Home » artikel » Pohon Siwalan(Borassus flabellifer L.)

Pohon Siwalan(Borassus flabellifer L.)

8 September 2015

Pohon Siwalan(Borassus flabellifer L.)

Pohon lontar berasal dari India dan kemudian tersebar sampai Papua Nugini, Afrika, Australia, Asia Tenggara, dan Asia Tropis. Pohon ini terutama tumbuh di daerah kering. Di Indonesia lontar terutama tumbuh di bagian timur Pulau Jawa, Madura,Bali, dan Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (Rismawati dan Nashrullah, 2012). Ada tiga spesies terpenting dari borassus, yaitu Borassus aethiopum Mart, Borassus flabellifer Linn, dan Borassus sundaicus Becc. (Naguleswaran et al., 2010). Tanaman lontar atau siwalan (Borassus flabellifer L.) merupakan tanaman multi guna karena hampir semua komponennya dapat dimanfaatkan (Handayani, 1999). Hasil utamanya adalah buah dan nira siwalan. Dua jenis hasil inilah yang menjadikan pohon siwalan terus berpotensi untuk diolah dan dikembangkan.

Klasifikasi tanaman siwalan menurut Davis and Johnson (1987)adalah:

Kerajaan          : Plantae

Divisio             : Angiospermae

Kelas               : Monocotyledoneae

Ordo                : Arecales

Familia            : Arecaceae (sin. Palmae)

Genus             : Borassus

Spesies           : Borassus flabellifer

Pohon siwalan atau biasa disebut pohon lontar (Borassus flabellifer L.) adalah sejenis palma atau pohon pinang- pinangan yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma Palmae dan Arecaceae yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm  (Widjanarko, 2008). Menurut Rismawati dan Nashrullah (2012) menyatakan bahwa banyak kegunaan dari pohon siwalan ini, meliputi buah siwalan yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan selai, manisan, kue, buah kaleng. Batang pohon yang kuat dan kokoh dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan jembatan. Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan, dan nira siwalan dapat digunakan untuk menghasilkan produk bernilai tinggi etanol, nata de nira, gula, dsb.

Pohon Siwalan atau Pohon Lontar dibeberapa daerah disebut juga sebagai ental, etal, lontar, tal (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), dun tal (Saksak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan),lontara (Toraja), lontoir (Ambon), manggitu (Sumba), tua (Timor), lontar, siwalan (Banj.). Dalam bahasa inggris disebut sebagai Lontar Palm (Rismawati dan Nashrullah, 2012).

Nira Siwalan

Nira siwalan merupakan sirup gula yang disadap dari tangkai bunga pohon siwalan. Pemanenan nira dengan cara disadap dapat dilakukan ketika pohon mencapai usia 15-20 tahun dan pemanenan dapat dilakukan terus selama 30 tahun. Pohon siwalan jantan maupun betina dapat menghasilkan nira, namun nira dari pohon betina 50% lebih banyak jika dibandingkan pohon jantan (Johnson, 1992). Proses penyadapan nira dengan cara ujung tandan bunga yang diiris dengan pisau kearah bawah untuk mengeluarkan tetesan nira siwalan yang ditampung diwadah bumbung. Pohon siwalan yang sudah produktif, menghasilkan rata-rata 6 L nira siwalan per hari. Masa produksi pohon siwalan biasanya berlangsung selama 4 bulan dalam satu tahun, sehingga dalam satu masa produksi tanaman siwalan menghasilkan 720 L nira siwalan per pohon (Lutony, 1993).

Nira dapat digunakan untuk pembuatan gula lontar, gula lempeng, gula semut, laru sopi, dan kecap cuka. Nira juga dapat dikembangkan untuk menghasilkan produk bernilai tinggi seperti etanol dan hasil fermentasi dari nira lontar dapat dibuat nata de nira (Rismawati dan Nashrullah, 2012).Selain itu juga nira dapat digunakan sebagai minuman nira yang biasa disebut legen. Legen ini merupakan nira siwalan yang telah ditambahkan air sehingga dapat diminum dan banyak digemari oleh masyarakat. Legen ini merupakan produk pangan yang mudah mengalami kerusakan selama proses penyimpanan. Komponen utama penyusun legen adalah gula, gula reduksi,protein, nitrogen, mineral sebagaiabu, kalsium, fosfor, zat besi,vitamin C, vitamin. Konsentrasi nutrisi yang tinggi akan mempercepat terjadinya proses fermentasi akibat aktivitas mikroba, sehingga legen akan mudah rusak(Arpah, 2001).

Tabel Komposisi Nira Siwalan

Karakteristik

Jumlah

BeratJenis

1,07

pH

6,7 – 6,9

Nitrogen (g/100 cc)

0,056

Protein (g/100 cc)

0,35

Total gula (g/100 cc)

10 – 15

Gulareduksi (g/100 cc)

0,96

Mineral sebagaiabu (g/100 cc)

0,54

Kalsium

Sedikit

Fosfor (g/100 cc)

0,14

Besi (g/100 cc)

0,4

Vitamin C (mg/100 cc)

13,25

Vitamin B1 (IU)

3,9

Vitamin B kompleks

Diabaikan

(Sumber: Davis and Johnson, 1987)

Kerusakan nira dapat terjadi pada saat nira mulai keluar dari malai dan ditampung pada bumbung penampung atau pada waktu nira tersebut disimpan untuk menunggu pengolahan. Walaupun sebenarnya cairan yang keluar dari malai adalah steril dengan pH netral namun beberapa waktu kemudian akan terjadi proses fermentasi yaitu sukrosa dalam nira diubah menjadi alkohol oleh mikroorganisme dan lama kelamaan akan berubah menjadi semakin asam. Proses fermentasi tersebut dilakukan oleh mikroba seperti Saccharomyces cerevisiae serta Acetobacter sp.(Borse et al., 2007).

Saccharomyces cereviseae dapat tumbuh baik pada rangepH 3 – 6, namun apabila pH lebih kecil dari 3 maka proses fermentasi akan berkurang kecepatannya. pH paling optimum pada 4,3 – 4,7. Pada pH yang lebih tinggi, adaptasi yeast lebih rendah dan aktivitas fermentasinya juga meningkat. Saccharomyces mempunyai temperatur maksimal sekitar 400C – 500C dengan temperatur minimum 00C. Pada interval 150– 300C, fermentasi mengikuti pola bahwa semakin tinggi suhu, fermentasi makin cepat berlangsung.Pada suhu tinggi lebih membahayakan kehidupan mikroorganisme dibandingkan suhu rendah.Bila dipanaskan pada suhu di atas suhu maksimumnya, akan segera mati. Semua bakteri patogen maupun bentuk vegetatifnya mati dalam kurun waktu 30 menit pada suhu 60-650C. kenyataan ini merupakan dasar tindakan pasteurisasi (Eka dan Amran, 2002).

artikel

No Comments to “Pohon Siwalan(Borassus flabellifer L.)”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*