Home » artikel » Pengembang Biakan Cacing Tanah

Pengembang Biakan Cacing Tanah

18 November 2015

Pengembang Biakan Cacing Tanah

Bahan-bahan Media Biak

Bahan yang dipakai untuk perkembang biakan cacing tanah adalah campuran kompos dengan beberapa bahan organik (limbah pertanian, limbah pasar), yang sudah terfermentasi. Campurkan kotoran hewan ke dalamnya dengan perbandingan 70 media hidup dan 30 kotoran hewan. Kapur bisa ditambahkan sebanyak 1 dari media hidup untuk mendapatkan pH netral (Sugiantoroa, 2012). Media sudah dianggap cocok apabila pH nya mencapai 6,0 – 7,2 ; tingkat kelembaban 15 – 30%  dan suhu antara 15 – 25ºc. Kemudian masukkan cacing tanah kedalamnya (Prayitno, 2004).

Cacing tanah dapat memanfaatkan bahan organik yang berasal dari kotoran hewan ternak, serasah, atau bagian tanaman dan hewan yang telah mati, untuk pertumbuhannya (Brata 2009; Nurwati 2011). Cacing tanah lebih menyukai kotoran sapi dibandingkan kotoran hewan ternak yang lain, karena kotoran sapi mengandung unsur nitrogen yang tinggi (Hanafiah et al. 2010). Sesuai dengan laporan Waluyo et al, (1990) kombinasi kotoran sapi dengan 15 – 25% bahan organik merupakan kombinasi yang ideal untuk budidaya cacing tanah.

Baglog bekas jamur bisa digunakan  karena teksturnya sudah lunak dan tidak mengalami pembusukan lagi (Budiarti et al, 1990). Baglog jamur juga memilik kandungan protein yang tinggi sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai media biak cacing tanah. Kandungan nutrisi baglog jamur bisa dilihat pada tabel berikut:

Tabel Kandungan nutrisi media tanam jamur tiram putih setelah panen (limbah)

Nutrisi  kandungan(%)
Protein 9,15
Air 12,26
Abu 32,35
Kalsium (Ca) 1,45
Phospor (P) 0,39
Lemak 0,40
Garam (NaCl) 0,47

Sumber: Yuliastuti dan Adhi (2003)

Beberapa syarat bahan organik yang dapat digunakan sebagai media untuk budidaya cacing tanah antara lain mempunyai daya serap yang tinggi untuk menahan air, gembur, tidak mudah menjadi padat, mudah terurai, tidak mengandung tanah permukaan, berfungsi sebagai pakan cacing tanah, tidak mengandung tanin (alkaloid), terdiri dari bahan organik berserat yang telah mengalami pelapukan antara 50% sampai 65%, kandungan protein yang dapat langsung dicerna dalam media tidak terlalu tinggi, dan tidak mengandung minyak astiri yang berbau tajam (Rahmat, 1999).

Wadah untuk bibit cacing tanah biasanya adalah kotak berbahan plastik ukuran 43cm  x 35cm x 16 cm. Media dimasukkan kedalam wadah sampai mencapiai ketinggian 5cm dari dasar wadah. Agar cacing tanah tidak terlalu susah untuk mencapai permukaan tempat makanan tersedia. Untuk meningkatkan produktifitas cacing tanah, media pemeliharaan harus dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai atau kurang lebih sama dengan habitat maupun lingkungan tempat tumbuhnya dialam bebas (Duyatmo, 1999).

Pemilihan Bibit Calon Induk

Untuk perkembang biakan yang bertujuan untuk diternakan secara komersial akan lebih baik bila digunakan indukan yang diambil secara khusus dari peternakan cacing yang sudah ada. Dengan demikian kebutuhan indukan dalam jumlah yang cukup besar akan dapat tepenuhi dengan cepat. Namun bila ingin memulai dari skala kecil, hal itu tidak mutlak harus dilakukan. Indukan dapat diusahakan dengan mencari langsung dari alam. Hal ini akan sangat ekonomis namun tentu diperlukan kejelian untuk menemukan indukan yang baik. Pilih indukan cacing untuk bibit berumur ±2-3 bulan dengan ciri indukan yang sehat antara lain cacing dewasa yang sudah memiliki gelang (clitelum) pada tubuh bagian depan, tidak bau dan kelihatan segar (Prayitno, 2004).

Pemasukan atau Penanaman Bibit Cacing Tanah

Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah telah siap, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing anah yang ada tidak sekaligus dimasukkan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit.

Amati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru kemudian semua bibit cacing bisa dimasukkan. Pengamatan dilakukan setiap tiga jam sekali, apakah ada bibit cacing yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media. Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada cacing yang meninggalkan media berarti cacing tanah tersebut betah dan cocok dengan media. Sebaliknya jika media tidak cocok, maka cacing tanah akan berkeliaran di permukaan. Untuk mengatasinya maka harus dilakukan perbaikan media. Perbaikan media budidaya cacing tanah dapat dilakukan dengan cara disiram dengan air, kemudian diperas. Lakukan secara berulang hingga air perasannya tidak berwarna hitam atau cokelat tua (Harijadi, 2013).

 Pemberian pakan

Cacing harus mendapat suplai makanan yang dibutuhkan setiap harinya . Makanan tersebut berupa kotoran hewan, baik kotoran sapi, kambing atau ayam. Cacing juga sangat menyukai pakan yang lembek seperti sayuran dan buah-buahan yang agak busuk. Banyaknya makanan yang dibutuhkan adalah seberat cacing yang dimasukkan ke dalam kotak pemeliharaan. Jika berat cacing mencapai 2 kg, maka pakan yang diberikan juga 2 kg. Bahan organik yang dibutuhkan cacing tanah harus mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral (Abad, 2013).

Sebelum dimasukkan ke dalam kotak pemeliharaan, pakan cacing harus dijadikan bubuk atau bubur. Untuk bubur, perbandingan air dengan pakan adalah 1:1, setelah dicapur, bahan itu diaduk hingga rata. Bubur pakan ditaburkan secara merata di atas 1/3 bagian permukaan media hidup cacing tanah (Duyatmo, 1999).

artikel

No Comments to “Pengembang Biakan Cacing Tanah”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*