Home » artikel » Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C)

Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C)

17 February 2016

Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C)

Jeruk purut (Citrus hystrix D.C.) merupakan salah satu jenis jeruk dari famili Rutaceae. Penggunaan buah dan daun jeruk purut telah dikenal oleh masyarakat sejak dahulu sebagai obat tradisional. Bagian daun biasanya digunakan untuk mengatasi badan letih dan lelah sehabis sakit berat dan juga untuk penyedap masakan. Buah jeruk purut juga sering digunakan dalam pengobatan magik. Selain itu kulit buah jeruk purut digunakan untuk penyedap masakan, pembuatan kue dan dibuat manisan (Setiadi dan Parmin, 2004). Jeruk purut merupakan tanaman yang termasuk dalam salah satu anggota (Sarwono, 2001) :

Kingdom          : Plantae

Subkingdom    :Tracheobionta

Super Divisi     : Spermatophyta

Divisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Subkelas         : Rosidae

Ordo                : Sapindales

Famili              : Rutaceae

Genus              : Citrus

Spesies           : Citrus hystrix

Morfologi Tanaman

Jeruk (atau limau/limo) purut (Citrus hystrix) merupakan tumbuhan perdu yang dimanfaatkan terutama buah dan daunnya sebagai bumbu penyedap masakan. Dalam perdagangan internasional dikenal sebagai kaffir lime. Jeruk purut banyak ditanam oleh masyarakat di daerah pekarangan rumah maupun kebun. Jeruk purut termasuk kedalam subgenus Papeda karena bentuknya yang berbeda dengan jenis jeruk pasaran lainnya. Tumbuhanya berbentuk pohon kecil (perdu), (Joko, 2010). Tanaman jeruk purut memiliki morfologi hampir sama dengan jenis jeruk lainnya. Jeruk purut memiliki karakteristik khas yaitu pohonnya rendah atau perdu, namun apabila dibiarkan tumbuh secara alami tinggi pohon ini dapat mencapai 12 meter.

Tanaman jeruk purut (Citrus hystrix DC) merupakan tanaman yang berasal dari Indo-Malaya. Jeruk purut adaptif pada ketinggian 0–1.400 meter dari permukaan laut. Volume produksi jeruk purut mencapai 300–400 buah per pohon per tahun setelah umur 3 tahun dengan tinggi pohon mencapai 2–12 meter (Trubus, 2009). Kondisi alam yang tropis menjadikan alasan mengapa Asia Tenggara mendominasi kekayaan jeruk purut. Sentra penghasil jeruk purut di Indonesia adalah Kabupaten Tulungagung 3 yaitu Kecamatan Ngunut, Kecamatan Sumbergempol dan Kecamatan Rejotangan.

Jeruk purut (Citrus hystrix) adalah tanaman yang tumbuh pada daerah tropis, yang tersebar luas di Asia bagian selatan. Daun dan buah digunakan sebagai makanan. Buahnya berkerut, berbentuk pir dan berwarna hijau tua dan akan menjadi kuning apabila sudah matang. Daunya berwarna hijau tua, mengkilap, dan permukaan bawah hijau muda atau kekuningan, buram, jika diremas baunya harum. Biasanya daunnya tumbuh berpasangan dan seperti angka delapan. Tangkai daun sebagian melebar menyerupai anak daun. Helaian anak daun berbentuk bulat sampai lonjong, pangkal membundar atau tumpul, ujung tumpul sampai meruncing. Panjangnya 8-15cm dan lebarnya 2-6 cm dan kedua permukaan licin dengan bintik-bintik kecil berwarna jernih, (Joko,2010). Bunganya berbentuk bintang, berwarna putih kemerah-merahan atau putih kekuning-kuningan. Bentuk buahnya bulat, kulitnya hijau berkerut, rasanya asam agak pahit. Tanaman ini perdu, setinggi 3-5 meter. Dalam kemasan dan ruang penyimpanan yang baik, daun jeruk purut bias bertahan selama sekitar satu minggu. Sementara buah dalam keadaan utuh, bias bertahan untuk jangka waktu sekitar dua minggu, (Wongsariya, 2014). Batang yang tua berwarna hijau tua, berbentuk bulat, berwarna hijau tua, berbintik-bintik, dan berdiri di ketiak daun. Letak daun jeruk purut terpencar dan bertangkai agak panjang serta bersayap lebar (Rukmana, 2003).

Kandungan dan Kegunaan jeruk purut

Kandungan sintronelal yang sangat tinggi menjadi salah satu kelebihan minyak jeruk purut dibidang industri, khususnya industri farfum dan kosmetik. Minyak dengan kandungan sintronelal yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk isolasi sintronelal. Sintronelal hasil isolasi kemudian diubah menjadi bentuk esternya seperti hidroksi sitronelal atau mentol sintesis. Ester yang dihasilkan dengan cara ini umumnya bersifat statis dan sangat baik digunakan sebagai zat pewangi sabun dan parfum yang bernilai tinggi. Mentol sintesis dapat digunakan sebagai obat gosok, pasta gigi dan obat pencuci mulut. Bentuk ester dari sintronelal dapat digunakan sebagai insektisida, (Ketaren, 2005).

Minyak atsiri jeruk purut dapat digunakan sebagai flavour alami pada bahan pangan. Penggunaan minyak jeruk purut sebagai flavor dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu kelompok flavor larut air dan flavor yang larut lemak. Flavor jeruk purut yang larut dalam air dapat digunakan sebagai flavoring pada soft drink dan minuman teh beraroma jeruk. Sedangkan flavor jeruk purut yang larut lemak dapat digunakan pada jenis masakan seperti tom yam soup, kue, produk-produk bakeri dan produk-produk coklat.  Manfaat komponen aktif minyak atsiri ini dalam industri makanan sebagai penyedap dan penambah cita rasa, dalam farmasi sebagai anti nyeri dan anti bakteri, dalam industri bahan pengawet sebagai insektisida, dalam industry kosmetik dan personal care products yaitu sebagai bahan aktif sabun, pasta gigi, lotion, skin care, serta produk kecantikan, (Widiastuti, 2012).

Jeruk purut termasuk suku Rutaceae yang berpotensi sebagai penghasil minyak atsiri. Daun jeruk purut mengandung sabinena dan limonene yang berguna untuk kosmetik, aromaterapi pencuci rambut, antelmintik, obat sakit kepala, nyeri lambung, dan biopestisida. Daunnya juga sering digunakan sebagai rempah yang berfungsi untuk memberi aroma yang khas pada masakan. Minyak atsiri daun jeruk purut disebut kaffir lime oil yang banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna. Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk olahan, (Munawaroh, 2010). Daun jeruk purut mengandung alkaloid polifenol, α-tokoferol, minyak atsiri, tannin, steroid triterpenoid, sitronellal, flavanoid sianidin, myricetin, peonidin, quercetin, luteolin, hesperetin, apigenin, dan isorhamnetin. Senyawa kimia yang dominan ada pada bagian-bagian tanaman jeruk adalah flavanoid dan miyak atsiri, (Rahmi,2013).

Minyak Atsiri Jeruk Purut

Minyak atsiri yang berasal dari daun jeruk purut disebut Combava petitgrain (dalam bahasa afrika) yang banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum, pewarna dan lain-lain. Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan. Minyak daun jeruk purut dalam perdagangan internasional disebut kaffir lime oil. Minyak atisiri ini banyak diproduksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun. Harga kaffir lime oil asal Indonesia yaitu sebesar USD 65,00-75,00 per kilogram, (Feryanto, 2007). Menurut Trubus (2008), harga komoditas minyak atsiri Indonesia tahun 2008 dari bahan baku jeruk purut mencapai harga Rp.600.000-Rp.700.000/Kg.

Banyak cara untuk mendapatkan minyak atsiri dari jeruk purut. Umumnya semua cara untuk mendapatkan minyak atsiri pada semua tumbuhan yang mengandung atsiri adalah dengan destilasi, ekstraksi pelarut, expression dan enfluerasi. Namun tiap proses menghasilkan output yang berbeda karena itu pemilihan proses harus berdasarkan tipe dari tumbuhan dan komposisi natural bahan tersebut, (Stewart, 2005). Dalam Trubus (2009), rendemen dari minyak atsiri jeruk purut dari sistem uap tak langsung sebanyak 2,77%, sistem uap langsung 2,47%, dan sistem ekstraksi pelarut sebanyak 3,50%. Menurut Munawaroh dan Handayani (2010), rendemen minyak jeruk purut dari proses ekstraksi pelarut etanol adalah 13.39% sedangkan dengan pelarut n-heksana rendemennya 10,50% namun menjadi pelarut terbaik karena kadar sitronelal hingga 97,27%. Minyak jeruk purut tergolong minyak yang baru dalam perdagangan sebagai salah satu bahan baku industri sebagai pemberi rasa dan aroma. Selain untuk industri pangan, minyak jeruk purut juga banyak digunakan pada industri farmasi, flavor, parfum dan pewarna (Munawaroh dan Handayani, 2010). Pada perdagangan internasional belum ada standar yang lengkap, hanya menunjukan rata-rata pasar menjual minyak ini dengan acuan kadar sitronelal diatas 70% (GC).

Komponen Kimia Minyak Atsiri Jeruk Purut

Menurut Koswara (2009), minyak jeruk purut yang diperoleh dari destilasi uap selama enam jam mengandung 57 jenis komponen kimia dengan komponen kimia utama adalah sitronelal sebesar 81,49%. Sitronelal atau 3,7-Dimethyl-6-octenal memiliki rumus molekul C10H18O beraroma lemon dan berwarna bening agak kekuningan. Komponen ini memiliki titik didih 206oC, berat molekul 154,249 Da dan indeks bias 1,446, (Anonymousc, 2003).

Selain komponen sitronelal yang menjadi komponen utama pada minyak jeruk purut yang mempunyai banyak manfaat, masih ada beberapa komponen minor yang terkandung. Menurut Srisukh, et. al., (2012), kandungan komponen yang terdapat pada minyak jeruk purut tidak selalu sama, tergantung dari jenis bahan baku yang dipakai. Salah satu senyawa minor yang berdekatan dengan sitronelal adalah linalol. Komposisi minyak atsiri jeruk purut terdiri atas Beta-Pinena, Beta-Mirsena, Osimena, Beta-Linalool, Isopulegol, Sitronellal, Beta-Sitronelol, Sitral, 3,7 Dimetil-2,6-oktadienal, 3,7-Dimetil-6-okten-1-ol dan Isokariofilena, (Agustra, 2000).

Berdasarkan penelitian Kusuma (2014) mengenai pemisahan komponen utama dari minyak jeruk purut (Citrus hystrix D.C) menggunakan teknik destilasi fraksinasi (kajian rasio refluks dan tekanan vakum) diperoleh kandungan komponen utama minyak jeruk purut dari ranting dan batang tanaman yaitu sabinen 5,91%, sitronelil asetat 6,76%, β-sitronelol 11,03%, L-linanol 13,11% dan β-sitronelal 46,40%. Minyak jeruk purut yang terbuat dari kulit buah mengandung β-pinen 21,4%, limonen 45,76%, sitronelal 20,91% dan 4-terpeniol 11,93%. Minyak jeruk purut yang terbuat dari daun mengandung komponen utama yaitu sitronelal 93,28%, sitronelil asetat 2,97%, 1.6 oktadin 1,31%, dan fernesol 0,35%.

artikel

No Comments to “Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C)”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*