Monthly Archives: April 2016

Jambu Mete

7 April 2016

Hasil gambar untuk kandungan gizi jambu mete

Jambu mete (Anacardium occidentale) merupakan tumbuhan yang berasal dari Brasil. Tanaman ini merupakan tanaman terpenting di India, Brasil dan Vietnam. Buah sejatinya, yaitu kacang mete, memiliki rasa yang enak dan buah semunya mempunyai nilai gizi yang tinggi seperti vitamin C, mineral, kalsium, fosfor dan besi (Vivek dkk., 2012). Tanaman ini telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai tanaman obat. Beberapa bagian tanaman ini dapat digunakan sebagai sumber bahan obat tradisional seperti daun, biji, dan buah semu. Daun jambu mete mengandung sejumlah senyawa seperti flavonoid, fenolat dan tanin (Fidrianny, 2012).

Tanaman jambu mete dapat menghasilkan banyak produk. Kulit dan daun digunakan untuk pengobatan. Kacang mete mempunyai daya tarik internasional dan nilai pasar sebagai makanan. Bahkan Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) biasanya digunakan untuk industri plastik dan resin (Dare dkk., 2011). Selain itu CNSL dapat dimanfaatkan sebagai minyak cat, tinta, insektisida sertas pelapis rem dan kopling. Tanamanini juga memiliki beberapa keunggulan, antara lain bersifat tahan kering, cepat tumbuh dan memilki sistem perakaran yang dalam. Tanaman ini sangat sesuai untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis serta gersang, sekaligus berfungsi sebagai tanaman pengendali erosi (Suprapti,2004).

Daun jambu mete berbentuk bulat telur dengan bagian bulat pada ujungnya dan runcing pada bagian pangkalnya. Daun ini merupakan daun tunggal yang letaknya tersebar. Warna daun bervariasi antara hijau muda hingga hijau tua dengan panjang berkisar antara 10-12 cm dan lebar 4-10 cm (Suprapti, 2004). Menurut Nugroho., dkk (2013) daun jambu mete mengandung senyawa aktif seperti karbohidrat, tanin, saponin, resin dan alkaloid.

Sebuah analisis fitokimia juga telah dilakukan pada ekstrak daun jambu mete menunjukkan adanya tanin dalam konsentrasi tinggi (Varghese dkk., 2013). Senyawa golongan fenol, flavonoid dan tanin merupakan kontributor utama dalam aktivitas antioksidan daun jambu mente. Kandungan tanin pada daun jambu mete adalah sebesar 2,04% (Fidrianny dkk., 2012).

Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi pada 100 gr Buah Jambu Mete :

Energi : 64 kkal
Protein : 0,7 gr
Lemak : 0,6 gr
Karbohidrat : 15,8 gr
Kalsium : 4 mg
Fosfor : 13 mg
Zat Besi : 1 mg
Vitamin A : 25 IU
Vitamin B1 : 0,02 mg
Vitamin C : 197 mg

 

Paku Cakar Ayam

5 April 2016

Tanaman Paku cakar ayam (Selaginella doederleinii Hieron) adalah tumbuhan yang memiliki batang tegak dengan tinggi sekitar 15-35 cm dan akarnya keluar pada percabangan. Tanaman paku cakar ayam memiliki daun yang kecil-kecil dengan panjang 4-5 mm, lebar 2 mm, berbentuk jorong dengan ujung meruncing serta pangkal yang rata. Salah satu ciri khas lainnya adalah dari warna daun, di mana di bagian atas hijau tua sedangkan bagian bawah hijau muda. Daun tersusun di kiri-kanan batang induk sampai ke percabangannya yang menyerupai cakar ayam dengan sisik-sisiknya (Dalimarta, 1999 dalam Sutomo dan Fardila, 2013). Paku cakar ayam mempunyai habitus terna, merayap, dan sedikit tegak. Batang bulat, liat, bercabang-cabang menggarpu, tanpa pertumbuhan sekunder, dan putih kecoklatan. Akarnya serabut dan muncul dari batang yang berdaun dan berwarna coklat kehitaman (Hutapea, 1999 dalam Widodo, 2006).

Berikut klasifikasi tanaman paku cakar ayam: (Hutapea, 1999 dalam Widodo, 2006)

Divisi               : Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas               : Lycopodiinae
Bangsa            : Selaginellales
Suku                : Selaginellaceae
Marga              : Selaginelle
Jenis                : Selaginella doederleinii

Tanaman paku cakar ayam banyak tumbuh pada tebing-tebing, jurang dan tempat-tempat teduh berhawa dingin, dari ketinggian 400-750 meter diatas permukaan laut. Tanaman paku cakar ayam juga dikenal dengan nama daerah rumput solo atau cemara kipas gunung. Dalam farmakologi cina disebutkan tanamanpaku cakar ayam memiliki rasa manis dan bersifat hangat(Hutapea, 1999 dalam Widodo, 2006).

Tanaman paku cakar ayam (Selaginella doederleinii Hieron) dilaporkan mengandung alkaloid, saponin dan phytosterol (Dalimarta, 1999dalam Sutomo dan D. Fardila, 2013). Ekstrak etanol paku cakar ayam dilaporkan mengandung lima komponen lignans yaitu (-)-lirioresinol A, (-)-lirioresinol B, (+)-wikstromol, (-)-nortracheloside, (+)- matairesinol. Risdian et al., (2011) juga menyebutkan bahwa dalam ekstrak etanol tanaman Selaginella terdapat senyawa flavonoid dengan total 23,04%.

Tanaman paku cakar ayam (Selaginella doederleinii Hieron) juga mengandung beberapa komponen fenolik seperti dua komponen fenilpropanon yaitu 3-hidroksi-1-(3-metoksi-4-hidroksifenil)-propan-1-on, 3-hydroksi-1-(3,5-dimetoksi-4hidroksifenil)-propan-1-on dan empat biflavonoid yaitu amentoflavon, 7,7”-di-O-metilamentoflavon,7,4′,7”,4”’-tetraometilamentoflavon, dan heveaflavon (Lee et al.,2008). Lee et al., (2008) juga menemukan senyawa biflavonoid yang baru diidentifikasi dari Selaginella doederleinii yaitu 2,2,3,3-tetrahydrorobustaflavon 7,4,7 atau robustaflavon 7,4,7-trimethyl ether.

Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat adalah seluruh tanaman, baik dalam keadaan segar atau kering. Tanaman paku cakar ayam memiliki beberapa manfaat yaitu berkhasiat untuk menghilangkan panas, melancarkan aliran darah, antitoksik, antineoplasma, penghenti pendarahan (hemostatis) serta menghilangkan bengkak. Selain itu paku cakar ayam juga berkhasiat untuk mengatasi batuk, infeksi saluran nafas, radang paru, hepatitis, diare, keputihan, tulang patah, pendarahan, dan kanker (Dalimartha, 1999 dalam Sutomo dan Fardila, 2013).