Home » artikel » Tanaman Tebu (Saccarum officinaru)

Tanaman Tebu (Saccarum officinaru)

21 October 2015

Tanaman Tebu (Saccarum officinaru)

Tanaman tebu merupakan famili Gramineae (keluarga rumput) dengan nama latin Saccharum officinarum yang sudah dibudidayakan sejak lama di daerah asalnya di Asia. Di daerah Jawa Barat disebut Tiwu, di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut Tebu atau Rosan, (Syakir dan Indrawanto, 2010). Gambar tebu dapat dilihat pada gambar berikut.

Adapun sistematika ilmiah tanaman tebu menurut Syakir dan Indrawanto (2010) sebagai berikut.

  • Divisi               : Spermatophyta
  • Subdivisi          : Angiospermae
  • Kelas               : Monocotyledone
  • Ordo                : Graminales
  • Famili              : Graminae
  • Genus             : Saccharum
  • Species           : Saccarum officinaru

Kandungan sukrosa di dalam tanaman tebu sebesar 8-15% dari bobot batang tebu. Batang tebu mengandung serat dan kulit batang sebesar 12,5% dan nira sebesar 82,5%, yang terdiri dari gula, mineral, dan bahan-bahan non gula lainya, (Gountara & Wijandi, 1985). Menurut Soerjadi (1979), komposisi batang tebu terdiri dari monosakarida 0,5%-1,5%, sukrosa 11%-19%, zat organik abu 0,5%-1,5%, sabut (selulosa, pentosan) 11%-19%, asam organik 0,15%, bahan lain lilin, zat warna, ikatan N, air 65%-75%.

Nira Tebu

Kandungan nira tebu terbanyak  terdapat pada batang tebu  sebesar 82,5%. Kandungan utama dari nira tebu adalah sukrosa, terdapat dalam nira tebu sebanyak 8 – 21 % dari jumlah nira tebu. Sukrosa atau gula merupakan disakarida dengan rumus kimia C12H22O11. Sukrosa ditemukan dalam bentuk bebas (tidak berikatan dengan senyawa lain) di dalam tanaman, umumnya terdapat pada tanaman tebu (Saccharum officinarum) dan bit (Beta vulgaris), (Paryanto dkk,  1999).

Nira yang didapatkan dari batang tebu melalui proses ekstrasi (penggilingan) mempunyai ciri khas warna tertentu dan mengandung kadar glukosa yang tinggi. Menurut Puri (2005) menyatakan bahwa nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis, berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5,5-6,0. Santoso (1993) menyatakan bahwa nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam, berbuih putih, dan berlendir. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan, rasanya asam serta baunya menyengat. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi dan Sugiyono, 1992). Umumnya nira terdiri atas 73-76% air, 11-16% serat, dan 11-16% padatan-padatan terlarut dan tersuspensi (James & Chen, 1985).

Kandungan nira pada setiap tebu berbeda-beda, hal ini di sebabkan salah satunya karena kesuburan tanah dimana mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu sehingga mempengaruhi kandungan sukrosa pada tebu. Reece (2003), menyatakan bahwa komposisi nira tebu tidak akan selalu sama, bergantung pada jenis tebu, kondisi geografis, tingkat kematangan serta cara penanganan selama penebangan dan pengangkutan.

Sifat –Sifat Nira Tebu

Kondisi dan sifat-sifat nira akan menetukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan. Nira mempunyai rasa manis berbau harum dan tidak berwarna. Rasa manis nira disebabkan bahan-bahan dari berbagai jenis gula seperti sukrosa, fruktosa glukosa, dan maltosa. Di samping itu, terdapat bahan lain seperti protein, lemak,air, dan pati (Gountara & Wijandi, 1985).

Menurut Reece (2003), komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu yaitu terdiri dari bahan gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, oligosakarida), garam (garam organik dan anorganik), asam organik (asam karboksilat dan asam amino). Adapun bahan-bahan organik yang bukan gula seperti protein, pati, polisakarida terlarut, lilin, lemak, dan fosfolipid.

Menurut Nubantonis (2004), bahan dalam nira tebu berdasarkan sifat fisiko-kimianya terbagi menjadi empat, terdapat sebagai berikut.

Tabel Fisika Dan Kimia Nira Tebu (Nubanotis, 2004)

No

Jenis Bahan

Ukuran (mm)

Jumlah (%)

1 Bahan kasar yang terdispersi.

≥ 0.0001

5

2 Bahan koloid

0.0001-0.000001

0.05-0.30

3 Molekul dan ion yang terdispersi

≤ 0.000001

8-21

4 Air

<<<<0.000001

77-88

Kerusakan nira banyak sekali macamnya, namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari, 1986). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi, derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi, 1979).

Faktor yang mempengaruhi kerusakan pada tebu antara lain adalah penyimpanan setelah di panen, semakin lamawaktu penyimpanan maka akan semakin rendah kadar sukrosanya. Penyimpanan tebu biasanya di tumpuk dalam suatu ruangan, sehingga suhu didalam menjadi lebih panas. Hal ini menyebabkan inversi pada sukrosa. Selain itu akan merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang menyebabkan batang tebu menjadi rusak. Nira yang disimpan seleama enam jam akan kehilangan sukrosa sebanyak 14,3% (Gouatara & Wijandi, 1985)

artikel

No Comments to “Tanaman Tebu (Saccarum officinaru)”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*