Home » artikel » Walur (Amorphophallus paenifolius var. sylvestris)

Walur (Amorphophallus paenifolius var. sylvestris)

6 November 2015

Walur (Amorphophallus paenifolius var. sylvestris

Walur atau Amorphophallus paenifolius var. sylvestris merupakan tanaman yang berasal dari marga Amorphophallus yang termasuk dalam suku Araceae (talas-talasan). Umumnya di Indonesia tanaman-tanaman dari marga Amorphophallus hanya dijumpai sebagai tanaman liar yang tumbuh di hutanhutan, di bawah rumpun bambu, sepanjang tepi sungai ataupun di lereng-lereng pegunungan (Anggraeni dkk., 2011).

Walur memiliki hubungan kerabat dekat dengan suweg.  Hal ini secara sederhana dapat dijelaskan dengan memperhatikan nama latin dari walur dan suweg itu sendiri.Walur dan suweg termasuk dalam jenis Amorphophallus paenifolius, namun secara rinci keduanya saling berbeda varietas, yakni varietas sylvestris untuk walur dan varietas hortensis untuk suweg. Adapun nama latin untuk walur ialah  Amorphophallus paenifolius var. sylvestris sedangkan nama latin untuk suweg ialah Amorphophallus paenifolius var. hortensis (Azrianingsih, 2014).  Istilah varietas hortensis menunjukkan bahwa suweg masih menjadi tanaman yang banyak ditanam sebagai tanaman sampingan. Sementara paham varietas sylvestris menunjukkan bahwa walur merupakan tanaman yang tidak dieksplorasi, hanya ditemukan tumbuh secara liar, dan menjadi tanaman pengganggu (Anggraeni dkk., 2011). Adapun secara rinci, menurut Azrianingsih (2014) klasifikasi ilmiah dari walur itu sendiri adalah sebagai berikut.

Kingdom        : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas                : Liliopsida (Monokotil)

Ordo                 : Arales

Famili               : Araceae (suku talas-talasan)

Genus               : Amorphophallus

Spesies            : Amorphophallus paenifolius var. sylvestris

http://www.rarepalmseeds.com/images/AmoPae.jpg

Tanaman jenis Amorphophallus paenifolius juga sering disebut elephant foot yam. Umumnya penyebaran tanaman jenis ini ada pada wilayah tropis dan sub-tropis seperti di India, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut memiliki kondisi lingkungan, sumber nutrisi hingga iklim yang cocok dan optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan Amorphophallus paenifolius (Singh dan Wadhwa, 2014). Amorphophallus paenifolius tumbuh di dataran rendah sampai 800 m di atas permukaan laut. Untuk pertumbuhannya diperlukan tempat yang agak terlindungi atau ternaungi oleh tanaman pelindung (Dewanto, 2012). Kisaran suhu idealnya adalah 25-35C dengan curah hujan 1000-1500 mm/tahun (Budi, 2008). Adapun siklus hidup walur dikenal dengan istilah tanaman semusim. Dalam pengertian botani, tanaman semusim ialah tumbuhan yang menyelesaikan seluruh siklus hidupnya dalam rentang setahun (Dewanto, 2012). Dalam satu siklus hidupnya, walur akan mengalami periode pertumbuhan (vegetasi) pada musim penghujan dan periode istirahat pada musim kemarau (Singh dan Wadhwa, 2014). Adapun berikut ini merupakan kenampakan dari walur yang didapat dari lokasi perkebunan porang Bpk. Hartoyo di wilayah Caruban, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur.

Walur memiliki ciri khas tertentu hingga dapat menjadi pembeda di antara tanaman jenis lain dalam marga Amorphophallus seperti porang, iles-iles dan suweg. Ciri-ciri walur adalah tangkai daun berwarna hijau (sampai hijau tua) disertai bercak noda putih dengan kondisi permukaannya yang kasar hingga disertai duri-duri kecil, katak (bulbil) nya ada di tangkai daun dalam jumlah sedikit, kulit umbi berwarna abu-abu hingga coklat yang  disertai tonjolan “ entik ”  dan daging  umbi

berwarna putih kekuningan hingga kejinggaan. Walur juga dicirikan dengan struktur umbi yang berserat kasar dengan kadar mannan yang sangat sedikit atau maksimal 5% (Azrianingsih, 2014 ; Hartoyo, 2014). Sementara itu, kandungan kalsium oksalat pada walur menunjukkan nilai tertinggi dibanding porang, iles-iles ataupun suweg, dimana bentuk kalsium oksalat tersebut terlihat menyerupai jarum (Lukitaningsih et al., 2012).

Walur sering dianggap sebagai tanaman pengganggu bagi budidaya tanaman umbi-umbian, termasuk ketika melakukan budidaya porang atau iles-iles. Hal tersebut dikarenakan walur tidak jarang untuk tumbuh dan berbaur di kebun porang atau iles-iles. Beberapa hal membuat walur jarang dimanfaatkan dan dianggap tidak memiliki nilai ekonomi antara lain umbi walur rasa dan baunya tidak enak, serta dapat menimbulkan gatal (Anggraeni  et al., 2011). Salah satu pemanfaatan umbi walur ialah pembuatan pati dari umbi walur untuk diaplikasikan pada cookies dan mie. Penggunaan walur untuk bidang pangan harus disertai dengan penurunan kadar oksalat dengan melibatkan perendaman umbi walur pada asam klorida dan natrium bikarbonat (Purnomo, 2011).

Komponen penyusun umbi walur bukan hanya sebatas pati dan poliosa saja, namun masih terdapat komponenkomponen lain didalamnya sehingga umbi walur pada dasarnya memiliki berbagai potensi untuk dapat dieksplorasi. Penelitian di bidang medicinal properties menunjukkan bahwa tanaman jenis Amorphophallus paenifolius berpotensi untuk digunakan sebagai antioksidan, antifungal dan anti bakteri (Gajare, 2014). Namun di sisi lain, terdapat kendala yang muncul dan sering mengganggu upaya eksplorasi pada umbi jenis Amorphophallus paenifolius, seperti umbi walur dan umbi suweg.  Kendala yang dimaksud berupa adanya kandungan kalsium oksalat pada umbi-umbi tersebut yang mampu memicu timbulnya rasa gatal dan iritasi. Selain itu, umbi jenis Amorphophallus paenifolius tersebut juga mampu menimbulkan bau yang menyengat dan tidak enak (Ramalingam et al., 2010).

artikel

No Comments to “Walur (Amorphophallus paenifolius var. sylvestris)”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*