Monthly Archives: October 2015

Tanaman Jarak Cina (Jatropha multifida L.)

30 October 2015

Tanaman Jarak Cina (Jatropha multifida L.)

Jatropha multifida adalah tanaman semak endemik Amerika Selatan, termasuk dalam marga Euphorbiceae.  Jarak Cina ditemukan tumbuh subur di kawasan Asia Selatan, seperti Thailand dan Indonesia.  Oleh masyarakat Indonesia, tanaman ini disebut juga tanaman Yodium yang dipercaya mempunyai kandungan obat sehingga sering digunakan untuk mengobati luka baru (Kosasi et al., 1989).  Tanaman ini banyak ditemukan di halaman rumah masyarakat sebagai tanaman hias, dapat tumbuh hingga 3 meter, mempunyai karakteristik pohon seperti pohon Jarak pada umumnya, namun daunnya tidak selebar daun jarak biasa (jarak pagar).

Jarak Cina telah banyak dimanfaatkan dalam bidang medis terutama untuk mengobati infeksi.  Pada penelitian yang dilakukan oleh Muntiaha dkk. (2014), krim getah Jarak Cina konsentrasi 10% dapat mempercepat proses penyembuhan luka sayat terinfeksi Staphylococcus aureus pada kelinci.  Penelitian dalam bidang medis yang lain dilakukan oleh Dougnon et al. (2012), menunjukkan adanya aktivitas hemostatik yaitu dapat mengurangi waktu pendarahan pada luka dalam tikus.  Dari kedua contoh penelitian tersebut, aktivitas antimikroba dan hemostatik dihasilkan oleh senyawa flavonoid dan tanin yang terdapat dalam tanaman Jarak Cina.

Selain flavonoid dan tanin, terdapat beberapa senyawa lain yang dilaporkan pada penelitian Jarak Cina berdasarkan review yang dilakukan oleh Sabandar (2010), terdapat komponen fitokimia lain : multidione, multifidone, multifolone, (4E)-jatrogossidentadione, (4E)-jatrogossidentadione acetate, labaditin, biobellein, multifidol, multifidin A dan multifidol glucoside.  Pada tanaman Jarak Cina terdapat pula toksin dari golongan toxalbumin bernama jatropine yang dapat menyebabkan aglutinasi dan hemolisis sel darah merah.

Ekstrak Jarak Cina dengan metode maserasi telah dilaporkan mempunyai aktivitas aktimikroba pada beberapa penelitian.  Ekstrak Jarak Cina dengan konsentrasi 0,7 mg/ml mempunyai aktivitas antimikroba tertinggi (diameter hambatan) terhadap Eschericia coli (7 mm)dan Staphylococcus aureus(15 mm), namun pada Candida albicans diameter hambatan sebesar 15 mm didapat pada penambahan ektsrak dengan konsentrasi 12 mg/ml(Sari dan Sari, 2011).  Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Aransiola et al. (2014) menggunakan getah Jarak Cina, diameter hambat terhadap Eschericia coli didapat mulai penambahan getah Jarak Cinapada konsentrasi 66 mg/ml dan 16 mg/ml terhadap Staphylococcus aureus.  Diameter hambat paling tinggi didapat pada penambahan getah Jarak Cina konsentrasi 1050 mg/ml yaitu sebesar 14 mm pada Eschericia coli dan 20 mm Staphylococcus aureus.Darmawi dkk. (2013) juga melaporkan bahwa getah Jarak Cina dapat menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus sebesar 13 mm pada penambahan konsentrasi 25% dan 15,7 mm pada penambahan konsentrasi 100%.  Aktivitas antimikroba tersebut dikarenakan adanya senyawa flavonoid dan tanin (Muntiaha dkk., 2014).

Ekstraksi pada Tanaman Jarak Cina

Tanaman Jarak Cina mulai banyak dikembangkan di berbagai negara.  Beberapa penelitian terkait ekstraksi dari tanaman Jarak Cina dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol antara lain : yang dilakukan oleh Sari dan Sari (2011) yang digunakan sebagai antibakteri, Falodun et al. (2013) yang diaplikasikan sebagai anti inflamasi dan analgesik serta Latifah dkk. (2014) yang diaplikasikan pada penghantar konduktivitas.  Mayoritas senyawa target dari ekstraksi Jarak Cina adalah senyawa fenolik.

Selain dari golongan fenolik, Falodun et al. (2013) juga melaporkan adanya senyawa karbohidrat, glikosida, alkaloid dan saponin pada akar Jarak Cina, namun pada getah Jarak Cina tidak ditemukan senyawa alkaloid dan saponin (Dougnon et al., 2012).  Belum diketahui secara jelas kuantitas atau kadar dari masing-masing senyawa dari tanaman Jarak Cina karena pada penelitian yang telah dilakukan hanya sebatas uji kualitatif berdasarkan reaksi dan atau presipitasi dari mayoritas golongan senyawa kimia tanaman (metode standar) (Evans, 2002; Falodun et al., 2013 dan Dougnon et al., 2012).

Alang-Alang (Imperata cylindrica)

29 October 2015

Tanaman Alang-Alang (Imperata cylindrica)

Alang-alang (Imperata cylindrica) merupakan tumbuhan yang dikenal sebagai gulma, tumbuh  merumput dengan tunas yang merayap di dalam tanah. Tingginya bisa mencapai 30 – 180 cm, mudah berkembang biak, mempunyai rimpang kaku yang tumbuh menjalar (Hembing, 2008). Alang-alang ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Klasifikasi alang-alang yaitu sebagai berikut (Heyne, 1987):

Kerajaan           : Plantae

Divisi               : Magnoliophyta

Kelas                : Liliopsida

Ordo                : Poales

Famili               : Poaceae

Genus               : Imperata

Spesies : Imperata cylindrica

Alang-alang sering ditemukan pada tempat-tempat yang menerima curah hujan lebih dari 1000 mm, atau pada kisaran sebesar 500-5000 mm. Di beberapa negara, spesies ini tumbuh pada ketinggian dari batas permukaan air laut hingga 2000 m, dan tercatat tumbuh pada ketinggian hingga 2700 m dpl di Indonesia. Rumput ini dijumpai pada kisaran habitat yang luas mencakup perbukitan pasir kering di lepas pantai dan gurun, juga rawa dan tepi sungai di lembah. Tumbuhan ini tumbuh di padang-padang rumput, daerah-daerah pertanian, dan perkebunan. Selain itu juga pada kawasan-kawasan hutan gundul (Forage, 2012).

Kandungan Kimia Alang-Alang

Metabolit yang telah ditemukan pada akar alang-alang terdiri dari arundoin, fernenol, isoarborinol, silindrin, simiarenol, kampesterol, stigmasterol, ß-sitosterol, skopoletin, skopolin, p-hidroksibenzaladehida, katekol, asam klorogenat, asam isoklorogenat, asam p-kumarat, asam neoklorogenat, asam asetat, asam oksalat, asam d-malat, asam sitrat, potassium (0,75% dari berat kering), sejumlah besar kalsium dan 5-hidroksitriptamin (Damayanti, 2008).

Damayanti (2008), menambahkan bahwa pada fraksi ekstrak yang larut dalam air akar alang-alang ditemukan golongan senyawa flavon tanpa gugus OH bebas, flavon, flavonol tersubstitusi pada 3-0H, flavanon, atau isoflavon. Jayalakshmi, et al (2011), menyebutkan bahwa akar alang-alang mengandung senyawa yang dapat berfungsi sebagai antimikroba yaitu golongan triterpenoid diantaranya cylindrin, arundoin, ferneon, isoarborinol dan simiarenol.

Menurut penelitian Ayeni dan Yahaya (2010), menunjukkan bahwa ekstrak daun alang-alang mengandung tanin, saponin, flavonoid, terpenoid, alkaloid, fenol dan cardiac glycosides. Kandungan senyawa fitokimia tersebut dalam farmasi dapat digunakan sebagai obat untuk diare, sakit kepala, penyakit kulit, saluran usus. Selain itu, juga dapat digunakan sebagai pestisida, insektisida dan herbisida dalam pertanian.

Manfaat Alang-Alang

Menurut Hembing (2008), khasiat akar alang-alang sangat banyak sebagai obat untuk berbagai gangguan kesehatan, seperti: batu ginjal, infeksi ginjal, kencing batu, batu empedu, buang air kecil tidak lancar atau terus-menerus, air kemih mengandung darah, prostat, keputihan, batuk rejan, batuk darah, mimisan, pendarahan pada wanita, demam, campak, radang hati, hepatitis, tekanan darah tinggi, urat saraf melemah, asma, radang paru-paru, jantung koroner, gangguan pencernaan, diare, dan lain-lain.

Manfaat senyawa yang terkandung pada akar alang-alang (Adina, 2012):

a. Dalam akar alang-alang terkandung imperanene yang ternyata mempunyai efek menghambat agregasi trombosit (sel pembeku darah) sesuai hasil penelitian para ahli dari Universitas di Jepang. Efek menghambat agregasi ini sama dengan efek yang ditimbulkan oleh asetosal (asam asetil salisilat) yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah pada penderita infrak jantung.

b. Cylindol A yang terkandung di dalam akar alang-alang mempunyai efek menghambat enzim 5- lipoksigenase. Dengan terhambatnya 5-lipoksigenase maka pembentukan prostaglandin yang menimbulkan rasa sakit atau nyeri pada otot dapat terhalangi. Bahan lain yang terkandung, yaitu Cylendrene mempunyai aktivitas menghambat kontraksi pembuluh darah pada otot polos sehingga sirkulasi darah tetap lancar.

c. Graminone B menghambat penyempitan pembuluh darah aorta (pembuluh darah terbesar).

d. Dari hasil pengujian ternyata tumbuhan yang juga disebut ilalang ini mempunyai efek farmakologis atau dengan kata lain tumbuhan ini mempunyai sifat: antipiretik (menurunkan panas), hemostatik (untuk menghentikan pendarahan), menghilangkan haus, dan diuretik (peluruh kemih).

Sawo Manila (Acrhras zapota L)

28 October 2015

Sawo Manila (Acrhras zapota L)

Divisi              : Spermatophyta

Sub divisi      : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Bangsa            : Ebenales

Suku                : Sapotaceae

Marga              : Achras

Jenis                : Acrhras zapota L(Sebayang, 2011)

Sawo yang disebut neesbery atau sapodilas adalah tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Meksiko dan Hindia Barat. Di Indonesia, tanaman sawo telah lama dikenal dan banyak ditanam mulai dari dataran rendah sampai tempat dengan ketinggian 1200 mdpl, seperti di Jawa dan Madura. Sawo manila termasuk sawo budidaya.

Kandungan Kimia dan Khasiat dari Sawo Manila

Daun sawo manila (Achras zapota L) mengandung flavonoid dan saponin sedangkan batangnya mengandung flavonoid dan tanin.Getah buah Achras zapota L berkhasiat sebagai obat mencret, disamping itu getahnya dapat digunakan sebagai campuran gula-gula.Beberapa bagian pohon sawo juga digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk mengatasi diare (tanin), demam (tanin dan biji), dan bahan bedak untuk memulihkan tubuh sehabis bersalin (bunga) (Anonymousa, 2012).

Kandungan dan Khasiat Daun Kepel

27 October 2015

Kandungan dan Khasiat Daun Kepel

Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th. dikenal dengan nama kepel merupakan tanaman yang mempunyai beberapa aktivitas biologis secara tradisional digunakan sebagai obat untuk menurunkan kadar asam dan diuretik. Cos dkk (1998) melaporkan melaporkan beberapa flavonoid selain dapat menghambat kerja enzim xanthin oksidase juga dapat berperan sebagai antioksidan penangkap radikal bebas.Sutomo (2003) melaporkan bahwa fraksi tidak larut petroleum eter dari ekstrak metanol daun kepel mampu menurunkan kadar asam urat, dan hasil identifikasinya menunjukkan adanya flavonoid. Selain itu daging buah, biji, dan akar Stelechocarpus burahol mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Biji juga mengandung alkaloid sedangkan daunnya mengandung polifenol dan flavonoid (Hutapea, 1994). Sebagian masyarakat memanfaatkan daunnya sebagai campuran minuman (teh). Daun kepel mengandung flavonoid yang mempunyai aktifitas antioksidan. Hal ini sesuai dengan Tisnadjaja et al. (2006) dan Sunarni et al. (2007) yang menyebutkan bahwa isolat flavonoid dari daun kepel menunjukkan aktivitas antioksidan penangkap radikal DPPH. Kegunaan burahol yang lain adalah untuk pencegahan kehamilan (alat kontrasepsi), peluruh kencing dan mencegah radang ginjal (Verheij dan Coronell, 1997). Daun kepel digunakan sebagai bahan baku produksi minuman celup dikarenakan pada daun kepel terkandung zat antioksidan yaitu flavonoid yang bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas (anti kanker), menghaluskan kulit (Verheij dan Coronell, 1997).

Aplikasi Tanaman Kepel

Aplikasi pada buah kepel atau burahol ini adalah untuk pencegahan kehamilan (alat kontrasepsi), peluruh kencing dan mencegah radang ginjal (Verheij dan Coronell, 1997). Selain itu buah kepel telah digunakan sebagai pewangi dengan mengkonsumsi buah kepel dapat mengurangi bau keringat, bau nafas, dan bau air seni  (Heyne 1987;  Verheij dan Coronell 1997).Sedangkan Aplikasi daun kepel digunakan sebagai bahan baku produksi minuman celup dikarenakan pada daun kepel terkandung zat antioksidan yaitu flavonoid yang bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas (anti kanker) dan menghaluskan kulit (Heyne 1987;  Verheij dan Coronell 1997).

Kepel (Stelechocarpus burahol)

26 October 2015

Kepel (Stelechocarpus burahol)

Kepel (Stelechocarpus burahol) merupakan salah satu famili Annonacecae, merupakan flora asli dari Indonesia. Tanaman ini berupa pohon yang bisa mencapai tinggi lebih dari 20 meter. Batangnya lurus berwarna coklat tua dengan sedikit berbenjol-benjol bekas tempat keluarnya bunga dan buah. Buahnya berbentuk bulat atau bulat lonjong dan meruncing pada bagian pangkalnya, warnanya coklat keabu-abuan. Daunnya tunggal dan berbentuk lonjong meruncing pada bagian ujungnya bertepi rata berwarna hijau tua (Lamoureux, 1980).

Klasifikasi ilmiah kepel adalah sebagai berikut:

Kingdom        :  Plantae

Subkingdom :  Trachebionta

Superdivisi    :  Spermatophyta 

Divisi             :  Magnoliophyta

Kelas            :  Magnoliopsida

Subkelas       :  Magnoliales 

Famili             :  Annonaceae 

Genus            :  Stelechocarpus

Spesies         :  Stelechocarpus burahol

(Blume) Hook &Thompson, (USDA 2007).

Pohon kepel tegak dengan tinggi mencapai 25 m. Daunnya berwarna hijau gelap berbentuk lanset (bulat telur), tidak berbulu, dan merotal tipis dengan panjang pangkal daun mencapai 1,5 cm. Tajuk atau kanopinya berbentuk kubah meruncing (layaknya pohon cemara). Cabang-cabangnya mendatar, sementara batangnya berwarna coklat cenderung hitam dengan diameter berkisar 40 cm. Bunga yang muncul pada tonjolan-tonjolan batang adalah bunga yang berkelamin tunggal, mula-mula berwarna hijau kemudian berubah menjadi keputih-putihan. Bunga jantan terletak di batang sebelah atas dan di cabang-cabang yang lebih tua, berkumpul sebanyak 8-16 kuntum dengan diameter 1 cm. Sementara bunga betina kepel hanya berada di pangkal batang dengan diameter mencapai 3 cm. Buah bergerombol antara 1-13 buah. Panjang tangkai buah mencapai 8 cm. Buah yang matang hampir bulat bentuknya, berwarna kecoklat-coklatan, berdiameter 5-6 cm, dan berisi sari buah yang dapat dimakan. Bijinya berbentuk menjorong, berjumlah 4-6 butir, dengan panjang sekitar 3 cm. Berat segar buah antara 62-105 g, dengan bagian yang dapat dimakan sebanyak 49% sedangkan bijinya 27% dari berat buah segar. Buah kepel dianggap matang saat digores kulit buahnya terlihat berwarna kuning atau coklat muda (Mogea, 2001).

kepel berbentuk bulat dan pangkalnya runcing (seperti buah buni) dengan warna coklat keabu-abuan, tumbuh pada bagian batang, berasa manis, dan beraroma harum. Daging buah berwarna kuning kecoklatan dengan biji berukuran besar dan berwarna coklat tua kehitaman, biasanya dalam satu buah terdapat 3-4 biji (Mogea, 2001).

Tumbuhan ini biasanya berbunga pada bulan September-Oktober. Buah kepel dapat dipanen untuk pertama kali pada saat enam tahun setelah penanaman.Penyebaran tumbuhan ini mulai dari kawasan Asia Tenggara sampai ke kawasan Malaysia dan Kepulauan Salomon (Mogea, 2001). Pada saat ini jumlah tumbuhan kepel semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh adanya kepercayaan masyarakat di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang mengatakan bahwa tumbuhan ini hanya boleh ditanam di sekitar keraton, sedangkan di Jawa Barat tumbuhan ini jarang ditanam karena daging buahnya hanya sedikit sehingga dianggap kurang menguntungkan.  Padahal tumbuhan ini sangat potensial karena kepel mempunyai senyawa-senyawa  bioaktif diantaranya flavonoid dan polifenol serta kandungan Vitamin C dalam buah kepel sangat tinggi yang potensial sebagai deodoran oral, selain itu daun kepel juga potensial sebagai antioksidan karena terkandung senyawa antioksidan dalam flavonoid yang ada di dalam daun kepel. Sunarni dkk, (2007)  menyatakan bahwa identifikasi fraksi etanol infusa daun kepel memiliki kandungan flavonoid dengan  aktivitas  antioksidan yang kuat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Warningsih (1995) buah kepel mengandung senyawa alkaloid dan polifenol serta memiliki fungsi sebagai antiimplamantasi.

Gula Merah Tebu

23 October 2015

Gula Merah Tebu

Gula merah tebu adalah gula yang dihasilkan dari pengolahan air atau sari tebu (Saccharum officinarum) melalui pemasakan dengan satu atau tanpa penambahan bahan tambahan makanan yang diperbolehkan dan bewarna kecoklatan. Gula merah tebu di produksi secara tradisional di beberapa daerah di indonesia. Produsen utama gula merah tebu adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Barat yang mencakup 71% dari total produksi nasional (Nurlela, 2002).

Pembentukan warna gula merah dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu kondisi bahan baku (nira) dan proses pembuatannya. Kondisi nira yang dimaksud adalah kondisi nira (segar atau asam) dan komposisi kimia nira (kadar air, protein, asam-asam organik, dan lemak). Sedangkan tahapan prosesnya adalah suhu proses, pengadukan selama pemasakan, serta kondisi kebersihan proses (sanitasi), dan alat-alat yang digunakan (Nurlela, 2002). Gula merah adalah hasil olahan nira yang berbentuk padat dan berwarna coklat kemerahan sampai dengan coklat tua. Nira yang digunakan biasanya berasal dari tanaman kelapa, aren, lontar atau siwalan, dan tebu (Dachlan, 1984). Selain untuk konsumsi di tingkat rumah tangga, gula merah juga menjadi bahan baku untuk berbagai industri pangan seperti industri kecap, tauco, produk cookies, dan berbagai produk makanan tradisional (Santoso, 1993). Gula merah juga mulai dikonsumsi di berbagai negara baik sebagai konsumsi secara langsung maupun sebagai bahan baku dan bahan tambahan dalam suatu industri.

Mutu gula merah ditentukan terutama dari rasa dan penampilannya yaitu bentuk, warna, kekeringan, dan kekerasannya. Gula yang berwarna lebih cerah dan agak keras lebih disukai serta memiliki harga jual lebih tinggi. Gula merah memiliki struktur dan tekstur yang kompak, tidak keras sehingga mudah dipatahkan, dan sekaligus terdapat kesan empuk (Santoso, 1993). Mutu gula merah tebu secara rinci dituangkan dalam SNI 01-6237-2000 yang dikeluarkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN). Gula merah hasil produksi pengrajin maupun yang didapatkan di pasaran pada umumnya dalam bentuk gula cetak dan mutunya beragam, ditinjau dari segi keawetan (daya simpan), warna, maupun kadar kotoran. Adanya keragaman warna dan kekerasan pada produk-produk gula merah di pasaran Indonesia dapat disebabkan oleh berbagai hal yaitu rendahnya teknologi pengolahan, adanya variasi bahan baku (kondisi nira) maupun proses pengolahan yang tidak konsisten (Santoso, 1993).

Tabel Spesifikasi Mutu Gula Merah Tebu (SNI 01 -6237-2000)

No

Jenis Uji

Satuan

Persyaratan

 

1

 

Keadaan

  • Bau
  • Rasa
  • Warna

 

  • Penampakan
 

Mutu I

Mutu II

Khas

Khas

Coklat muda, tua

Khas

Khas

Coklat muda, tua

2

Bagian yang tak larut dalam air ,b/b

%

Maks  1,0

Maks  5,0

3

Air ,b/b

%

Maks  8,0

Maks  10,0

4

Gula (dihitung sebagai glukosa),b/b

%

Min 65

Min  60

5

Gula Pereduksi ,b/b

%

Maks 11

Maks  14

Sumber : Badan Standarisasi Nasional, 2000

Gula merah tebu memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi kesehatan. Nilai gizi yang terkandung setiap 100 g mempunyai kandungan  kalori 356,0 mg, protein 0,4 mg, lemak 0,5 mg, hidrat arang 90,6 mg, kalsium 51,0 mg, fosfor 1,0 mg , besi 0,1 mg , vit.A 0,0 mg , vitamin B1 0,02 mg , vitamin B2 0,03 mg, vit.C 0,0 mg, Air 7,4 mg.

Tanaman Tebu (Saccarum officinaru)

21 October 2015

Tanaman Tebu (Saccarum officinaru)

Tanaman tebu merupakan famili Gramineae (keluarga rumput) dengan nama latin Saccharum officinarum yang sudah dibudidayakan sejak lama di daerah asalnya di Asia. Di daerah Jawa Barat disebut Tiwu, di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut Tebu atau Rosan, (Syakir dan Indrawanto, 2010). Gambar tebu dapat dilihat pada gambar berikut.

Adapun sistematika ilmiah tanaman tebu menurut Syakir dan Indrawanto (2010) sebagai berikut.

  • Divisi               : Spermatophyta
  • Subdivisi          : Angiospermae
  • Kelas               : Monocotyledone
  • Ordo                : Graminales
  • Famili              : Graminae
  • Genus             : Saccharum
  • Species           : Saccarum officinaru

Kandungan sukrosa di dalam tanaman tebu sebesar 8-15% dari bobot batang tebu. Batang tebu mengandung serat dan kulit batang sebesar 12,5% dan nira sebesar 82,5%, yang terdiri dari gula, mineral, dan bahan-bahan non gula lainya, (Gountara & Wijandi, 1985). Menurut Soerjadi (1979), komposisi batang tebu terdiri dari monosakarida 0,5%-1,5%, sukrosa 11%-19%, zat organik abu 0,5%-1,5%, sabut (selulosa, pentosan) 11%-19%, asam organik 0,15%, bahan lain lilin, zat warna, ikatan N, air 65%-75%.

Nira Tebu

Kandungan nira tebu terbanyak  terdapat pada batang tebu  sebesar 82,5%. Kandungan utama dari nira tebu adalah sukrosa, terdapat dalam nira tebu sebanyak 8 – 21 % dari jumlah nira tebu. Sukrosa atau gula merupakan disakarida dengan rumus kimia C12H22O11. Sukrosa ditemukan dalam bentuk bebas (tidak berikatan dengan senyawa lain) di dalam tanaman, umumnya terdapat pada tanaman tebu (Saccharum officinarum) dan bit (Beta vulgaris), (Paryanto dkk,  1999).

Nira yang didapatkan dari batang tebu melalui proses ekstrasi (penggilingan) mempunyai ciri khas warna tertentu dan mengandung kadar glukosa yang tinggi. Menurut Puri (2005) menyatakan bahwa nira merupakan cairan hasil penggilingan tebu yang berwarna coklat kehijauan. Nira tebu dalam keadaan segar terasa manis, berwarna coklat kehijau-hijauan dengan pH 5,5-6,0. Santoso (1993) menyatakan bahwa nira sangat mudah mengalami kerusakan sehingga nira menjadi asam, berbuih putih, dan berlendir. Apabila nira telambat dimasak biasanya warna nira akan berubah menjadi keruh kekuningan, rasanya asam serta baunya menyengat. Kondisi dan sifat-sifat nira ini akan menentukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan (Muchtadi dan Sugiyono, 1992). Umumnya nira terdiri atas 73-76% air, 11-16% serat, dan 11-16% padatan-padatan terlarut dan tersuspensi (James & Chen, 1985).

Kandungan nira pada setiap tebu berbeda-beda, hal ini di sebabkan salah satunya karena kesuburan tanah dimana mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu sehingga mempengaruhi kandungan sukrosa pada tebu. Reece (2003), menyatakan bahwa komposisi nira tebu tidak akan selalu sama, bergantung pada jenis tebu, kondisi geografis, tingkat kematangan serta cara penanganan selama penebangan dan pengangkutan.

Sifat –Sifat Nira Tebu

Kondisi dan sifat-sifat nira akan menetukan sifat dan mutu produk yang dihasilkan. Nira mempunyai rasa manis berbau harum dan tidak berwarna. Rasa manis nira disebabkan bahan-bahan dari berbagai jenis gula seperti sukrosa, fruktosa glukosa, dan maltosa. Di samping itu, terdapat bahan lain seperti protein, lemak,air, dan pati (Gountara & Wijandi, 1985).

Menurut Reece (2003), komposisi padatan terlarut yang terdapat di dalam nira tebu yaitu terdiri dari bahan gula (sukrosa, glukosa, fruktosa, oligosakarida), garam (garam organik dan anorganik), asam organik (asam karboksilat dan asam amino). Adapun bahan-bahan organik yang bukan gula seperti protein, pati, polisakarida terlarut, lilin, lemak, dan fosfolipid.

Menurut Nubantonis (2004), bahan dalam nira tebu berdasarkan sifat fisiko-kimianya terbagi menjadi empat, terdapat sebagai berikut.

Tabel Fisika Dan Kimia Nira Tebu (Nubanotis, 2004)

No

Jenis Bahan

Ukuran (mm)

Jumlah (%)

1 Bahan kasar yang terdispersi.

≥ 0.0001

5

2 Bahan koloid

0.0001-0.000001

0.05-0.30

3 Molekul dan ion yang terdispersi

≤ 0.000001

8-21

4 Air

<<<<0.000001

77-88

Kerusakan nira banyak sekali macamnya, namun pada umumnya nira dikatakan rusak jika sukrosa dalam nira terinversi menjadi gula pereduksi yang terdiri dari glukosa dan fruktosa dalam perbandingan yang sama (Indeswari, 1986). Inversi sukrosa ini dapat disebabkan oleh suhu yang terlalu tinggi, derajat keasaman (pH) nira yang terlalu rendah atau tinggi dan aktivitas mikroorganisme (Soerjadi, 1979).

Faktor yang mempengaruhi kerusakan pada tebu antara lain adalah penyimpanan setelah di panen, semakin lamawaktu penyimpanan maka akan semakin rendah kadar sukrosanya. Penyimpanan tebu biasanya di tumpuk dalam suatu ruangan, sehingga suhu didalam menjadi lebih panas. Hal ini menyebabkan inversi pada sukrosa. Selain itu akan merangsang tumbuhnya mikroorganisme yang menyebabkan batang tebu menjadi rusak. Nira yang disimpan seleama enam jam akan kehilangan sukrosa sebanyak 14,3% (Gouatara & Wijandi, 1985)

Daun Kemangi (Ocimum sanctum)

20 October 2015

Daun Kemangi (Ocimum sanctum)

Klasifikasi Tanaman

Tanaman herba ini awalnya diperkenalkan di India dan sekarang telah menyebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di setiap kemangi memiliki nama khusus. Kemangi dikenal dengan nama daerah Saraung (Sunda), Lampes (Jawa Tengah), Kemangek (Madura), Uku-uku (Bali), Lufe-lufe (Ternate), Hairy Basil (Inggris) (Voight, 1995).

Kemangi (Ocimum sanctum) adalah spesies basil yang paling terbesar di seluruh dunia, baik dalam bentuk segar ataupun untuk produksi minyak esensial. Diantara genus Ocimum L., kemangi merupakan salah satu spesies yang menarik karena aroma dan rasanya. Herbal ini digunakan oleh orang Asia sebagai obat dan bahan masakan dari generasi ke generasi. Minyak dari tumbuhan ini juga digunakan secara luas pada industri farmasi dan industri parfum (Kicel, 2005).

Tanaman kemangi tumbuh dengan baik dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Kemampuan kemangi untuk beradaptasi di berbagai ketinggian menyebabkan tanaman inimudah dibudidayakan di berbagai topografi (Voight, 1995).

Kemangi merupakan tanaman semak semusim dengan tinggi 30-150 cm, batangnya  berkayu, segi empat, beralur, bercabang, dan memiliki bulu berwarna hijau. Daunnya tunggal dan berwarana hijau, bersilang, berbentuk bulat telur, ujungnya runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, dan pertulangan daun menyirip. Bunga majemuk berbentuk tandan memiliki bulu tangkai pendek berwana hijau, mahkota bunga berbentuk bulat telur dengan warna keunguan. Buah berbentuk kotak dan berwarna coklat tua, bijinya berukuran kecil, tiap buah terdiri dari empat biji yang berwarna hitam, akarnya tunggang dan berwarna putih kotor (Depkes RI, 2001).

Adapun klasifikasi dari Kemangi (Ocimun sanctum), yaitu :

Kingdom (Plantae), Subkingdom (Tracheobionta), Superdivision (Spermatophyta), Division (Magnoliophyta), Class (Magnoliopsida), Subclass (Asteridae), Ordo (Lamiales), Family (Lamiaceae), Genus (Ocimum), Species (Ocimum sanctum).

Mikroskopis Tanaman Kemangi

Penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas, terdiri dari satu lapis sel kecil, bentuk empat persegi panjang, warna jernih, dinding tipis, kutikula tipis dan licin. Pada pengamatan tangensial bentuk poligonal, berdinding lurus atau agak berkelok-kelok. Epidermis bawah terdiri dari satu lapis sel kecil bentuk empat persegi panjang warna jernih, dinding tipis, kutikula tipis dan licin. Rambut penutup, bengkok, terdari dari 2-6 sel. Rambut kelenjar, pendek, terdiri dari 1 sel tangkai dan 2-4 sel kepala, bentuk bundar, tipe Lamiaceae. Jaringan palisade terdiri dari selapis sel bentuk silinder panjang dan berisi banyak butir klorofil. Jaringan bunga karang, dinding poligonal, dinding samping lurus atau agak berkelok tipis, mengandung butir klorofil. Berkas pembuluh tipe kolateral terdapat jaringan penguat yaitu kolenkim. Stomata tipe diasitik pada epidermis atas dan bawah (Salganik, 2001).

Morfologi Tanaman

Batang kemangi berbentuk bulat, berbulu berwarna hijau dan kadang keunguan. Memiliki aroma yang khas dengan tinggi tanaman antara 60-70 cm dari permukaan tanah. Memiliki bunga yang bergerombol, mahkota bunganya berwarna keunguan. Selain memiliki bunga, kemangijuga memiliki biji dengan ukuran 0,1 mm. Bijinya bulat berwarna cokelat dengan berat 100 butir sekitar 0,026 g. Hasil ternak selama satu periode musim tanam (tiga kali panen) berkisar antara 34.117 – 83.958 kg/plot untuk 50 tanaman (Hadipoentyanti & Wahyoeni, 2008).

Kemangi (Ocimum sanctum) merupakan tumbuhan semak dengan beberapa karakteristik (Dewi, 2007) :

  1. Tinggi antara 30-150 cm
  2. Batang dikotil yang berkayu dengan bentuk segi empat, beralur, bercabang, berbulu, dan berwarna hijau.
  3. Bunga terdapat pada penghujung batang. Panjangnya sekitar 5-7 mm dan berbau wangi.
  4. Memiliki 6 kuntum bunga dari atas sampai tengah. Kelompok bunga berwarna hijau keunguan dan bagian atas bunga berwarna putih/merah jambu pucat. Buahnya kecil, terdiri dari 4 biji yang berwarna hitam.
  5. Daun Ocimum sanctum berwarna hijau sampai hijau kecoklatan, berbau aromatik yang khas dengan rasa agak pedas. Helaian daun bentuk lonjong memanjang, bundar telur atau bundar telur memanjang, tulang-tulang daun menyirip, tepi bergerigi dangkal atau rata dan bergelombang, daging daun tipis, permukaan berambut  halus, panjang daun 2,5 cm sampai 7,5 cm, lebar 1-2,5 cm.
  6. Akar tunggang dengan warna putih kotor.

Kandungan Kimia

Tanaman kemangi memiliki kandungan kimia pada bunga, daun, ataupun batangnya. Kandungan kimia tertinggi dari tanaman kemangi terdapat pada daunnya (Kicel, 2005). Jenis kandungan kimia yang terkandung dalam kemangi (Ocimum sanctum)dipegaruhi oleh regio geografis dan kuantitasnya bervariasi pada setiap periode vegetasi. Kandungan kimia kemangi yang tumbuh di Kuba, Brazil, India, Jerman, dan Thailand mengandung eugenol sebagi konstituen utama selain juga β-caryophyliene atau α-bisabolenes dan β-bisabolenes. Methyl eugenol merupakan konstituen utama dari minyakOcimum sanctum  dari India (25%) dan Thailand (23-52%). Sedangkan minyak dari Ocimum sanctum yang tumbuh di Australia terutama mengandung methyl chavicol (Evelyne, 2008).

Presentase kandungan minyak bervariasi secara signifikan pada tiap tahapan pertumbuhan tanaman. Tahap pertumbuhan tanaman yang paling banyak mengandung minyak esensial adalah pada akhir dari masa berbunga yaitu 0,83%. Pada masa pre-flowering kandungan minyaknya 0,68%. Saat masa berbunga kandungannya 0,59% dan ketika berbuah kandungannnya 0,69% (Kicel, 2005).

Kemangi telah terbukti memiliki sifat antioksidan, antikanker, antijamur, antimikrobial, analgesik (Uma, 2000). Zat aktif dari kemangi ialah eugenol (1-hydroxy-2-methoxy-4-allybenzene) yang paling berpotensi farmakologis (Evelyne, 2008). Kandungan eugenol kemangi berkisar antara 40% hingga 71% (Prakash & Gupta, 2004). Selain eugenol, kemangi juga mengandung zat farmakologis seperti ocimene, alfapinene, geraniol (Kardinan, 2003). Kandungan zat aktif eugenol yang mendominasi komponen daun Ocimum sanctum berfungsi sebagai tempat antiparasit dan antioksidan (Liew & Cox, 1990). Pemberian antioksidan dalam jumlah cukup besar akan menjadi radikal bebas (Salganik, 2001).

Kandungan Ocimum sanctum memiliki aktifitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Bacillus pumilus, dan Pseudomonas aeruginosa. Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sensitif. Aktifitas antibakteri dikombinasikan dengan antiinflarmasi dan analgesik membuat Ocimum sanctum berguna dalam mengatasi inflamasi yang disebabkan oleh infeksi streptococcal (Waish, 2008).

Menurut Batari (2007), menjelaskan Daun kemangi mengandung saponin, flavonoid dan tanin. Sedangkan bijinya mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Beberapa komposisi kimia daun kemangi per 100 gram yang ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel Komposisi Kimia Daun Kemangi per 100 gram Bagian yang Dapat Dimakan

Nilai Gizi

Jumlah

Kalori (kal)

4,3

Protein (g)

3,3

Lemak (g)

1,2

Karbohidrat (g)

7,0

Kalsium (g)

320

Fosfor (g)

38

Besi (mg)

4,8

Β-karoten (µg)

4500

Thiamin (mg)

0,08

Riboflavin (mg)

0,35

Niasin (mg)

0,008

Asam askorbat (mg)

27

Air (%)

86,5

Khasiat dan Penggunaan

Bagian tanaman kemangi adalah daun, bunga, batang, dan akar. Biji diketahui memiliki potensi terapeutik dan telah digunakan sebagai ekspetoran, analgesik, anti kanker, anti asmatik, anti diabetes, anti fertilitas dan anti stress. Jus daun kemangi bersama dengan triphala digunakan dalam tetes mata direkomendasikan untuk glucoma, katarak, kronis konjungtivitis dan penyakit mata. Jus daun segar juga diberikan kepada pasien untuk mengobati demam kronis, disentri, pendarahan dan dyspepsia. Daun kemangi juga dapat mengurangi muntah sebagai profilaksis terhada malaria (Dadang dan Prijono, 2008).

Tanaman Kopi

19 October 2015

Kopi

Kopi merupakan salah satu minuman yang paling terkenal di kalangan masyarakat. Kopi digemari karena memiliki citarasa dan aroma yang khas (Ramalakshmiet al., 2008). Tanaman kopi termasuk dalam Kingdom Plantae, Sub kingdom Tracheobionta, Super divisi Spermatophyta, Divisi Magnoliophyta, Class Magnoliopsida/Dicotyledons, Sub class Asteridae, Ordo Rubiales, Famili Rubiaceae, Genus Coffea, Spesies Coffea arabica L (USDA, 2002).Kopi (Coffea spp) adalah spesies tanaman berbentuk pohon dan termasuk dalam famili Rubiaceae dan genus Coffea.

Tanaman ini tumbuh tegak, bercabang dan dapat mencapai tinggi 12 m. Tanaman kopi terdiri dari jenis Coffea arabica, Coffea robusta dan Coffea liberica(Danarti dan Najiyati, 2004). Tanaman kopi merupakan komoditas ekspor yang mempunyai nilai ekonomis yang relatif tinggi di pasaran dunia, di samping merupakan salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Indonesia. Sudah hampir tiga abad kopi diusahakan penanamannya di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di dalam negeri dan luar negeri. Buah kopi terdiri atas 4 bagian yaitu lapisan kulit luar (exocarp), daging buah (mesocarp), kulit tanduk (parchment), dan biji (endosperm), seperti dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Kopi memiliki antioksidan yang lebih banyak dibandingkan minuman lainnya. Asam klorogenat merupakan antioksidan dominan yang ada dalam biji kopi yaitu berupa ester yang terbentuk dari asam trans-sinamat dan asam quinat (Ramalakshmi and Raghavan, 2000). Asam klorogenat merupakan senyawa terpenting yang mempengaruhi pembentukan rasa, bau dan flavor saat pemanggangan kopi serta dikenal sebagai zat anti kanker dan dapat melindungi sel untuk melawan mutasi somatik (Richelle et al., 2001). Di samping memiliki kandungan yang menguntungkan kopi juga memiliki zat yang dapat membahayakan kesehatan yaitu kandungan kafein dan asam organik yang tinggi. Kopi dapat digolongkan sebagai minuman psikostimulant yang akan menyebabkan orang tetap terjaga, mengurangi kelelahan dan memberikan efek fisiologis berupa peningkatan energi (Tan dan Taharja, 2002).

Jenis-Jenis Kopi

Tanaman kopi (Coffea sp.) diyakini berasal dari benua Afrika, kemudian menyebar ke seluruh dunia.Saat ini kopi ditanam meluas di Amerika Latin, Asia-pasifik dan Afrika. Pada era Tanam Paksa atau Cultuurstelsel (1830—1870) masa penjajahanBelanda di Indonesia, pemerintah Belanda membuka sebuah perkebunan komersial padakoloninya di Hindia Belanda, khususnya di pulau Jawa, pulau Sumatera dan sebagianIndonesia Timur (AksiAgrarisKanisius, 1980).Jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia adalah kopi jenis Arabikayang didatangkan langsung dari Yaman. Tetapi selama perjalanan penanaman kopi arabika, kopi jenis ini mudah sekali terserang penyakit karat daun, maka dari itu muncullah jenis–jenis kopi yang lain untuk meningkatkan produksi tanaman kopi Indinoseia (Yahmadi, 1972). Di dunia perdagangan, dikenal beberapa golongan kopi tetapi yang sering dibudidayakan hanya kopi robusta, arabika dan liberika. Penggolongan kopi tersebut umumnya didasarkan pada spesiesnya, kecuali Robusta. Kopi robusta bukan merupakan nama spesies karena kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi terutama Coffea canephora.

  • Kopi Arabika

Kopi arabika merupakan tipe kopi tradisional dengan citarasa terbaik.Sebagian besar kopi yang ada dibuat dengan menggunakan biji kopi jenis ini.Kopi ini berasal dari Etiopia dan sekarang telah dibudidayakan di berbagaibelahan dunia, mulai dari Amerika Latin, Afrika Tengah, Afrika Timur, India dan Indonesia (AksiAgraris Kanisius, 1980).Penyebaran tumbuhan kopi arabika ke Indonesia dibawa seorang berkebangsaanBelanda pada abad ke-17 sekitar tahun 1646 yang mendapatkan biji arabika mocca dari Arabia. Jenis kopi ini oleh Gubernur Jenderal Belanda di Malabar dikirim juga ke Batavia pada tahun 1696. Karena tanaman ini kemudian mati oleh banjir, pada tahun 1699 didatangkan lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta dan Jawa Barat, akhirnya menyebar ke berbagai bagian di kepulauan Indonesia (Prastowodkk, 2010).

Secara umum, kopi ini tumbuh di negara-negara beriklim tropis atausubtropis. Kopi Arabika tumbuh pada ketinggian 600-2000 m di atas permukaanlaut. Tanaman ini dapat tumbuh hingga 3 m bila kondisi lingkungannya baik.Suhu tumbuh optimalnya adalah 18-26°C. Biji kopi yang dihasilkan berukurancukup kecil dan berwarna hijau hingga merah gelap. Sekitar satu abad kopi arabika telah berkembang sebagai tanaman rakyat (Yahmadi, 1972). Perkebunan kopi pertama diusahakan di Jawa Tengah (Semarang dan Kedu) pada awal abad ke-19, sedang perkebunan kopi di Jawa Timur (Kediri dan Malang) baru dibuka pada abad ke-19, dan di Besuki bahkan baru pada akhir tahun 1900an (Yahmadi,1972). Budidaya kopi arabika ini mengalami kemunduran karena serangan penyakit karat daun (Hemileiavastatrix), yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.Kopi arabika hanya bisa bertahan di daerah-daerah tinggi (1000 m ke atas), dimana serangan penyakit ini tidak begitu hebat (AksiAgraris Kanisius, 1980).

  • Kopi Robusta

Kopi robusta pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1898. Kopirobusta dapat dikatakan sebagai kopi kelas 2, karena rasanya yang lebih pahit,sedikitasam, dan mengandung kafein dalam kadar yang jauh lebih banyak. Kopi Robusta (Coffea canephora) dimasukkan ke Indonesia pada tahun 1900 (Prastowo dkk, 2010). Kopi ini ternyata tahan penyakit karat daun dan memerlukan syarat tumbuh dan pemeliharaan yang ringan, sedang produksinya jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, kopi ini cepat berkembang dan mendesak kopi-kopi lainnya.Saat ini lebih dari 90% dari areal pertanaman kopi Indonesia terdiri atas kopi robusta.Kopi robusta (Coffea canephora) lebih toleran terhadap ketinggian lahan budidaya. Jenis kopi ini tumbuh baik pada ketinggian 400-800 m dpl dengan suhu 21-24oC(AksiAgraris Kanisius, 1980).

Jenis kopi robusta lebih cepat berbunga dibanding arabika. Dalam waktu sekitar 3 tahun kopi sudah mulai bisa dipanen meskipun hasilnya belum optimal. Produktivitas kopi robusta secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan arabika yakni sekitar 900-1.300 kg/ha/tahun. Dengan pemeliharaan intensif produktivitasnya bisa ditingkatkan hingga 2000 kg/ha/tahun.Untuk berbuah dengan baik, kopi robusta memerlukan waktu panas selama 3-4 bulan dalam setahun dengan beberapa kali hujan. Rendemen kopi robusta cukup tinggi sekitar 22%. Bagi para penggemar kopi, mutu kopi robusta masih dibawah arabika. Harganya pun demikian, kopi robusta dihargai lebih rendah. Karena harganya yang murah, para petani seringkali mengolah biji kopi robusta dengan proses kering yang lebih rendah biaya (Yahmadi, 1972).

  • Kopi Liberika

Kopi liberika berasal dari Angola dan masuk ke Indonesia sejak tahun 1965. Meskipun sudah cukup lama penyebarannya tetapi hingga saat ini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah yang kurang bagus dan rendemennya rendah (Prastowo dkk, 2010).  Kopi liberika (Coffea liberica) bisa tumbuh dengan baik didataran rendah dimana kopi robusta dan arabika tidak bisa tumbuh. Jenis kopi ini paling tahan pada penyakit HV dibanding jenis lainnya. Mungkin inilah yang menjadi keunggulan kopi liberika. Kopi liberika mutunya dinilai lebih rendah dari robusta dan arabika. Ukuran buahnya tidak merata, ada yang besar ada yang kecil bercampur dalam satu pokok. Selain itu rendemen kopi liberika juga sangat rendah yakni sekitar 12%. Hal ini yang membuat para petani malas menanam jenis kopi ini (AksiAgraris Kanisius, 1980). Jenis Liberika antara lain : kopi abeokutae, kopi klainei, kopi dewevrei, kopi excelsa dan kopi dybrowskii. Diantara jenis-jenis tersebut pernah dicoba di Indonesia tetapi hanya satu jenis saja yang diharapkan ialah jenis excelsa (Prastowodkk, 2010).

Jamur kancing (Agaricus bisporus)

16 October 2015

Jamur kancing (Agaricus bisporus)    

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan          : Fungi

Divisi               : Basidiomycota

Kelas               : Homobasidiomycetes

Upakelas         : Homobasidiomycetidae

Ordo                : Agaricales

Famili              : Agaricaceae

Genus              : Agaricus

Spesies            : A. bisporus

Nama binomial : Agaricus bisporus

Hasil gambar untuk Jamur kancing (Agaricus bisporus)

Jamur kancing (Agaricus bisporus), jamur kompos atau champignon adalah jamur pangan yang berbentuk hampir bulat seperti kancing dan berwarna putih  bersih, krem, atau coklat muda. Jamur kancing merupakan jamur yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai table mushroom, white mushroom, common mushroom atau cultivated mushroom. Di Perancis disebut sebagai champignon de Paris, tapi penutur bahasa Inggris sering menyebutnya sebagai champignon yang dalam bahasa Perancis mencakup segala jenis fungi, termasuk jamur pangan, jamur beracun, dan jamur penyebab infeksi. Jamur kancing dipanen sewaktu masih berdiameter 2-4 cm. Tubuh buah dewasa dengan payung yang sudah mekar mempunyai diameter sampai 20 cm. Jamur kancing dijual dalam bentuk segar atau kalengan, biasanya digunakan dalam berbagai masakan barat seperti omelet, pizza, kaserol, gratin, dan selada. Jamur kancing memiliki aroma unik, sebagian orang ada yang menyebutnya sedikit manis atau seperti daging.(Anonymous, 2011)

Jamur kancing segar bebas lemak, bebas sodium, serta kaya vitamin dan mineral, seperti vitamin B dan potasium. Jamur kancing juga rendah kalori, 5 buah jamur ukuran sedang sama dengan 20 kalori. Jamur kancing dimasak utuh atau dipotong-potong lebih dulu. Jamur kancing cepat berubah warna menjadi kecoklatan dan hilang aromanya setelah dipotong dan dibiarkan di udara terbuka. Jamur kancing segar sebaiknya cepat dimasak selagi masih belum berubah warna.(Anonymous, 2011). Menurut Widyastuti (2005) kandungan nutrisi jamur kancing yang dijual di beberapa pasar swalayan di Jakarta pada Tabel berikut:

Tabel Kandungan nutrisi jamur kancing (Pleurotus florida) di beberapa pasar swalayan di Jakarta

N0.

Komponen

Jumlah %

1. Kadar air 10,3
2. Protein kasar 33,2
3. Lemak 1,9
4. Karbohidrat 38,5
5. Serat 8,1
6. Abu 8,0

Sumber : Widyastuti (2005)

 

Next Page »