Monthly Archives: November 2016

Buah Pinang

14 November 2016

Hasil gambar untuk buah pinang

Tanaman pinang (Areca catechu L.) merupakan tanaman famili Arecaceae yang dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan batang tegak lurus bergaris tengah 15 cm. Pembentukan batang baru terjadi setelah 2 tahun dan berbuah pada umur 5-8 tahun tergantung keadaan tanah (Barlina, 2007). Contoh tumbuhan pinang dapat dilihat pada Gambar 2.1. Pinang dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu pinang putih (varietas alba) dan pinang hitam (varietas nigra). Varietas pinang yang tersebar luas di Indonesia umumnya varietas alba, yang disebut pinang putih dan jenis ini sering dibuat ramuan sirih-pinang oleh masyarakat didaerah Pulau Sumatera. Varietas nigra atau disebut dengan pinang hitam dengan ciri-ciri buah lebih kecil dari pada varietas alba (Depkes RI, 1989). Pada penelitian ini menggunakan jenis pinang putih (varietas alba) yang diperoleh dari pasar.

Tanaman pinang (Areca catechu L.) telah menyebar keseluruh pelosok Indonesia. Wilayah yang paling potensial untuk produksi pinang antara lain Provinsi Nangroe Aceh Darusalam, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Riau, Pulau Jawa umumnya, Kalimantan Barat, NTB, NTT, Gorontalo, dan papua (Barlina, 2007). Penyebaran terbesar dan sekaligus sebagai pengekspor biji pinang di Indonesia adalah Pulau Sumatera antara lain Propinsi Aceh dan Jambi.  Potensi pinang tidak kecil, sekitar 17.969,00 ha yang menyebar hampir di semua kabupaten, yaitu kabupaten Kerinci, Merangin dan kabupaten lainnya (2012).

Pinang memiliki nama daerah seperti pineng, pineung (Aceh), pinang (Gayo), batang mayang (Karo), pining (Toba),  batang pinang (Minangkabau), dan jambe (Sunda,Jawa) (Depkes RI, 1989). Pemanfaatan pinang menjadi produk pewarna alami merupakan salah satu upaya diversifikasi produk untuk meningkatkan nilai tambah biji pinang dan dapat memenuhi kebutuhan pewarna dalam negeri yang selama ini masih diimpor dari luar negeri. Biji buah pinang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, seperti pewarna kain, campuran kosmetika, obat dan pewarna makanan (Barlina, 2007).

Klasifikasi dari tanaman pinang menurut Syamsuhidayat dan Hutapea, (1991) adalah sebagai berikut :

Kingdom          : Plantae (Tumbuhan)

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas               : Liliospida (Monokotil)

Ordo                : Arecales

Family             : Arecaceae

Genus             : Areca

Spesies           : Areca catechu L

Kandungan Kimia Biji Pinang Sebagai Zat Pewarna Alami

Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0,3-0,6% alkaloid, seperti arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasi-ne. Selain itu biji pinang juga mengandung red tannin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji pinang mengandung tanin terkondensasi yang termasuk golongan flavonoid, tanin terhidrolisis yang memiliki ikatan ester dan dapat terhidrolisis dengan asam membentuk molekul yang lebih sederhana yaitu asam organik dan glukosida, flavan, senyawa fenolik, asam galat, getah, lignin, minyak menguap dan tidak menguap serta garam (Bogoriani, 2010). Analisis pinang di Filipina menyatakan bahwa buah pinang mengandung senyawa bioaktif yaitu flavonoid diantaranya tanin. Tanin merupakan substansi yang tersebar luas dalam tanaman, seperti daun, buah yang belum matang, batang dan kulit kayu (Heyne, 1987).

Pada penelitian Heyne (1987) menyatakan bahwa biji pinang segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid dibandingkan biji yang telah mengalami perlakuan, selain itu konsentrasi flavonoid dalam biji pinang menurun seiring dengan bertambahnya kematangan buah. Kandungan tanin pada biji pinang digunakan sebagai pewarna alami. Sifat kimia tanin antara lain merupakan senyawa kompleks dalam bentuk campuran polifenol yang sukar dipisahkan sehingga sukar mengkristal (Kasmudjo, 2010).

Sifat-sifat tanin yaitu memiliki rumus molekul C76H52O46 dan berat molekul yaitu 1701.22. Tanin juga memiliki titik leleh sebesar 305 ˚C dan titik didih 1271 ˚C. Tanin merupakan senyawa yang sukar dipisahkan dan memiliki kelarutan dalam etanol 0, 82 gr dalam 1 ml (70˚C) dan kelarutan dalam air 0,656 gr dalam 1 ml (70˚C) (Heyne, 1987). Lebih lanjut Meiyanto (2008) menyatakan bahwa tanin sebagai salah satu pewarna alami yang dimanfaatkan sebagai pewarna tekstil. Tanin menghasilkan warna kuning, coklat-coklat tua sampai coklat kemerahan. Tanin memiliki sifat antara lain dapat larut dalam air atau alkohol karena tanin banyak mengandung fenol yang memiliki gugus OH, dapat mengikat logam berat senyawa fenol dari  tanin yang mempunyai sifat pemberi  warna.

Proses pengambilan pigmen-pigmen penimbul warna yang berada didalam tumbuhan. Proses ekstraksi ini dilakukan dengan merebus bahan dengan pelarut air (Yulianti, 2013). Pembuatan zat pewarna alami atau pengambilan collouring matter adalah pengambilan warna dengan cara perebusan bahan baku. Pada penelitian Pan dkk., (2003) tentang pencelupan kain goni dari hasil ekstraksi kayu nangka dan daun kayu putih dengan metode perebusan dengan air mendidih selama 4 jam secara terpisah dan menghasilkan penyerapan warna yang baik. Ratyaningrum dan Giari (2005) jika menginginkan warna yang lebih pekat, ada 3 cara diantaranya larutan direbus lebih lama hingga volume air berkurang, semakin sedikit volume air rebusan yang tersisa berarti warna yang dihasilkan semakin pekat, memperpanjang masa perendaman saat dilakukan proses pencelupan dan mengulang pencelupan beberapa kali

Zat warna alami yang berasal dari tumbuhan berupa kayu, daun, kulit, akar, biji, bunga, dan buah dipotong kecil-kecil (kecuali bunga dan material yang sudah memiliki ukuran kecil), setelah itu melakukan proses ekstrak dengan perbandingan jika bahan baku daun adalah 1kg bahan baku : 10 liter air (Suheryanto, 2007).

Menurut Kun (2001) proses ekstraksi zat pewarna alam dibagi menjadi dua yaitu :

  1. Ekstraksi panas merupakan proses pengambilan zat warna alam yang dilakukan jika bahan baku yang digunakan adalah bahan yang lebih   lunak, misalnya daun, bunga, buah, dan rimpang.
  2. Ekstraksi dingin dilakukan jika bahan pewarna alam berbentuk kayu atau mempunyai kekerasan 2,5 (skala mohs). Ekstraksi dingin biasanya dilakukan sekitar 24 jam.