Monthly Archives: July 2016

Kayu Secang (Caesalpinia sappan L)

11 July 2016
Comments Off on Kayu Secang (Caesalpinia sappan L)

Hasil gambar untuk kayu secang

Secang atau Caesalpinia sappan L merupakan tanaman semak atau pohon rendah dengan ketinggian 5-10 m. Tanaman untuk termasuk famili Leguminoceae dan diketahui tersebar di wilayah Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika. Di Indonesia tanaman ini banyak tumbuh di Jawa, pada ketinggian 1-1700 dpl, ditanam sebagai pembatas, atau tumbuh liar secara lokal.

Menurut Holinesti (2009), tumbuhan secang yang memiliki nama ilimiah Caesalpinia sappan L. dikenal dengan bermacam-macam sebutan nama di berbagai daerah di Indonesia, antara lain : Seupeueng (Aceh), Sepang (Gayo), Sopang (Batak), Lacang (Minangkabau), Secang (Sunda), Kayu secang (Jawa Tengah), Kayu secang (Madura), Cang (Bali), Sepang (Sasak), Supa (Bima), Sepel (Timor), Hape (Sawu), Hong (Alor), Sepe (Roti), Kayu sema (Manado), Dolo (Bare), Sappang (Makasar), Sepang (Bugis), Sefen (Halmahera), Sawela (Halmahera utara), Sunyia (Ternate), dan Roro (Tidore).

Kayu secang sangat dikenal terutama di Sulawesi sebagai pemberi warna pada air minum yang dikenal sebagai teh secang. Kayu secang juga merupakan salah satu ramuan yang digunakan dalam pembuatan minuman tradisional Betawi bir pletok yaitu sebagai pemberi warna (Winarti dan Nurdjanah, 2005). Menurut Sundari dkk (1988), kayu secang memiliki rasa sedikit manis dan hampir tidak berbau dan sering juga digunakan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit. Kayu secang mengandung komponen yang memiliki aktivitas antioksidan dan antimikrobia.

Tumbuhan secang merupakan perdu dengan tinggi 5-10 m, batang dan percabangannya berduri tempel yang bentuknya bengkok dan letaknya tersebar, batang berbentuk bulat, warnanya hijau kecoklatan. Secang tumbuh liar dan kadang ditanam sebagai tanaman pagar atau pembatas kebun. Daun tumbuhan ini bertipe majemuk menyirip ganda, bunganya bertipe majemuk berbentuk malai dengan mahkota bentuk tabung dan berwarna kuning, buahnya menyerupai buah polong yang berisi 3-4 biji berbentuk bulat memanjang dan berwarna kuning kecoklatan. Panenan kayu dapat dilakukan mulai umur 1-2 tahun dan kayunya bila digodok memberi warna merah gading muda, dapat digunakan untuk pengecatan, memberi warna pada bahan anyaman, kue, minuman atau sebagai tinta (Dianasari 2009).

Bagian tumbuhan secang seperti batang, kulit batang, polong, dan akar dapat digunakan sebagai pewarna. Warna merah cerah dan ungu muda bisa didapatkan dari batang kulit batang, dan polong secang. Akar secang sendiri dapat menghasilkan warna kuning. Warna-warna yang dihasilkan oleh tanaman secang berasal dari senyawa yang berwarna brazilin (C16H14O5).

Brazilin merupakan senyawa antioksidan yang mempunyai katekol dalam struktur kimianya. Menurut Indriani (2003), kayu secang dapat digunakan sebagai pewarna alami karena mengandung brazilin berwarna merah yang bersifat mudah larut dalam air panas. Ditambahkan oleh Holinesti (2009), brazilin (C16H14O5) memiliki warna kuning sulfur jika dalam bentuk murni, dapat dikristalkan, larut dalam air, jernih mendekati tidak berwarna dan berasa manis. Asam tidak berpengaruh terhadap larutan brazilin, tetapi alkali dapat membuatnya bertambah merah. Eter dan alkohol menimbulkan warna kuning pucat terhadap larutan brazilin. Brazilin akan cepat membentuk warna merah jika terkena sinar matahari. Terjadinya warna merah ini disebabkan oleh terbentuknya brazilein. Brazilin jika teroksidasi akan menghasilkan senyawa brazilein yang berwarna merah kecoklatan dan dapat larut dalam air. Brazilin termasuk ke dalam flavonoid sebagai isoflvonoid.

Stabilitas warna pigmen brazilein juga dipengaruhi oleh kondisi keasaman atau pH larutan. Pada pH 2-5 pigmen brazilein berwarna kuning sedangkan pada pH 6-7 berwarna merah, dan pada pH 8 ke atas berwarna merah keunguan (Holinesti, 2009). Dalam penelitian Maharani (2003), tentang stabilitas pigmen brazilein pada kayu secang didapatkan bahwa suhu dan pemanasan, sinar ultraviolet, adanya oksidator dan reduktor serta penambahan metal mempengaruhi stabilitas dan mengakibatkan terjadinya degradasi pada pigmen brazilein.

Menurut Winarti dan Nurdjanah (2005), secara empiris kayu secang dipakai sebagai obat luka, batuk berdarah, berak darah, darah kotor, penawar racun, sipilis, menghentikan pendarahan, pengobatan pasca persalinan, desinfektan, antidiare dan astringent. Berbagai penelitian juga telah dilakukan untuk menguji manfaat kayu secang, seperti khasiatnya sebagai antibakteri. Menurut Indriani (2003), kayu secang juga mempunyai aktivitas sebagai antibakteri dan bakteriostatik sehingga sering digunakan sebagai obat muntah darah, diare dan disentri. Kayu secang mengandung senyawa brazilin yang diduga memiliki aktivitas antikanker, senyawa fenolik dan flavonoid sebagai antioksidan dan senyawa aktif lain seperti sappanchalcone dan caesalpin P yang terbukti memiliki khasiat untuk terapi antiinflamasi, antidiabetes, dan terapi gout secara in vitro (Wicaksono dkk, 2008).