Monthly Archives: March 2016

KLUWIH

29 March 2016

 

Tanaman kluwih tumbuh kuat, relatif rimbun mirip tanaman sukun. Tanaman kluwih mudah dibudidayakan didaerah tropis. Selain itu memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi untuk hidup ditempat yang kurang menguntungkan. Kanopi rimbun dengan perakaran yang kuat, cocok untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan dan konservasi lahan (Pitojo, 2005).

Taksonomi Kluwih (Artocarpus camansi) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus : Artocarpus
Spesies : Artocarpus camansi (Park.) Fsb

Deskripsi dari tanaman kluwih (Godam, 2014) adalah sebagai berikut :

Habitus : Pohon, tinggi 10-25 m
Batang : Tegak, bulat, percabangan sympodial
Daun : Tunggal berseling, lonjong, ujung runcing,  pangkal   70 cm,  tebal, permukaan kasar, hijau lebar 25-50 cm, pertulangan menyirip,   meruncing, tepi bertoreh, panjang 50-
Bunga : Tunggal, berumah satu, diketiak daun, bunga jantan silindris
Buah : semu majemuk, bulat, diameter 10-20 cm, berduri lunak, hijau
Biji : Bentuk ginjal,panjang 3-5 cm, hitam
Akar : Tunggang, coklat

Komposisi Kandungan Nutrisi/Gizi Pada 100 gram Kluwih adalah sebagai berikut :

Energi : 111 kilokalori
Protein : 1,5 gram
Karbohidrat : 27,2 gram
Lemak : 0,3 gram
Kalsium : 28 miligram
Zat Besi : 1 miligram
Vitamin A : 20 IU
Vitamin B1 : 0,1 miligram
Vitamin C : 19 miligram

Tanaman kluwih telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain sebagai berikut (Pitojo,2005):

1. Kluwih termasuk tanaman bergetah, hampir semua bagian tanaman dapat mengeluarkan getah, sejak dari bunga, buah, daun, ranting, cabang, batang , maupun akarnya. Pada waktu dahulu getah kluwih dimanfaatkan sebagai perangkap burung.
2. Bunga kluwih yang telah kering dapat digunakan sebagai upet. Asap upet bunga jantan yang telah kering dan dibakar berguna sebagai pengusir nyamuk.
3. Daun kluwih yang telah tua dapat digunakan sebagai pakan ternak dan daun kluwih yang telah tua dapat digunakan sebagai pembungkus atau pembrongsong buah blimbing.
4. Kayu tanaman kluwih tidak keras, berserat kasar, kadangkadang dimanfaatkan sebagai bahan dalam pembuatan perangkat rumah tangga sederhana
5. Buah kluwih muda dimanfaatkan sebagai aneka sayur. Sementara buah kluwih yang tua diambil bijinya sebagai bahan pangan atau digunakan sebagai benih

 

 

 

Buah Lindur (Bruguiera gymnorrhiza)

28 March 2016

ilustrasi

Tanaman Bruguiera gymnorrhiza merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai, serta tahap awal dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Tumbuh di area dengan salinitas rendah dan kering, serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Jenis ini toleran terhadap daerah terlindung maupun yang pendapat sinar matahari langsung. Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Ukuran bunganya relatif besar memiliki kelopak bunga berwarna kemerahan, tergantung dan mengundang burung untuk melakukan penyerbukan.

Ciri buah masak dapat ditandai dengan perubahan warna buah maupun kotiledonnya serta kelihatan hampir lepas buah dari bongo, buah masak warna kotiledonnya merah buah dapat dipunggut dari pohon dengan cara dipanjat atau dengan menggunakan galah bercagak diujung. Buah lindur (B. gymnorrhiza) adalah salah satu buah tumbuhan mangrove yang biasanya dikenal sebagai bakau daun besar. Buah ini memiliki nama lokal yang sangat beragam, yaitu lindur, tanjang merah, tanjang putut, tolongke, tancang tumu, wako, bako, kandeka maupun mangi-mangi. Buah lindur memiliki diameter 1,7-2,0 cm, panjang 20-30 cm (Wibobo et al., 2008). Buah lindur memiliki pohon yang dapat mencapai ketinggian 30 m. Pohon lindur memiliki akar papan dan akar lutut, melebar ke samping di bagian pangkal pohon. Kulit kayu memiliki lentisel, permukaannya halus hingga kasar, berwarna abu-abu tua sampai cokelat. B. gymnorrhiza tersebar di daerah tropis Afrika Selatan, Afrika Timur dan Madagaskar, ke Asia Tenggara dan Selatan (termasuk Indonesia dan negara di kawasan Malaysia), sampai timur laut Australia, Mikronesia, Polinesia and Kepulauan Ryukyu (Duke dan James,2006).

Klasifikasi lindur menurut Plantamor (2012) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatohyta (Menghasilkan Biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua)
Sub kelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Family : Rhizophoraceae
Genus : Bruguiera
Species : Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Buah Lindur dapat dimakan secara langsung, atau dicampur dengan kelapa. Tetapi untuk jangka waktu yang lama, buah ini harus mengalami proses penepungan. Karena Buah Lindur memiliki kadar air yang cukup tinggi, buah ini hanya bisa disimpan dalam waktu yang terbatas dan menjadi cepat busuk. Oleh karena itu penggunaan buah Lindur sebagai bahan makanan harus melalui cara penepungan.

Proses penepungan ini merupakan salah satu solusi untk mengawetkan buah Lindur karena dengan penepungan dapat memutus rantai metabolisme buah Lindur sehingga menjadi lebih awet karena kandungan airnya rendah dan lebih fleksibel diaplikasikan pada berbagai jenis olahan pangan.

Karakterisasi buah lindur (Bruguiera gymnorhiza) menunjukkan adanya kandungan tanin dan HCN yang cukup tinggi sehingga perlu diturunkan sampai batas aman untuk dikonsumsi. Kadar HCN maksimal dalam makanan yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) adalah 50 ppm.

Komposisi buah lindur (Bruguiera gymnorhiza Lamk.)

Komponen

Kadar (Basis Kering)

Karbohidrat (%)

90,419

Protein (%)

5,013

Lemak (%)

0,499

Abu (%)

2,887

Tanin (%)

9,265

HCN (ppm)

3335,958

Sulistiyowati (2012)

Ubi Jalar Ungu

24 March 2016

Ubi jalar ungu merupakan tumbuhan yang merambat dan dapat tumbuh disegala cuaca baik di daerah pegunungan maupun di pantai. Ada tiga jenis ubi jalar yaitu berwarna putih, merah dan ungu. Khasiat ubi jalar didapatkan dari kandungan kimia yang ada didalamnya. Ubi jalar tumbuh di segala macam  tanah, namun lebih cocok pada tanah pasir berlempung yang halus dengan pH 5,6 – 6,6 dan suhu 24 – 250C pada kisaran curah hujan 750-1250 mm (Koeswara, 2008).

Kedudukan taksonomi ubi jalar menurut Rukmana (1997), diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Convolvulales
Famili : Convolvulaceae
Genus : Ipomea
Spesies : Ipomea batatas

 Ubi Jalar Ungu Cegah Kanker

 

Ubi ungu mengandung pigmen antosianin yang lebih tinggi dari pada jenis lain. Pingmen antosianin pada ubi ungu lebih stabil bila dibandingkan dengan antosianin dari kubis merah, elderberry dan jagung merah. Pingmen antosianin yang    dimiliki    adalah    senyawa cyaniding acylglukosidase dan peonidin acylglukosidase (Yasinaga,1995).

Kandungan kimia dan karakteristik ubi jalar ungu 100 gram adalah sebagai berikut:

Sifat kimia dan fisik Jumlah
Kadar air (%b/b) 67,77
Kadar abu (%b/k) 3,28
Kadar pati (%b/k) 55,27
Gula reduksi (%b/k) 1,79
Kadar lemak (%b/k) 0,43
Kadar antosianin (mg/100 g) 923.65
Aktifitas antioksidan (%) 61.24
Warna (L) 37,50
Warna (a) 14,20
Warna (b) 11,50

Sumber: Widjanarko (2008)

 

Kandungan ubi jalar ungu antara lain adalah vitamin (A, B1, B2, C dan E), mineral (kalium, kalsium, magnesium, tembaga dan seng), serat pengan serta karbohidrat. Bila dibandingkan varietas ubi jalar putih dan oranye, ubi ungu memiliki kandungan nutrisi berupa lisin, Cu, Mg, K, Zn yang berjumlah rata-rata 20% (Koeswara, 2008).

Di beberapa negara berkembang, umumnya ubi jalar dikonsumsi setelah panen tanpa adanya penyimpanan. Pengolahannya sebatas pada proses pemanggangan, penggorengan dan perebusan (Juanda et al., 2000). Sedangkan di Negara maju, ubi jalar diolah menjadi beberapa jenis makanan yang lebih kreatif sehingga mampu meningkatkan nilai jual produk. Di Jepang, ubi jalar dijadikan makanan tradisional yang publisitasnya setaraf dengan pizza dan hamburger, selain itu juga dimanfaatkan dalam dunia tekstil,  kosmetik, kertas, lem dan produk pangan lainnya. Lain lagi dengan Amerika, ubi jalar diolah menjadi bahan subtitusi kentang, serta diolah menjadi gula fruktosa sebagai bahan baku minuman bersoda (Koeswara, 2008).

Gula Merah Kelapa

23 March 2016

Gula merah adalah hasil olahan nira atau gula kelapa yang dibuat dalam bentuk padatan yang dicetak dengan tempurung kelapa atau bambu sehingga bentuknya silindris. Gula merah atau gula kelapa yang berbentuk padat ini biasanya juga disebut sebagai gula jawa (Ningtyaset. al., 2013). Nira yang digunakan dalam pembuatan gula merah adalah nira yang telah melalui proses penguapan pada kadar airnya. Prinsip pembuatan gula menurut Nurlela (2002), adalah dengan menguapkan kadar air bahan baku hingga mencapai kadar air optimum pada pembuatan gula merah. Penguapan atau evaporasi air pada pembuatan gula merah dapat dilakukan dengan cara memanaskan bahan baku dalam wadah terbuka sampai mencapai kekentalan tertentu sehingga gula dapat dicetak.

Mutu gula merah dapat ditentukan berdasarkan warna, bentuk, dan kekerasan. Gula merah mempunyai tekstur yang kompak, tidak terlalu keras, sehingga mudah dipatahkan. Gula merah memiliki rasa manis dengan sedikit asam yang disebabkan karena adanya kandungan asam-asam organik di dalamnya. Kandungan asam-asam organik inilah yang menyebabkan gula merah mempunyai aroma yang khas. Sedangkan untuk rasa manis dikarenakan adanya kandungan beberapa jenis gula seperti sukrosa, fruktosa, glukosa, dan maltosa (Nurlela, 2002).

Gula merah ini sendiri terdiri dari beberapa jenis tergantung dari bahan bakunya, diantaranya gula merah tebu, gula aren, gula kelapa, dan gula siwalan. Nilai gizi yang terdapat dari masing-masing jenis gula merah tersebut berbeda-beda tergantung pada bahan bakunya masing-masing. Nilai gizi yang terkandung dalam setiap 100 gram beberapa jenis gula merah dapat dilihat pada tabel berikut :

 

Komposisi (mg)

Gula Merah Tebu

Gula Aren

Gula Kelapa

Kalori

356,0

386,0

386,0

Protein

0,4

0,0

3,0

Lemak

0,5

0,0

10,0

Hidrat Arang

90,6

95,5

76,0

Kalsium

51,0

75,0

76,0

Fosfor

44,0

35,0

37,0

Besi

4,2

3,0

2,6

Vitamin A

0,0

0,0

0,0

Vitamin B1

0,02

0,0

0,0

Vitamin B2

0,03

0,0

0,0

Vitamin C

0,0

0,0

0,0

Air

7,4

9,0

10,0

Sumber : Tan (1980)

Menurut Nurlela (2002), nilai kalori 1 sendok makan gula merah dinggap sama dengan satu sendok makan gula putih dimana pada 100 gram gula merah mengandung 373 kalori sedangkan gula putih mengandung 396 kalori.

Pisang Batu (Musa balbisiana Colla)

22 March 2016

Pisang batu disebut juga pisang klutuk atau pisang biji adalah jenis pisang yang termasuk dalam kelompok Musa brachycarpa. Jenis pisang ini adalah pisang berbiji yang dapat dimakan sewaktu masih mentah (Palupi, 2012). Menurut Margono (2000) dalam Prayogi et. al. (2014), pisang batu termasuk dalam kategori pisang kelas rendah dengan karakteristik berdaun tebal, memiiki lapisan lilin cukup tebal, kadang-kadang terdapat biji pada buahnya, kulitnya keras dan tebal serta buahnya tidak dapat langsung dimakan dalam keadaan segar tetapi ketika buahnya masak mempunyai rasa yang manis dan bau yang harum.

 khasiat pisang batu

Pisang batu atau pisang klutuk yang masih muda sering dipakai sebagai salah satu bahan tambahan dalam pembuatan bumbu rujak cingur atau rujak uleg. Pisang batu dalam rujak cingur berfungsi sebagai salah satu bumbu penyedap karena rasa sepatnya yang khas (Damiatiet. al., 2014).

Menurut Endra (2006), kandungan kimia (air, abu, serat, dan gula pereduksi) daging buah pisang batu lebih tinggi daripada pisang raja dan pisang siam, sedangkan pada komposisi kimia (protein, lemak, dan karbohidrat) jauh lebih rendah daripada pisang raja dan pisang siam. Data kadar proksimat (%b/b) pisang batu dapat dilihat pada tabel berikut :

Komponen

%b/b (g)

Air

82,76

Abu

2,08

Protein

1,90

Lemak

0,46

Serat Kasar

6,90

Karbohidrat

5,9

Sumber : Endra (2006)

Asam Jawa

21 March 2016

Hasil gambar untuk asam jawa

Asam jawa (Tamarindus indica) merupakan tanaman daerah tropis yang termasuk dalam tumbuhan berpolong (Saniaty et. al., 2011, Susanti, 2009). Asam jawa termasuk ke dalam suku Leguminosae dengan berbagai variasi nama lain, yaitu asam (Malaysia), asem (Jawa), sampalok (Tagalog), ma-kham (Thailand), dan tamarind (Inggris) (Susanti, 2009). Asam jawa juga dikategorikan pohon multiguna karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan. Kayu asam jawa dapat dimanfaatkan sebagai bahan mebel, kayu bakar, dan arang. Buah asam jawa digunakan sebagai bumbu masak dan biji asam jawa dapat dimanfatkan sebagi koagulan alami (Situmoranget. al., 2015).

Asam jawa biasanya digunakan sebagai bumbu, sebagai komponen makanan seperti pada permen, kari, dan saus, serta komponen utama dalam jus atau minuman tertentu. Daging buah asam jawa juga dapat dimakan segar dan sering dibuat menjadi jus, serta juga dapat diolah menjadi selai dan permen (Caluwe et. al., 2010). Asam jawa berkhasiat untuk mengobati asma, batuk, demam, sakit panas, rematik, sakit perut, sariawan (Saniaty et. al., 2011), morbili, alergi, luka baru, eksim, dan sebagainya (Susanti, 2009).

Buah asam mengandung kadar air yang rendah, mengandung protein dan karbohidrat, vitamin, asam nikotin, dan karoten (Saniaty et. al., 2011). Menurut Doughari (2006) dalam Susanti (2009), tanaman asam jawa juga mengandung senyawa tanin, alkaloid, saponin, seskuiterpena, dan flobatamin melalui uji fitokimia.

Komposisi asam jawa per 100 gram buah kering dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Komposisi

Jumlah

Kadar air (%)

15-30

Protein (%)

2,9

Lemak (%)

0,5-3,1

Karbohidrat (%)

56,7-82,6

Serat Kasar (%)

2,2-18,3

Asam Tartarat (%)

8-18

Gula Reduksi (%)

25-45

Kadar Abu (%)

2,1-3,3

Pektin (%)

2-4

Asam Askorbat (mg)

3-9

β Karoten (µg)

10-60

Thiamin (mg)

0,18-0,22

Riboflavin (mg)

0,07-0,09

Niasin (mg)

0,6

Sumber : Gunasena dan Pushpakumara (2008)

 

Asam jawa mempunyai rasa asam yang berasal dari kandungan asam tartarat. Asam tartarat selama proses pematangan asam jawa tidak hilang namun semakin mengalami peningkatan seiring dengan adanya peningkatan kadar gula. Akibat hal inilah rasa asam jawa cenderung asam manis (Soemardji, 2007).

Ikan Lemadang (Coryphaena hippurus)

14 March 2016

Ikan lemadang dikenal juga dengan nama mahi-mahi dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan dolphin fish termasuk golongan ikan pelagis besar. Ikan lemadang dapat mencapai panjang 200 cm dengan berat 50 kg. Ikan ini ditemukan di perairan tropis dan subtropis di seluruh dunia dengan berat rata-rata yang berhasil di tangkap adalah 7 sampai 13 kg, jarang melebihi 15 kg. Ikan lemadang bertelur dalam arus laut yang hangat di sepanjang tahun dan biasanya ditemukan dalam rumput laut. Ikan lemadang mempunyai warna yang cantik: emas di sisi bawah, biru cerah dan hijau di bagian samping dan belakang, jantan dewasa memiliki dahi yang menonjol di atas kepala, sedangkan betina memiliki kepala yang bulat. Di Indonesia ikan ini banyak terdapat di wilayah perairan Maluku, Jawa bagian Utara, Jawa bagian Selatan dan perairan Sulawesi.

Klasifikasi ikan lemadang sebagai berikut:

Kingdom       :    Animalia

Phylum         :    Chordata

Subphylum   :    Vertebrata

Klas              :    Actinopterygii

Ordo             :    Perciformes

Family          :    Coryphaenidae

Genus           :    Coryphaena

Spesis             :   Coryphaena hippurus

Gambar Ikan Lemadang

Tulang dan Kolagen Ikan Bandeng

8 March 2016

Tulang adalah material komposit yang terdiri dari bahan organik (terutama kolagen) dan anorganik (bioapatite, komponen Ca10(PO)4(OH)32+2), serta lipid dan air (Szpak, 2011). Tulang ikan juga merupakan sumber mineral penting antara lain : natrium, fosfor, dan kalsium. Ion kalsium (Ca2+) penting untuk perkembangan tulang manusia dan gigi terutama pada bayi. Pemanfaatan tulang ikan menjadi sumber alami Ca untuk menjadi bahan makanan dan Ca2+ tambahan, menjadi strategi untuk memanfaatkan secara maksimal sumber daya ikan serta secara efektif untuk mengurangi limbah dari industri perikanan (Hemung, 2013). Kandungan kalsium pada tulang ikan sebesar 31,8 % (Phiraphinyo et al., 2006).   Tulang memiliki matriks hialin yang homogen dan jernih. Kolagen yang merupakan zat perekat tulang banyak terkandung pada  matriks yang berserabut. Kolagen yang ada di dalam tulang dapat memberikan elastisitas dan berkontribusi dalam resistensi fraktur (Wikipedia, 2007).

Tulang ikan biasanya dipisahkan setelah penghapusan protein dari rangka otot. Tulang ikan  bisa dijadikan sebagai sumber tambahan kolagen di samping kulit ikan (Ghaly et al., 2013). Tulang secara komersial dimanfaatkan sebagai bahan baku industri gelatin, sehingga dapat menambah penghasilan secara ekonomi dan memberi keuntungan bagi pengelolaan limbah industri perikanan karena bahan tersebut dihasilkan dalam jumlah yang banyak (Choi and Regenstein, 2000). Fahlivi (2009) melaporkan bahwa tulang ikan sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan gelatin, karena tulang menyumbang 15 – 20% dari total bobot tubuh ikan. Ekstraksi gelatin dari tulang ikan merupakan usaha pemanfaatan limbah industri pengolahan ikan. Pemanfaatan tulang ikan sebagai bahan baku gelatin bisa dikategorikan sebagai pengolahan bersih (cleaner production) dari pengolahan ikan. Produksi bersih merupakan konsep pengolahan yang bertujuan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan (Junianto et al, 2006). Kalsium merupakan mineral dalam tulang rawan yang jumlahnya paling banyak, sekitar 24% (Almatsier, 2003).

Lokasi tulang ikan bandeng

Tulang tersusun atas beberapa komponen, di antaranya protein yang berbentuk polimer kolagen. Hidrolisis terhadap kolagen tulang ikan dapat dilakukan setelah melakukan tahap degreasing, pembersihan, pengeringan, dan pemotongan tulang  menjadi lebih kecil (Hadi, 2005). Proses degreasing pada suhu 80°C selama 30 menit dilakukan untuk menghilangkan daging, kotoran, dan lemak pada tulang ikan (Hinterwaldner, 1977). Hidrolisis atau perendaman dalam larutan asam terhadap kolagen dapat menghasilkan polimer gelatin (Gomez et al., 2004). Tujuan dari perendaman tulang-tulang dengan larutan asam yaitu untuk proses demineralisasi atau menghilangkan garam kalsium dan mineral lain yang ada pada tulang rawan (Utama, 1997). Reaksi ketiganya akan menghasilkan hasil akhir berupa garam kalsium terlarut. Tulang ikan menjadi lunak (disebut ossein) karena adanya materi terlarut tersebut.

Kolagen adalah molekul tiga heliks yang terdiri dari tiga rantai a, yang pada mamalia, terdiri dari dua heliks identik a and satu helik s a1 ((a2)1a heterotrimer). Keberadaan heterotrimers aa1a2, heterotrimer (a3)1a2222 serta homotrimer (a1)3  telah dilaporkan ada pada beberapa spesies ikan yang berbeda (Nagai and Suzuki, 2000). Perbedaan fungsional antara konfigurasi ini belum dipelajari secara ekstensif. Ada beberapa perbedaan dalam komposisi asam amino dar i r ant ai a, a1 dan a23, tetapi perbedaannya kecil. Glisin terdiri dari sekitar 1/3 dari residu asam amino di semua kolagen, dengan dua motif dominan menjadi Gly-Pro-X dan Gly-X-Hyp, dimana X adalah setiap asam amino selain glisin, prolin atau hidroksiprolin.   Tingginya kandungan hidroksiprolin pada kolagen adalah biasa di antara protein dan secara langsung berkaitan dengan stabilitas dan ketidaklarutan molekul. Kehadiran glisin, yang merupakan asam amino sangat kecil dengan hanya rantai samping atom hidrogen tunggal, di setiap residu ketiga memfasilitasi struktur heliks tripel kolagen dan memungkinkan ikatan hidrogen antara rantai dalam heliks (Regenstein and Zhou, 2007). Peptida kolagen ada bersama-sama dengan ikatan silang intermolekuler, yang dapat membentuk reaksi enzimatisdimediasi reaksi yang melibatkan aldehida dan lisin atau hidroksilin (Spzak, 2011). Kolagen ikan dibandingkan dengan kolagen mamalia, secara umum, ditandai dengan persentase yang relatif tinggi serin dan glisin, dan persentase yang rendah hidroksiprolin dan prolin. Perbedaan ini menghasilkan rasio C:N lebih rendah pada ikan dibandingkan dengan kolagen mamalia karena rasio C:N dari prolin (5:1) dan hidroksiprolin (5:1) lebih tinggi dari glisin (2:1) dan serin (3:1) (Szpak, 2011). Umumnya, ikan cenderung menunjukkan variabilitas lebih dalam  komposisi kimia tulang mereka dibandingkan dengan mamalia (Karim and Bhat, 2009). Kolagen ikan memiliki karakteristik yang berbeda dari kolagen mamalia (Avena-Bustillos et al., 2006;. Gudmundsson, 2002; Haug et al., 2004).

Protein (kolagen) bisa menjadi rusak karena beberapa faktor yaitu pengaruh panas, reaksi kimia dengan asam atau basa, goncangan atau sebabsebab lainnya. Asam, basa atau enzim juga dapat mengakibatkan terjadinya degradasi pada protein, yaitu terjadinya pemecahan molekul kompleks menjadi molekul sederhana (Winarno, 2002). Kolagen akan mengembang dan menyebar karena perlakuan basa atau. NaOH adalah salah satu alkali yang dapat digunakan sebagai pelarut kolagen (Christianto, 2001; Szpak, 2011). Kolagen juga bisa larut dalam pelarut asam seperti HCl (Bennion, 1980).

Ikan Bandeng

4 March 2016

Ikan bandeng adalah jenis ikan pelagis yang secara umum bersifat sebagai pemakan plankton, jenis ikan tersebut termasuk perenang cepat, terutama jika berada di laut terbuka. Bandeng juga sering terlihat berenang dalam kelompok kecil di pantai, dan terkadang pada stadia juvenile (ikan muda) terdapat di sungai – sungai air payau. Pusat penyebaran bandeng di Asia Tenggara, terdapat di Philipina, Indonesia, Taiwan dan di sepanjang pantai Thailand dan Burma (Muslim, 2006). Ikan bandeng adalah jenis ikan laut dengan bentuk tubuh langsing seperti terpedo, mempunyai moncong agak runcing, ekornya bercabang dan halus sisiknya. Ikan bandeng berwarna putih gemerlapan seperti perak pada tubuh bagian bawah dan punggungnya agak gelap (Soeseno, 1988).

Penampilan ikan bandeng pada umumnya simetris, memiliki badan ramping dengan sirip ekor yang bercabang dua. Ukuran tubuh ikan bandeng bisa bertambah besar sampai 1,7 m, hanya saja rata-rata sekitar 1 meter panjangnya. Seluruh permukaan tubuh ikan bandeng tertutup oleh sisik yang bertipe lingkaran yang berwarna keperakan. Ikan bandeng juga tidak mempunyai gigi. Pada bagian tengah tubuhnya terdapat garis memanjang dari bagian penutup insang sampai ke ekor. Sirip dada dan sirip perut dilengkapi dengan sisik tambahan yang besar dengan sirip anus menghadap ke belakang. Selaput bening menutupi mata, mulutnya kecil terletak pada bagian depan kepala dan simetris serta memiliki jenis sirip ekor homocercal.

Morfologi Ikan Bandeng

Image result for ikan bandeng

Secara fisik, bandeng mempunyai sejumlah jari-jari pada siripnya yang tersebar sebagai berikut : 14-16 jari-jari pada sirip punggung, 16-17 jari-jari pada sirip dada, 11-12 jari-jari pada sirip perut, 10-11 jari-jari pada sirip anus, dan 19 jari-jari pada sirip ekor yang berlekuk simetris. Pada garis rusuk terdapat sisik yang berjumlah 75-80 sisik (Kordi, 2000). Taksonomi dan klasifikasi bandeng menurut Schuster 1960 dalam Muslim (2006) adalah sebagai berikut :

Phyllum             : Vertebrata

Subphyllum     : Craniata

Superclass        : Gnathosmata

Series                 : Pisces

Class                   : Teleostomi

Subclass           : Actinopterygii

Order                 : Malacopterygii

Suborder          : Clupeoidei

Family              : Chanidae

Genus                : Chanos lacepedo, 1803

Species             : Chanos chanos (Forskal), 1775

Ikan bandeng (Chanos chanos atau Milkfish) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai rasa spesifik dan telah dikenal di Indonesia. Kandungan omega-3 pada ikan bandeng 14,2% melebihi kandungan omega-3 pada ikan salmon (2,6%), ikan tuna (0,2%) dan ikan sarden/mackerel (3,9%). Bandeng merupakan salah satu sumber pangan yang sangat bergizi karena mempunyai kandungan protein tinggi (20,38%), (Salman, 2012). Ikan bandeng mengandung energi sebesar 129 kilokalori, protein 20 gram, karbohidrat 0 gram, lemak 4,8 gram, kalsium 20 miligram, fosfor 150 miligram, dan zat besi 2 miligram.  Ikan bandeng juga mengandung vitamin A sebanyak 150 IU, vitamin B1 sebanyak 0,05 miligram dan vitamin C hanya 0 miligram.  Kandungan kalori pada ikan bandeng diperoleh dari penelitian 100 gram ikan bandeng, dimana jumlah yang dapat dimakan hanya sebanyak 80 %.

Data USDA (2014) melaporkan bahwa jumlah kalori yang berasal dari ikan bandeng terdiri dari 59 % protein, 41% lemak dan 0% karbohidrat. Kandungan EPA dan DHA untuk bandeng laut lebih tinggi bandeng tambak dari segi nutrisinya. Kandungan Omega-3 pada ikan bandeng di laut relatif sama dengan beberapa jenis ikan laut seperti ikan sardine, mackerel dan salmon.