Home » artikel » Minyak Jeruk Purut Sebagai Antioksidan

Minyak Jeruk Purut Sebagai Antioksidan

18 February 2016

Minyak Jeruk Purut Sebagai Antioksidan

Minyak atsiri yang mudah menguap terdapat di dalam kelenjar minyak yang harus dibebaskan sebelum disuling yaitu dengan merajang/memotong jaringan tanaman dan membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin, sehingga minyak dapat dengan mudah diuapkan (Suryaningrum, 2009). Minyak atsiri yang berasal dari daun jeruk purut disebut combava petitgrain (dalam bahasa afrika) yang banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain. Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan. Minyak daun jeruk purut mengandung antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 41,7 ┬Ál/ml dan berpotensi sebagai antimikroba (Lertsatitthanakorn et al., 2006). Sitronelal banyak dipergunakan sebagai flavor, pengusir serangga, parfum di dalam sabun dan juga sebagai antibakterial (Srisukh et al., 2012).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmi (2013), secara keseluruhan aktivitas antioksidan tertinggi terdapat pada jeruk purut dengan nilai 90,1 % inhibisi terdapat pada bagian sampel kulit batang dengan pelarut etil asetat. Dibandingkan dengan nilai % inhibisi pada asam askorbat nilai ini hampir mendekati aktivitas antioksidan asam askorbat yaitu 96,7%. Jeruk purut merupakan tanaman dengan aktivitas antioksidan yang sangat tinggi sehingga banyak dimafaatkan dalam kebutuhan sehari-hari, baik dalam medis, industry, maupun rumah tangga. Pemisahan komponen minyak jeruk purut akan memberikan nilai tambah lebih tinggi daripada hanya menjual minyak jeruk purut melalui hasil destilasi. Sebagaimana Lestari (2012) menyatakan isolasi atau pemurnian sitronelal minyak sereh wangi mendapatkan nilai tambah lebih tinggi. Berdasarkan hasil wawancara dengan produsen minyak atsiri jeruk purut di Tulungangung Jawa Timur, perbandingan harga minyak atsiri sangat jauh berbeda yaitu minyak atsiri kulit buah Rp. 3.500.000,00/kg, minyak atsiri daun Rp. 1.000.000,00/kg, dan minyak atsiri ranting Rp. 750.000,00/kg. Selanjutnya pemisahan komponen dari minyak jeruk purut ranting menjadi 9 fraksi akan memberikan nilai tambah berdasarkan berdasarkan pada kemurnian sitronelal dan linalol. Senyawa-senyawa lainnya dengan kemurnian yang sangat rendah dianggap senyawa yang tidak memiliki nilai.

Fraksinasi adalah metode pemisahan komponen minyak atsiri, yang secara umum digunakan adalah metode destilasi fraksinasi. Destilasi fraksinasi merupakan proses yang memisahkan senyawa komponen utama daripada minyak atsiri berdasarkan titik didihnya. Prinsip utama metode destilasi bekerja berdasarkan perbedaan titik didih dari masing-masing senyawa komponen campuran pada tekanan yang tetap (Wonorahardjo, 2013). Teknologi pemisahan komponen minyak atsiri menggunakan metode destilasi fraksinasi sebagian besar dilakukan dalam kondisi vakum. Hal ini dikarenakan penggunaan suhu tinggi mengakibatkan dekomposisi komponen-komponen yang ada di dalam minyak atsiri. Keuntungan dari proses fraksionasi ini adalah diagram alir dari proses yang sederhana, biaya investasi yang rendah jika dibandingkan dengan unit separasi yang lainnya dan selain itu, operasi fraksinasi ini juga memiliki resiko yang rendah terhadap kegagalan produksi maupun terhadap pencemaran lingkungan. Namun distilasi fraksionasi ini juga memiliki kekurangan yakni, efisiensi dari energi yang digunakan rendah, dan memerlukan suatu senyawa yang memiliki kestabilan thermal yang baik pada titik didihnya. (Agustian et al, 2005).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kusuma (2014), pada pemisahan komponen minyak atsiri ranting menjadi fraksi-fraksi dilakukan dengan pendekatan fraksi teoritis dipilih berdasarkan berat molekul dari senyawa penyusun minyak jeruk purut. Beberapa senyawa memiliki berat molekul yang sama karena senyawa-senyawa tersebut merupakan isomer terhadap senyawa lainnya. Selain itu, beberapa senyawa lainnya memiliki perbedaan berat molekul antar senyawa yang sangat rendah. Hal tersebut menyebabkan tiap senyawa memiliki perbedaan titik didih yang rendah, akibatnya untuk pemisahan hingga mencapai kemurnian tinggi (mendekati 100%) hanya berpeluang kecil. Mempertimbangan hal tersebut penampungan destilat dilakukan dalam bentuk fraksi-fraksi. Fraksi akan memberikan hambatan dalam menampung kadar senyawa-senyawa yang sulit pisahkan.

Pemisahan komponen utama dilakukan dengan pembagian fraksi teoritis dari analisis GCMS bahan baku. Fraksi yang ditampung disesuaikan dengan volume teoritis dari hasil perkalian volume umpan yang digunakan (1000 ml) dengan luas area (%). Penggabungan beberapa senyawa pada fraksi teoritis berkaitan dengan minimal destilat yang dapat ditampung oleh PiloDist 104 yaitu 25 ml. Sehingga dalam persentase fraksi, beberapa komponen dominan ditetapkan pada fraksi yang tersusun atas senyawa tunggal. Kemudian untuk fraksi lainnya bukan tersusun dari senyawa tunggal melainkan dari penggabungan senyawa minor (Kusuma, 2014).

 

 

 

artikel

No Comments to “Minyak Jeruk Purut Sebagai Antioksidan”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*