

Komposisi Gizi dan Kandungan Gel Lidah Buaya

Komposisi terbesar gel lidah buaya adalah air, yaitu 99.20% sisanya adalah padatan yang terutama terdiri dari karbohidrat, yaitu mono dan polisakarida. Polisakarida gel lidah buaya terutama terdiri dari glukomanan serta sejumlah kecil arabinan dan galaktan. Monosakaridanya berupa D-glukosa, D-manosa, arabinosa, galaktosa dan xylosa (Setiabudi, 2008).

Secara kuantitatif, protein dalam lidah buaya ditemukan dalam jumlah yang cukup kecil, akan tetapi secara kualitatif protein gel lidah buaya kaya akan asam-asam amino essensial terutama leusin, lisin, valin, dan histidin. Selain kaya akan asam-asam amino essensial, gel lidah buaya juga kaya akan asam glutamate dan asam aspartat. Vitamin dalam lidah buaya larut dalam lemak, selain itu juga terdapat asam folat dan kolin dalam jumlah kecil (Setiabudi, 2008). Komposisi kimia gel lidah buaya per 100 gram dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Komposisi Kimia Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.)

Komponen

Kadar

Energi (Kal)

1,73 – 2,30

Protein (gr)

0,10 – 0,06

Lemak (gr)

0,05 – 0,09

Karbohidrat (gr)

0,30

Kalsium (mg)

9,92 – 19,920

Besi (mg)

0,060 – 0,320

Vitamin A (IU)

2,00 – 4,60

Vitamin C (mg)

0,50 – 4,20

Thiamin (mg)

0,003 – 0,004

Riboflavin (mg)

0,001 – 0002

Niasin (mg)

0,038 – 0,040

Serat (gr)

0,30

Abu (gr)

0,10

Kadar Air (gr)

99,20

Sumber : Departemen Kesehatan R.I (1992)

Dari segi kandungan nutrisi, gel atau egene, lidah buaya mengandung beberapa mineral seperti kalsium, magnesium, kalium, sodium, besi, zinc, dan kromium. Beberapa vitamin dan mineral tersebut dapat berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami, seperti fenol, flavonoid, vitamin C, vitamin E, vitamin A, dan magnesium. Antioksidan ini berguna untuk mencegah penuaan dini, serangan jantung, dan berbagai penyakit degeneratif (Astawan, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian, lidah buaya diketahui banyak mengandung zat nutrisi seperti asam amino, mineral, vitamin, sterol, tanin, polisakarida (pektin, glukoman, glukomanan) dan enzim serta zat bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, sebagaimana tercantum dalam Tabel berikut :

Tabel  Zat-zat yang terkandung dalam Gel Lidah Buaya

Zat

Kegunaan

Vitamin B1, B2, Niasinamida, B6, cholin, asam folat

 

Bahan penting untuk menjalankan fungsi tubuh secara normal dan sehat.
Asam amino Bahan untuk pertumbuhan dan perbaikan dan untuk sintesa bahan lain.

 

Enzim oksidase, amylase, katalase, lipase, protease Mengatur proses kimia dalam tubuh dan menyembuhkan luka dalam dan luar.

 

Selulosa, glukosa, mannose, aldopentosa, ramnosa

 

Mengatur proses kimia dalam tubuh dan menyembuhkan luka dalam dan luar
Lignin Mempunyai kemampuan penyerapan yang tinggi, sehingga memudahkan peresapan gel ke kulit

 

Saponin Mempunyai kemampuan membersihkan dan bersifat antiseptik, bahan pencuci yang sangat baik

Sumber : Furnawanthi (2003)

 

Komponen Bioaktif Gel Lidah Buaya

Zat yang terkandung dalam gel lidah buaya tersebut memiliki aktivitas antara lain sebagai antimikroba, penurun kolesterol darah, antidiabetes, antikanker, antivirus, antijamur, antioksidan, mencegah chilling injury, serta dapat menyembuhkan luka dan mencegah peradangan (anti-inflammatory). Lidah buaya merupakan tanaman yang bermanfaat bagi kesehatan serta memiliki kemampuan lain yang dapat dimanfaatkan untuk memperpanjang umur simpan buah dan sayuran (Reynolds dan Dweck, 1999).

Lidah buaya mengandung beberapa senyawa bioaktif, diantaranya adalah: gliko-protein (Yagi et al.,1997), senyawa-senyawa fenolik seperti aloe-emodin (AE), aloin, barbaloin, suatu hydroxy-antrakinon (Susana et al., 2004), derivat-sakarida (acetylated mannose atau acemannan) yang berfungsi sebagai antiviral, prostaglandin dan asam-asam lemak (misalnya asam γ-linoleat) yang bersifat sebagai antiinflamasi, antialergi, anti pembentukan gumpalan platelet dan penyembuh luka serta enzim, asam amino,vitamin dan mineral. Senyawa bioaktif seperti fenolik dan emodin biasanya bersifat sebagai antioksidan dan labil sehingga mudah terurai atau kehilangan aktifitasnya. Komponen bioaktif yang terkandung dalam lidah buaya (Aloe vera L.) dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Komponen Bioaktif yang terkandung pada Lidah Buaya (Aloe vera L.)

Komponen bioaktif

Fungsionalitas

Acemannan 

 

Anti-inflammatory, wound healing, anti-kanker, anti-virus, UV sunburn
Glikoprotein Anti-diabetes, anti-kanker
Aloe emodin Anti-kanker, anti-oksidan, anti-mikroba
Lectin Anti-inflammatory, wound healing, anti-kanker
Aloin (Barbaloin) dan komponen fenolik Anti-mikroba , anti-oksidan
Alomicin Anti-kanker

Sumber : Reynolds dan Dweck (1999).

Penggunaan gel lidah buaya telah diaplikasikan di industri pangan sebagai ingredien pangan fungsional, dan salah satunya dengan menjadikan gel lidah buaya berpotensi sebagai bahan untuk membentuk edible film alami. Hasil penelitian Valverde et al. (2005) membuktikan bahwa gel lidah buaya sebagai edible dapat berperan baik dalam menahan laju respirasi dan beberapa perubahan fisiologis akibat proses pematangan pada buah anggur selama penyimpanan, karena gel tersebut terdiri dari polisakarida yang mampu mereduksi aktivitas enzim, menghambat transfer gas CO2 dan O2, serta mengandung banyak komponen fungsional yang mampu menghambat kerusakan produk pasca panen. Selain itu, senyawa antimikroba yang terkandung dalam gel lidah buaya ternyata mampu mencegah poliferasi mikroba pada buah anggur tersebut.

Ada pula teori yang menyebutkan telah menemukan kandungan zat aktif dalam lidah buaya yang dapat berfungsi sebagai antimikroba, mengurangi racun, bahan laksatif dan mempunyai kandungan antibiotik seperti kompleks anthraquinone, aloin, barbaloin, aloe emodin dan acemannan.

Menurut Setiabudi (2008), cairan lidah buaya mengandung unsur utama, yaitu aloin, emodin, gum dan unsur lain seperti minyak atsiri. Setiabudi (2008) menyatakan bahwa aloin merupakan bahan aktif yang bersifat sebagai antiseptik dan antibiotik. Senyawa aloin merupakan kondensasi dari aloe emodin dengan glukosa. Senyawa ini mempunyai rasa getir yang ditentukan pertama kali oleh Smith pada tahun 1841. Selain itu, kandungan aloin pada Aloe Vera sebesar 18-25%, Aloe perryi sebesar 7,5-10% dan Aloe ferox Miller sebesar 9-24,5%, serta senyawa tersebut bermanfaat untuk mengatasi berbagai macam penyakit seperti demam, sakit mata, tumor, penyakit kulit dan obat pencahar.

Jenis-Jenis Nanas

19 May 2015
Comments Off on Jenis-Jenis Nanas

Jenis-Jenis Nanas

Berdasarkan bentuk daun dan buah dikenal 4 jenis nanas, di antaranya Cayenne (daun halus, tidak berduri, buahnya cukup besar dibanding jenis Queen), Queen (daun pendek, berduri tajam, buah berbentuk lonjong), spanyol atau spanish (daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah bulat dengan mata datar), dan Abacaxi (daun panjang berduri kasar, buah berbentuk silindris, atau seperti piramida). Jenis nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayenne dan Queen, sementara itu, golongan Spanish dikembangkan di kepulauan India Barat, Puerto Rico, Mexico, dan Malaysia. Terdapat dua varietas yang sudah lama dikembangkan di Indonesia yaitu nanas Queendan nanas SmoothCayenne (Sobir, 2009).

Nanas Queenbanyak ditanam di kawasan Bogor dan Palembang. Nanas Queen memiliki rasa yang lebih manis daripada nanas Cayenne dan memiliki daun yang berduri. Nanas Queenumumnya ditanam di dataran rendah, sedangkan nanas Cayenne ditanam luas di dataran tinggi. Namun khusus untuk nanas Cayenne yang ditanam di daerah Subang, buahnya lebih manis daripada nanas Queen dan nanas jenis Cayenne yang ditanam di daerah lain.

Beberapa jenis nanas memiliki karakteristik buah masing-masing yang berbeda. Nanas dengan varietas Queen memiliki karakteristik buah dengan flavor baik, rapuh tidak banyak serat pada daging buahnya, warna daging buahnya kuning tua, dan bentuk buah bulat. Sedangkan kekurangannya adalah buahnya termasuk kecil tidak sebesar Cayenne. Varietas Cayenne memiliki karakteristik buah besar dan berat, mata datar (cawan bunga tidak dalam), warna daging buah pada musim kemarau kuning, kandungan gula tinggi, dan daunnya tidak berduri, sedangkan kelemahannya adalah pada saat musim hujan, warna daging buah kuning pucat, kandungan gula rendah, asam tinggi, dan aromanya hambar (Santoso, 2000).

Produktivitas Nanas

Di kabupaten Blitar nanas yang banyak dikembangkan dari varietas Queen dengan nama nanas ponggok yang diambil dari nama kecamatan dimana nanas tersebut sebagian besar ditanam. Nanas ponggok saat ini dikembangkan di Kecamatan Ponggok pada lahan tegal maupun pekarangan dengan tingkat populasi per-hektar. Antara 60-70 ribu rumpun, dengan jenis tanah regusol dengan tekstur berpasir, ketinggian 177 mdpl dengan curah hujan rata-rata 102 mm per-bulan. Dengan pH tanah 5-6 dan suhu rata-rata 27-32°C (DEPTAN, 2008).

Tabel Keragaan Luas Panen dan Produksi Nanas di Kabupaten Blitar Tahun 2005-2009

No

Tahun

Jumlah Tanaman

(Rumpun)

Luas Panen

Produksi

Rumpun

Ton

1

2005

102,229,211

49,157,532

29,556

2

2006

75,313,526

32,374,894

19,291

3

2007

43,767,012

33,289,528

22,152

4

2008

42,604,949

1,965,982

1,074

5

2009

29,745,193

13,924,067

9,544

Sumber: Departemen Pertanian Kota Blitar .

Desa Sempu, Sugihwaras, dan Manggis merupakan desa dengan perkebunan nanas. Desa Sempu memiliki luas 1350 ha, dengan ketinggian 650-700 mdpl, curah hujan sedang, suhu rata-rata harian 25°-26°C.Desa Sugihwaras memiliki suhu rata-rata harian 27°C, ketinggian tempat 700-800 mdpl, dan curah hujan sedang. Desa Manggis memiliki suhu rata-rata harian yaitu 27°-30°C, curah hujan 850-1500 mm (sedang), dan ketinggian tempat 400 mdpl. Ketiga desa tersebut sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan buruh tani nanas (Amandari, 2011).

Luas lahan pertanaman nanas yang dimiliki Desa Sugihwaras yaitu 200 ha dengan hasil panen 10 ton/ha, Desa Manggis 212 ha dengan hasil panen dapat mencapai 36 ton/ha, sedangkan Desa Sempu 125 ha denganhasil panen mencapai 40 ton/ha.Lahan pertanaman nanas di Kecamatan Ngancar merupakan areal pertanaman yang terluas dibandingkan dengan komoditas lainnya. Sehingga kecamatan Ngancar ini merupakan salah satu daerah penghasil nanas di Pulau Jawa selain kota Bogor, Subang, dan lain-lain (Amandari, 2011).

Tanaman Nanas

18 May 2015
Comments Off on Tanaman Nanas

Tanaman Nanas

Nanas sejenis tumbuhan tropis dan berada dalam kumpulan bromeliad (Famili Bromeliaceae), termasuk jenis tumbuhan yang rendah seperti herba (herbaceous perennial) dengan 30 atau lebih daun yang panjang, tajam mengelilingi batangnya yang tebal. Nanas berwarna hijau sebelum masak dan berubah menjadi hijau kekuningan apabila masak.Kulit buahnya bersisik dan “bermata” banyak.Selain dikenal sebagai sumber vitamin C, buah nanas mengandung protein, asam organik, dan dektrosa (Juansah dkk, 2009).Klasifikasi ilmiah nanas adalah sebagai berikut(Prihatman (2000):

Kingdom        : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi               : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Kelas               : Angiospermae (berbiji tertutup)

Ordo                : Farinosae (Bromeliales)

Famili              : Bromiliaceae

Genus              : Ananas

Species           : Ananas comosus (L) Merr.

Nanas mengandung serat yang berguna untuk membantu proses pencernaan. Serat dari 150 gram nanas setara dengan separuh dari jeruk, selain itu kandungan vitamin dan mineral menjadikan nanas sumber yang baik untuk vitamin C dan berbagai macam vitamin lainnya.Asam chlorogen, yaitu antioksidan yang banyak terdapat di buah-buahan juga dapat ditemukan pada nanas (Winastia, 2011).Komposisi kimia buah nanas menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan di luar negeri dapat dilihat pada Tabel.

Tabel Komposisi kimia buah nanas yang telah dikupas dan telah dihilangkan hati buahnya (%)

Bahan

1

2

3

4

5

Zat padat total

14,2

12,5

13,8

16,1

Zat padat tidak larut

1,82

1,57

2,10

Protein

0,42

0,49

0,50

0,44

0,49

Asam

0,86

1,06

1,06

1,79

Gula total

11,9

9,92

12,1

9,41

Gula reduksi

3,91

4,23

3,36

Sakarosa

7,59

7,88

5,74

Serat kasar

0,33

Abu

0,40

0,51

0,36

0,70

Sumber: Endang dan Mulyati (2005)

Komposisi  kimia  buah nanas  menurut  Direktorat  Gizi Departemen  Kesehatan  dapat  dilihat pada Tabel.

Tabel Komposisi Nanas Menurut Direktorat Gizi Departemen Kesehatan

Bahan

Komposisi

Kalori 52 kal
Protein 0,4%
Lemak 0,2%
Karbohidrat 13,7%
Kalsium 16 mgr/100 gr
Fosfor 11 mgr/100 gr
Besi 0,3 mgr/100 gr
Vitamin A 130 IU/100 gr
Vitamin B1 0,08 mgr/100 gr
Vitamin C 24 mgr/100 gr
Air 85,3%

Sumber: Direktotar Gizi Departemen Kesehatan (2005)

Standar mutu nanas yang dijadikan acuan untuk menghasilkan mutu buah nanas yang baik adalah seperti pada Tabel.

Tabel Standar Mutu nanas var Ponggok (Ananas comosus L. Merr)

No

Kriteria

Standar Grade

Super

A

B

C

1

Panjang Buah (cm)

 ≥17,0

14-16,9

10-13,9

≤9,9

2

 Bobot (kg)

≥0,9

 0,7-0,89

  0,4-0,69

≤0,4

3

 Mahkota (cm)

 ≥10,0

 ≥10

  ≥10

 ≥10

4

 Tangkai Buah (cm)

 2-4

 2-4

 2-4

 2-4

5

 Kadar Gula/Brix (%)

 11-15

 11-15

 11-15

 11-15

6

 Warna Kulit Buah

 Agak Kuning

 Agak Kuning

Agak Kuning

Agak Kuning

Sumber: Departemen Pertanian Kota Blitar (2008)

Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

15 May 2015
Comments Off on Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

 Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Açaí pada umumnya dikenal sebagai açaí berry dan merupakan buah yang tumbuh di hutan hujan Amazon, Brazil. Açaí tumbuh terutama di dataran Sungai Amazon dan anak-anak sungainya, seluas lebih dari 12 juta hektar. Hingga 7.000 pohon dapat tumbuh per hektar yang membentuk kanopi yang melindungi tanaman dari radiasi sinar matahari (Schauss, 2006a).

Klasifikasi dari buah Açaí adalah sebagai berikut :

Kingdom             : Plantae

Sub kingdom     : Tracheobionta

Super divisi        : Spermatophyta

Divisi                  : Magnoliophyta

Kelas                  : Monocotyledons

Sub kelas           : Arecidae

Ordo                  : Arecales

Famili                 : Arecaceae/Palmae

Genus                : Euterpe Mart.

Spesies              : Euterpe oleracea Mart.

Buah açaí pada mulanya hanya dikonsumsi oleh penduduk lokal, namun sekarang keberadaannya telah menyebar hampir ke seluruh dunia. Schauss (2006a) menyatakan bahwa buah açaí memiliki tampilan menyerupai buah anggur tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil, bulat, berwarna hitam-ungu, dan setiap cabang terdiri dari 500-900 buah. Exocarp dari buah matang berwarna ungu atau hijau tergantung dari jenis dan tingkat kematangan buah. Mesocarp buah ini lembek dan tipis dengan ketebalan 1 mm. Buah açaí berukuran 2,5 cm yang terdiri dari 87% berupa biji, 13% pulp dan kulit. Buah açaí pulp telah mendapat banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena kapasitas antioksidan yang sangat tinggi dan perannya sebagai pangan fungsional. Freeze dried açaí pulp memiliki nilai antioksidan yang tinggi yang diukur dengan ORAC sebesar (1,027 mmol TE/g) (Schauss, 2006a). Perbandingan kapasitas total antioksidan dari beberapa buah dan berry dapat dilihat pada Tabel

Tabel Total Antioxidant Capacity (TAC) per takaran

Jenis Buah

Kadar air (%)

TAC (mmol TE/g)

Takaran Saji (g)

TAC per takaran

Açaí pulp

60,0

410,80

145

59,566

Blueberry

85,0

62,20

145

9,019

Cranberry

87,1

94,56

95

8,983

Blackberry

86,9

53,48

145

7,701

Raspberry

85,8

49,25

123

6,058

Strawberry

91,1

35,77

166

5,938

Apel

85,7

38,99

138

5,381

Alpukat

72,0

19,33

173

3.344

Sumber : (Schauss, 2006a)

 

Kandungan Buah Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Pulpbuahaçaímengandungproteinsekitar 2,4% dan5,9% lemak. Analisisasam lemak menyebutkan bahwa asam lemak tak jenuh tunggal oleat merupakan komponen lemak utama yakni 56,2%, asam lemakjenuh palmitat24,1%, danasam linoleat12,5% (Schauss, 2006b). Schauss (2006b) juga menyebutkan bahwa buah açaí juga kaya akan kandungan asam amino antara lain: alanine, arginin, asam aspartate, sistin, asam glutamate, glisin, histidin, hidroksiprolin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, prolin, serin, threonine, tirosin, dan valin.

Kandungan mineral dalam buah açaí yakni boron, kalsium, kromium, tembaga, iodin, besi, magnesium, mangan, potassium, selenium, sodium, dan zinc. Selain ditemukan berbagai macam mineral, pada buah acai juga tinggi kandungan vitamin yakni biotin, asam folat, inositol, asam pantotenik, vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, C, D, dan E (Schauss, 2006b).

Analisis fenolat buah açaí ditemukan  antosianin3-glikosida, asam ferulic, epicatechin, asam benzoatp-hidroksi, asam galat,asam,catechin, asam ellagic, asamvanilatprotocatechuic,p-coumaric, dan gallotanin (Del Pozo, 2004).

Tabel Kandungan senyawa fitokimia Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Komposisi Senyawa Fitokimia Buah Açaí

Beta-sitosterol Homoorietin
Campesterol Isoquercitin
Catechin Isovitexin
Coumeric acid Kaempferol
Cyanidin-3-glucoside Luteolin
Cyanidin-3-rutoside Luteolin-4-glucoside
Cyanidin-3-diglyside Methyl-derivative of homoorientin
Cyanidin-3-O-rutinoside Myricetin
Cyanidin-3-glucoside-coumaraterutinoside Orientin
Deoxyhexose Proanthocyanin
Epicatechin Protocatchuric acid
Eriodictyol Protocatechic acid
Eriodictyol-7-glucoside Pterostilbene
Eurpatorin Quercitin-3-arabinoside
Ferulic acid Resveratrol
Flavanols Sigmasterol
Flavonoids Taxifolin
Flavonols Vanilic acid
Gallic acid  

Sumber : (Schauss, 2006a)

 

Manfaat Buah Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Penelitian yang telah dilakukan pada Açaí pulp ditemukan adanya kandungan polifenol yang relatiftinggi misalnya flavonoid terutama proantosianin dan dalam tingkat yang lebih rendah yakni antosianin (cyandin3-glucoside dancyanidin3-rutinosida) serta karotenoid, dan asam askorbat (Del Pozo, 2004; Rodrigues, 2006; Schauss, 2006b; Pacheco, 2008; Chin, 2008). Açaí pulp juga memiliki aktivitas antioksidan yang relatif kuat yakni sebagai scavenger ROSsepertisuperoksida(O2) danperoksil(ROO-) radikal, yangberkontribusiuntukpencegahanbeberapa penyakitinflamasiseperti penyakit tidak menular(diabetes, arthritis, kanker) (Lichtenthäler, 2005; Rodrigues, 2006; Pacheco, 2008; Chin, 2008). Kandungan antioksidan yang relatif tinggi menjadikan buah acai banyak digunakan sebagai pangan fungsional dalam upaya pencegahanpenyakitdan terapi.

Manfaat kesehatanAçaí yang didasarkanpada studieksperimental potensiterhadap:

  1. Inflamasi, misalnya penghambatan NF-KB dan jalur MAPK, penghambatan aktivitas Cy-clooxygenase (COX) (Schauss, 2006a; Xie, 2012)
  2. Penuaan, yakni ditunjukkan dengan memperpanjang umur lalat dengan diet tingga asam lemak jenuh atau kekurangan enzim antioksidan SOD. Selain itu, secara dermatologis dapat melawan gangguan psioriasis dan  dermatitis atopic, serta perawatan kecantikan (Baumann, 2009; Sun 2010).
  3. Kanker, misalnya yang disebabkan oleh apoptosis sel leukemia atau kanker usus besar secara in vivo (Del Pozo, 2006; Fragoso, 2013).
  4. Penyakit kardiovaskular yaitu efekvasodilatasidimediasi olehNitric Oxide(NO) /cyclicGuanosinMonophosphate(cGMP)/EndotelDerived HyperPolarizingFactor(EDHF) jalur, perbaikanprofillipid, dan peredamanaterosklerosis (Rocha, 2007; Feio, 2012).
  5. Sindrom metabolik, misalnya perbaikan profil lipid seperti pengurangan LDL-kolesterol dan peningkatan post-prandial dengan peningkatan glukosa plasma setelah makan, pencegahandan pengendalian Type-2 Diabetes tipe 2 melalui mekanisme Fenofibrate drug-like molecularyang melibatkan Phosphophenolpyruvate Carboxykinase (PEPCK) (Sun, 2010; Udani, 2011).
  6. Infeksi, misalnya melalui stimulus respon kekebalan (Holderness, 2011; Skyberg, 2012)
  7. Nyeri, misalnya pengurangan C-Reactive Protein (C-RP) pada manusia (Jensen, 2011).
  8. Kerusakan DNA, misalnya dengan penurunan kerusakan yang disebabkan oleh obat-obatan doxorubicin dalam eritrosit mencit dan yang dihasilkan oleh H2O2 dalam jaringan otak dan melalui aktivitas antioksidan (Spada, 2009; Ribeiro, 2010)

Daun Sirsak (Annona muricata L)

13 May 2015
Comments Off on Daun Sirsak (Annona muricata L)

Daun Sirsak (Annona muricata L)

Tanaman sirsak termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, apabila air tanah mencukupi selama pertumbuhannya. Di Indonesia tanaman sirsak menyebar dan tumbuh baik mulai dari dataran rendah beriklim kering sampai daerah basah dengan ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut (Radi, 1998).

Klasifikasi dari tumbuhan sirsak adalah sebagai berikut:

Kingdom           : Plantae

Divisi                  : Spermatophyta

Sub divisi           : Angiospermae

Kelas                  : Dicotyledonae

Ordo                  : Polycarpiceae

Famili                 : Annonaceae

Genus                : Annona

Spesies              : Annona muricata L. (Sunarjono, 2005)

Daun sirsak berwarna hijau muda sampai hijau tua memiliki panjang 6-18 cm, lebar 3-7 cm, bertekstur kasar, berbentuk bulat telur, ujungnya lancip pendek, daun bagian atas mengkilap hijau dan gundul pucat kusam di bagian bawah daun, berbentuk lateral saraf. Daun sirsak memiliki bau tajam menyengat dengan tangkai daun pendek sekitar 3-10 mm (Radi, 1998). Menurut Zuhud (2011), daun yang berkualitas adalah daun sirsak dengan kandungan antioksidan yang tinggi terdapat pada daun yang tumbuh pada urutan ke-3 sampai ke-5 dari pangkal batang daun dan dipetik pukul 5-6 pagi. Daun yang terlalu muda belum banyak acetogenin yang terbentuk, sedangkan kadar acetogenins pada daun yang terlalu tua sudah mulai rusak sehingga kadarnya berkurang.

 

Kandungan Kimia Dalam Daun Sirsak (Annona muricata L.)

Daun sirsak memiliki kandungan kimia berupa alkaloid, tannin, dan beberapa kandungan lainnya termasuk senyawa annonaceous acetogenins. Annonaceous acetogenins merupakan senyawa yang memiliki potensi sitotoksik. Senyawa sitotoksik merupakan senyawa yang dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker (Mardiana, 2011). Menurut Robinson (1995), kandungan senyawa dalam daun sirsak antara lain steroid/terpenoid, flavonoid,kumarin, alkaloid, dan tanin. Senyawa flavonoidberfungsi sebagai antioksidan untuk penyakitkanker, anti mikroba, anti virus, pengaturfotosintetis, dan pengatur tumbuh (Robinson, 1995).

 

Manfaat Daun Sirsak (Annona muricata L.)

Daun sirsak dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif untuk pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak. Selain untuk pengobatan kanker, tanaman sirsak juga dimanfaatkan untuk pengobatan demam, diare, antikejang, anti jamur, anti parasit, antimikroba, sakit pinggang, asam urat, gatal-gatal, bisul, flu, dan lain-lain (Mardiana, 2011). Menurut Adewole dan Martin (2006) dalam Restuati (2013) menemukan bahwa daun sirsak memiliki efek yang bermanfaat dalam meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan hormon insulin pada jaringan pankreas serta melindungi dan menjaga sel-sel β-pankreas. Menurut Holdsworth (1990) dalam Restuati (2013) juga menyebutkan bahwa daun sirsak juga berpotensi sebagai antihipertensi, antispasmodik, obat pereda nyeri, hipoglikemik, antikanker, emetic (menyebabkan muntah), vermifuge (pembasmi cacing).

Pada daun sirsak ditemukan senyawa acetogenin yang bermanfaat mengobati berbagai penyakit. Acetogenin memiliki sitotoksisitas terhadap sel kanker. Acetogenin berperan serta dalam melindungi sistem kekebalan tubuh serta mencegah infeksi yang mematikan (Erlinger, 2004). Hasil riset menyatakan, sirsak mengandung acetogenin yang mampu melawan 12 jenis sel kanker. Banyaknya manfaat sirsak membuat orang mulai beralih mengonsumsi suplemen herbal daun sirsak sebagai alternatif pencegahan dan pengobatan konvensional (Adjie, 2011). Pada daun sirsak, telah ditemukan 18 jenis annonaceous acetogenin dan telah terbukti secara in vitro bersifat sitotoksik (Zeng et al, 1996). Menurut Putu (2012), para peneliti di Taiwan tahun 2003 juga melaporkan bahwa kandungan asetogenin daun sirsak (Annona muricata L.) memiliki sifat toksik yang tinggi terhadap sel kanker ovarium, serviks, dan sel kanker kulit pada dosis rendah. Acetogenins sering disebut sebagai inhibitor I atau penghambat pertumbuhan sel kanker paling kuat (Zuhud, 2011). Chang (1998) dalam Restuati (2013) menyatakan bahwa pada tumbuhan Annonaceae terdapat senyawa metabolit sekunder berupa acetogenin yang dapat mengobati penyakit kanker yaitu pada Hep 2,2,15 (human hepatoma cell transfected HBV), Hep. G2 (human hepatoma cell), KB (human nasophryngeal carcinoma) and CCM2 (human colon tumor cell).

Tepung Ubi kelapa

12 May 2015

Tepung Ubi kelapa

Umbi ubi kelapa segar sulit dalam penyimpanannya oleh karena itu perlu diolah menjadi tepung (Jimoh et al., 2009). Tepung dapat dengan mudah disimpan untuk jangka waktu yang lama dan mudah digunakan dalam pembuatan makanan atau untuk diformulasikan (Hsu et al, 2002). Pada prinsipnya pembuatan tepung ubi kelapa sama dengan pembuatan tepung pada umumnya. Kadar air tepung sekitar 10%, kadar air yang rendah ini membuat tepung tahan disimpan beberapa bulan dalam kemasan plastik rapat. Tepung ubi kelapa dapat digunakan seperti tepung lainnya seperti bahan baku atau bahan substitusi dalam produk roti/kue dan mie. Tepung ubi kelapa ini tidak mengandung gluten seperti pada tepung terigu, sehingga untuk pembuatan produk roti tawar dan mie perlu dicampur dengan tepung terigu (Antarlina dkk, 2013).

Pati ubi kelapa sama seperti pati dari sumber yang lain merupakan polimer yang terdiri dari dua jenis polimer yaitu amilosa dan amilopektin. Struktur serta jumlah amilosa dan amilopektin berperan dalam menentukan sifat fisiko kimia seperti gelatinisasi, viskositas, retrogradasi, kelarutan, swelling power dan daya serap air serta sifat amilografi (Indrastuti, 2012). Kadar pati merupakan salah satu kriteria mutu untuk tepung, baik sebagai bahan pangan maupun non-pangan. Pada umbi-umbian umumnya berkadar pati sangat tinggi, dan berkadar amilosa tinggi sehingga mempunyai kekuatan ikatan hidrogen yang lebih besar karena jumlah rantai lurus yang besar dalam granula, sehingga membutuhkan energi yang lebih besar untuk gelatinisasi (Baah, 2009).

Komposisi kimia tepung ubi kelapa tergantung pada umbi (lingkungan tumbuh, umur, metode penyimpanan dan varietas) dan metode pengeringan (Indrastuti, 2012). Perbedaan komposisi kimia tepung ubi kelapa secara umum diuraikan pada tabel 2.2

Tabel Komposisi kimia tepung ubi kelapa dari berbagai penelitian

Komposisi Bahan

Kadar (%)a

Kadar (%)b

Kadar (%)C

Protein

5,26

10,2 – 11,2

3,03 – 4,59

Lemak

0,29 – 0,30

0,30 – 0,50

Abu

3,96 – 3,92

1,88 – 2,68

Kadar Air

9,52

0,60 – 7,33

5,21 – 15,15

Pati

70,15

62,94 – 74,37

Amilosa

33,06

26,67 – 33,28

Sumber: a Aprianita (2010)

b Hsu et al. (2003)

c Adegunwa et al. (2011)

Ubi kelapa (Dioscorea alata L.)

11 May 2015

Ubi kelapa (Dioscorea alata L.)

            Ubi kelapa merupakan nama umum atau nama dagang untuk Dioscorea alata L. atau yang memiliki nama daerah seperti uwi (Jawa), ubi alabio (Kalimantan Selatan), dan huwi (Sunda). Ubi kelapa merupakan tanaman perdu merambat dengan panjang mencapai 3 – 10 m. Tanaman ini memerlukan tiang panjat agar dapat tumbuh ke atas dan daunnya dapat melakukan proses fotosintesa dengan baik. Bentuk ubi tanaman ini beragam yaitu bulat, panjang dan ada yang bercabang. Meskipun jenis ubi kelapa cukup banyak, namun secara nyata dapat dibedakan dari warna daging ubinya yaitu ubi merah/ungu (violet) dan ubi putih (Anonymous, 2002). Kulit umbi bagian luar berwarna coklat atau coklat kehitaman dengan permukaan kasar dan ditumbuhi oleh serabut akar dalam jumlah bervariasi dan penyebarannya tidak merata (Kay, 1973). Sebagian besar umbi ubi kelapa mempunyai lapisan tipis yang keras di bawah kulit umbi (Onwueme, 1978).

Tanaman ubi kelapa sendiri memiliki kurang lebih 630 spesies yang telah dikenal dari berbagai negara (Jayasuriya, 1995). Ubi kelapa (Dioscorea alata) merupakan jenis tumbuhan yang umumnya dijumpai di daerah tropis lembab dan agak lembab dengan curah hujan tahunan berkisar 1.000 – 1.500 mm. Tanaman ubi kelapa terutama tumbuh pada tanah yang memiliki lapisan atas tebal, gembur dan kaya akan unsur hara, namun demikian pada umumnya tanaman ubi kelapa dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah (Anonymous, 2009). Ubi kelapa lokal yang paling banyak dijumpai di beberapa daerah di Indonesia merupakan ubi kelapa dari jenis Dioscorea alata, seperti yang diungkapkan oleh Martin and Rhodes (1977) bahwa Indonesia merupakan negara kedua pusat variasi dari tanaman ini setelah Papua New Guinea di Asia Tenggara.

Beberapa daerah di Indonesia, tanaman ubi kelapa biasanya tumbuh liar di hutan-hutan atau sebagai tanaman tumpang sari yang kurang mendapat perawatan. Biasanya petani menanam ubi kelapa sebagai tanaman sampingan, dan sebagai tanaman pangan yang sengaja ditanam diperkarangan rumah penduduk atau lahan pekarangan bersama tanaman atau pohon lain sebagai tempat merambat ubi kelapa. Tanaman berbiji ini biasanya ditanam pada awal musim hujan, yaitu pada bulan November – Januari dalam bentuk tunas yang tumbuh dari umbinya. Pemanenan umbi ubi kelapa biasanya dilakukan setelah tanaman berusia 10 -12 bulan, dan masa panen tanaman ini dilakukan pada saat daunnya menguning dan warna batangnya memucat atau tanaman mulai mati yang biasanya terjadi pada musim kemarau (Sutomo, 2006). Tanaman ini dapat menghasilkan umbi yang besar dan bisa dimanfaatkan menjadi beragam makanan. Setiap tanaman bisa menghasilkan satu atau lebih umbi ubi kelapa dengan berat mencapai 25 – 30 kg.

Berikut klasifikasi ilmiah tanaman ubi kelapa (Setyantoro dan Walokosari, 2012):

Kingdom          : Plantae

Subkingdom    : Tracheobionta

Super Divisi     : Soermatophyta

Divisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida (Monokotil)

Sub Kelas        : Liliidae

Ordo                : Liliales

Famili              : Dioscoreaceae

Genus             : Dioscorea

Spesies           : Dioscorea alata L.

Umbi dari tanaman ubi kelapa merupakan sumber karbohidrat potensial yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, khususnya di lahan rawa dan di daerah-daerah kering. Selain sebagai pangan pokok pendamping beras, ubi kelapa juga memiliki potensi sebagai bahan baku industri pengolahan pangan yang dapat menghasilkan berbagai produk olahan. Selain itu, dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan bagi petani dan alternatif penyediaan bahan pangan untuk mengurangi besaran konsumsi beras yang terus meningkat (Anonymous, 2006).

Kadar proksimat tertinggi dalam umbi ialah karbohidrat kurang lebih seperempat bagian dari berat umbi segar. Sebagian besar karbohidrat dalam bentuk pati yang terdiri dari amilosa dan amilopektin. Kadar amilosa dalam umbi ubi kelapa sekitar 19 – 20% (Martin, 1975). Granula pati berukuran agak besar yaitu 5 – 50 mikron. Temperatur gelatinisasi pati 69 – 88 oC. Selain pati terdapat gula dalam jumlah kecil. Jumlah gula dalam umbi ubi kelapa akan naik selama umbi belum berkecambah sehingga umbi dapat disimpan sampai terbentuknya rasa manis. Gula dalam umbi sebagian besar berada dalam bentuk sukrosa, glukosa dan fruktosa (Onwueme, 1978).

Kandungan protein dalam umbi ubi kelapa tidak terlalu besar. Onwueme (1978) melaporkan bahwa protein dalam umbi ubi kelapa rendah kandungan asam amino sulfur-nya. Martin (1975) juga melaporkan bahwa kandungan asam amino sulfur (metionin dan sistein) dalam protein umbi ubi kelapa agak rendah, tetapi asam amino yang lain cukup besar. Lemak dalam umbi ubi kelapa dapat diabaikan karena kandungannya sangat kecil. Selain air, karbohidrat, protein dan lemak, di dalam umbi ubi kelapa juga terkandung vitamin dan mineral. Vitamin yang ada di dalam umbi ubi kelapa yaitu vitamin B1, B2, dan vitamin C, sedangkan mineral yang terkandung adalah calsium, posphor dan besi (Onwueme, 1978). Ubi kelapa, sama seperti tanaman tingkat tinggi lainnya memiliki senyawa fitokimia yang kompleks. Senyawa fitokimia yang paling dominan adalah keberadaan alkaloid dioscorin dan saponin diosgenin. Dioscorin dan diosgenin secara tradisional dianggap beracun, tetapi senyawa ini dapat hilang dengan pencucian dan pemasakan (Poornima and Ravishankar, 2009).

Jika umbi ubi kelapa dipotong maka tidak lama kemudian akan terjadi proses pencoklatan pada permukaan umbi. Umbi ubi kelapa mengandung komponen polifenol yang menyebabkan permukaan umbi mejadi coklat jika umbi dipotong (Onwueme, 1978). Pencoklatan itu terjadi karena adanya komponen fenol yang merupakan substrat dari enzim fenolase dan karena adanya kontak dengan udara. Enzim fenolase akan mengubah senyawa polifenol menjadi senyawa melanoidin yang berwarna coklat (Apandi, 1984).

Tabel Komposisi zat gizi dalam 100 gram umbi ubi kelapa segar

Komposisi

Jumlah

Kalori (kal)

101

Protein (g)

2,0

Lemak (g)

0,2

Karbohidrat (g)

19,8

Kalsium (mg)

45

Fosfor (mg)

280

Besi (mg)

1,8

Vit B1 (mg)

0,10

Vit C (mg)

9

Air (g)

75,0

Sumber: Prawinegara (1996)

Next Page »