Home » artikel » Kepel (Stelechocarpus burahol)

Kepel (Stelechocarpus burahol)

26 October 2015

Kepel (Stelechocarpus burahol)

Kepel (Stelechocarpus burahol) merupakan salah satu famili Annonacecae, merupakan flora asli dari Indonesia. Tanaman ini berupa pohon yang bisa mencapai tinggi lebih dari 20 meter. Batangnya lurus berwarna coklat tua dengan sedikit berbenjol-benjol bekas tempat keluarnya bunga dan buah. Buahnya berbentuk bulat atau bulat lonjong dan meruncing pada bagian pangkalnya, warnanya coklat keabu-abuan. Daunnya tunggal dan berbentuk lonjong meruncing pada bagian ujungnya bertepi rata berwarna hijau tua (Lamoureux, 1980).

Klasifikasi ilmiah kepel adalah sebagai berikut:

Kingdom        :  Plantae

Subkingdom :  Trachebionta

Superdivisi    :  Spermatophyta 

Divisi             :  Magnoliophyta

Kelas            :  Magnoliopsida

Subkelas       :  Magnoliales 

Famili             :  Annonaceae 

Genus            :  Stelechocarpus

Spesies         :  Stelechocarpus burahol

(Blume) Hook &Thompson, (USDA 2007).

Pohon kepel tegak dengan tinggi mencapai 25 m. Daunnya berwarna hijau gelap berbentuk lanset (bulat telur), tidak berbulu, dan merotal tipis dengan panjang pangkal daun mencapai 1,5 cm. Tajuk atau kanopinya berbentuk kubah meruncing (layaknya pohon cemara). Cabang-cabangnya mendatar, sementara batangnya berwarna coklat cenderung hitam dengan diameter berkisar 40 cm. Bunga yang muncul pada tonjolan-tonjolan batang adalah bunga yang berkelamin tunggal, mula-mula berwarna hijau kemudian berubah menjadi keputih-putihan. Bunga jantan terletak di batang sebelah atas dan di cabang-cabang yang lebih tua, berkumpul sebanyak 8-16 kuntum dengan diameter 1 cm. Sementara bunga betina kepel hanya berada di pangkal batang dengan diameter mencapai 3 cm. Buah bergerombol antara 1-13 buah. Panjang tangkai buah mencapai 8 cm. Buah yang matang hampir bulat bentuknya, berwarna kecoklat-coklatan, berdiameter 5-6 cm, dan berisi sari buah yang dapat dimakan. Bijinya berbentuk menjorong, berjumlah 4-6 butir, dengan panjang sekitar 3 cm. Berat segar buah antara 62-105 g, dengan bagian yang dapat dimakan sebanyak 49% sedangkan bijinya 27% dari berat buah segar. Buah kepel dianggap matang saat digores kulit buahnya terlihat berwarna kuning atau coklat muda (Mogea, 2001).

kepel berbentuk bulat dan pangkalnya runcing (seperti buah buni) dengan warna coklat keabu-abuan, tumbuh pada bagian batang, berasa manis, dan beraroma harum. Daging buah berwarna kuning kecoklatan dengan biji berukuran besar dan berwarna coklat tua kehitaman, biasanya dalam satu buah terdapat 3-4 biji (Mogea, 2001).

Tumbuhan ini biasanya berbunga pada bulan September-Oktober. Buah kepel dapat dipanen untuk pertama kali pada saat enam tahun setelah penanaman.Penyebaran tumbuhan ini mulai dari kawasan Asia Tenggara sampai ke kawasan Malaysia dan Kepulauan Salomon (Mogea, 2001). Pada saat ini jumlah tumbuhan kepel semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya kepercayaan masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang mengatakan bahwa tumbuhan ini hanya boleh ditanam di sekitar keraton, sedangkan di Jawa Barat tumbuhan ini jarang ditanam karena daging buahnya hanya sedikit sehingga dianggap kurang menguntungkan.  Padahal tumbuhan ini sangat potensial karena kepel mempunyai senyawa-senyawa  bioaktif diantaranya flavonoid dan polifenol serta kandungan Vitamin C dalam buah kepel sangat tinggi yang potensial sebagai deodoran oral, selain itu daun kepel juga potensial sebagai antioksidan karena terkandung senyawa antioksidan dalam flavonoid yang ada di dalam daun kepel. Sunarni dkk, (2007)  menyatakan bahwa identifikasi fraksi etanol infusa daun kepel memiliki kandungan flavonoid dengan  aktivitas  antioksidan yang kuat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Warningsih (1995) buah kepel mengandung senyawa alkaloid dan polifenol serta memiliki fungsi sebagai antiimplamantasi.

artikel

No Comments to “Kepel (Stelechocarpus burahol)”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*