Home » artikel » Tetraselmis chuii

Tetraselmis chuii

Butcher (1959), mengklasifikasikan kedudukan Tetraselmis chuii sebagai berikut:

Filum               : Chlorophyta

Kelas               : Chlorophyceae

Ordo                : Volvocales

Sub Ordo        : Chlamidomonacea

Genus             : Tetraselmis

Spesies           : Tetraselmis chuii

Tetraselmis chuii adalah jenis alga yang masuk ke dalam kelompok alga hijau (kelas Chlorophyceae). T. chuii termasuk alga hijau uniseluler yang berbentuk oval sampai elips dan mempunyai sifat selalu bergerak, karena memiliki empat buah flagella. Alga ini bergerak dengan menggunakan flagellanya dan umumnya banyak ditemukan di daerah estuarine dan genangan-genangan air di daerah pasang surut (Koniyo, 2008). Tetraselmis chuii memiliki lebih banyak pigmen klorofil daripada pigmen lainnya, sehingga alga ini berwarna hijau yang dipenuhi oleh plastid atau kloroplas (Prescott, 1978).

Tetraselmis chuii tumbuh dengan kondisi salinitas optimal antara 25-35 ppm. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi tekanan osmotik antara protoplasma sel organisme dan air sebagai lingkungannya (Fabregas,1984).  Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan Tetraselmis chuii selain salinitas, yaitu suhu, pH, dan intensitas cahaya (Erlina dan Hastuti, 1986).Tetraselmis chuii dalam keadaan segar mengandung kadar air 80-90%. Sedangkan, nutrisi yang terkandung dalam Tetraselmis chuii kering sekitar protein (50%), lemak (20%), karbohidrat (20%), asam amino, vitamin, dan mineral (Cresswell, 1989).

Pada proses kultivasi mikroalga, hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi pada saat budidaya dan ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sel.

Faktor yang berpengaruh terhadap kondisi kultivasi mikroalga meliputi cahaya (siklus dan intesitas), suhu, konsentrasi nutrisi, O2, CO2, pH, salinitas, kualitas air, mineral dan ketersediaan karbon, keadaan sel, kepadatan sel, ukuran gelembung gas, transfer massa, keberadaan mikroba patogen (bakteri, jamur, dan virus), dan kompetisi oleh mikroalga lain (Gouveia, 2011).

Tabel Kondisi Umum Kultur Mikroalga

Parameter

Kisaran

Optimum

Suhu (°C)

16-27

18-24

Salinitas (g.L-1)

12-40

20-24

Intensitas cahaya (Lux)

1.000-10.000*

2.500-5.000

Photoperiod

16:18 (min)

24:0 (max)

pH

7-9

8,2-8,7

Sumber : Mujiman (2004)

*tergantung volume dan kepadatan

Mikroorganisme fotoautotrof yang hidup di perairan laut atau sering disebut dengan mikroalga berpotensi menghasilkan metabolit sekunder. Metabolit sekunder yang dihasilkan memiliki kemampuan bioaktif yang berbeda-beda dan cakupannya sangat luas. Beberapa senyawa bioaktif yang dihasilkan disebut senyawa allelopathic, yang merupakan senyawa metabolit sekunder yang memiliki kemampuan menghambat kompetitor ataupun predator (Rice, 1984).

Mikroalga dapat menghasilkan beberapa asam lemak bebas yang memiliki kemampuan menghambat  beberapa organisme akuatik (Kamaya et al., 2003). Di mana menurut Wu et al. (2006), asam lemak memberikan efek utama terhadap membran plasma.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa penelitian yang melaporkan bahwa mikroalga Tetraselmis chuii yang diekstrak menggunakan beberapa metode ekstraksi dan pelarut dapat berpotensi sebagai senyawa antimikroba (Adhianata, 2012; Widayanti, 2012; Kusuma, 2012). Pelarut kloroform dan metode M. A. E (Microwave Asissted Extraction) selama 3 menit merupakan perlakuan terbaik yang dapat menghambat pertumbuhan E. coli, S. aureus, C. albicans, dan A. flavus dengan zona hambat yang berbeda.

Beberapa seyawa dari ekstrak pelarut kloroform yang dimungkinkan sebagai senyawa antimikroba antara lain golongan asam lemak, ester, alkana, dan aldehid (Kusuma, 2012). Selain itu, Agustini (2010), menyebutkan bahwa Tetraselmis chuii memiliki komponen bioaktif dari golongan asam lemak dan ester yang dapat digunakan sebagai senyawa antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Menurut Kyaw et al. (2011), senyawa ester dan asam lemak memberikan spektrum penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri. Target dari senyawa tersebut meliputi penghambatan enzim (Cowan, 1999; Haslam, 1996), gangguan pada ikatan protein, membentuk kompleks dengan dinding sel, dan kehilangan substrat (Cowan, 1999). Kusmiyati dan Agustini (2006), menyatakan bahwa golongan asam lemak memiliki gugus karbonil yang dapat berinteraksi dengan komponen protein dan enzim yang menyebabkan terjadinya perubahan sisi aktif enzim yang kemudian mengganggu interaksi substrat dengan enzim. Menurut Nairet al. (2005), pada umumnya asam lemak berfungsi sebagai surfaktan anionik masuk ke dalam membran plasma bakteri dan mengubah permeabilitas membran sehingga terjadi disintegrasi membran. Asam lemak rantai pendek dan sedang berdifusi ke dalam sel dalam bentuk tidak terdisosiasi dan kemudian terdisosiasi di dalam sitoplasma sehingga membuat kondisi intraseluler menjadi asam. Nilai pH intraseluler yang lebih tendah menyebabkan inaktivasi enzim-enzim intraseluler dan mengganggu transport asam amino.

Sedangkan pada golongan ester memiliki mekanisme menghambat pertumbuhan bakteri yaitu dengan menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel, mikrosom, dan lisosom. Selain itu gugus hidroksil pada gugus ester dapat menyebabkan perubahan komponen organik dan transport nutrisi yang akhirnya menyebabkan efek toksik bagi bakteri (Carlos et al., 2005).

Menurut Sikkema and Poolman (1995), senyawa golongan alkana dan alkena memiliki toksisitas terhadap bakteri dan jamur. Toksisitas dari senyawa ini berhubungan dengan panjang rantai yang berkolerasi dengan kelarutannya dalam air dan sifat hidrofobisitasnya. Pada golongan senyawa alkana menurut Naufalin (2005), memiliki mekanisme penghambatan merusak dinding sel, lalu senyawa antimikroba tersebut melewati dinding sel bakteri. Selanjutnya terjadi penetrasi dan kerusakan bagian membran sitoplasma. Permeabilitas sel akan terganggu, disebabkan karena terjadi kebocoran isi sel dan mengganggu pembentukan asam nukleat.

Pada senyawa aldehida dilaporkan memiliki kemampuan mengubah fungsi membran dari protein integral sebagai senyawa aktif permukaan nonionik dan membentuk derikatif pirol pada lapisan luar membran plasma masuk ke dalam sitoplasma dan bereaksi dengan  L-sistein yang terdapat dalam sitoplasma (Fujita and Kubo, 2005).

artikel

No Comments to “Tetraselmis chuii”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*