Monthly Archives: August 2015

Kencur (Kaemprefia galanga L)

14 August 2015

Kencur (Kaemprefia galanga L)

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)                                                                                             Genus: Kaempferia
Spesies: Kaempferia galanga L.

Kencur termasuk ke dalam tumbuhan semusim biasanya saat musim penghujan. Kencur memiliki daun 2-3 helai dan letaknya saling berhadapan. Rimpangnya tumbuh memanjang kebawah, berdiameter 5cm, tidak berserat, berwarna putih, di dalamnya berempulur transparan. Kulit rimpangnya berwarna coklat mengkilap dan licin. Rimpang kencur mempunyai aroma yang khas dengan rasa yang  pahit. Rimpang kencur memiliki zat kimia yang terkandung didalamnya antara lain mengandung pati (4,41%), mineral (13,73 %), dan minyak atsiri (0,02 %) berupa sineol, asam metil kanil dan pentadekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid dan gom. Kandungan minyak atsiri kencur juga berkhasiat sebagai analgesik (penghilang rasa sakit) dan menghangatkan badan (Suryo, 2010). Gambar kencur dapat dilihat pada Gambar berikut:

Kunyit (Curcuma longa)

13 August 2015

Kunyit (Curcuma longa)

Kunyit termasuk tanaman tahunan yang tumbuh merumpun. Kunyit memiliki rimpang yang bercabang, dan secara keseluruhan membentuk rumpun. Bentuk rimpang umumnya bulat panjang dan kulit rimpang muda berwarna kuning muda serta berdaging kuning. Rimpang tua kulitnya berwarna jingga kecoklatan dan dagingnya jingga terang agak kuning. Rasa rimpang enak dan berbau khas sedikit agak pahit serta pedas.

Kandungan zat kimia rimpang kunyit adalah minyak atsiri, pati, serat dan abu. Rimpang kunyit yang dihasilkan dari dataran rendah kandungan kimianya lebih tinggi daripada rimpang kunyit dari dataran tingggi (Rukmana, 1994). Gambar kunyit dapat dilihat pada gambar berikut:

Image result for kunyit

Temu Hitam (Curcuma aeruginos Roxb)

12 August 2015

Temu Hitam (Curcuma aeruginos roxb)

Temu hitam merupakan salah satu kerabat dari temulawak. Di jawa temu hitam biasa disebut dengan “Temu Ireng”. Temu hitam merupakan tanaman berbatang semu yang tersusun atas kumpulan pelepah daun, berwarna hijau atau coklat gelap. Rimpang temu hitam mempunyai ukuran yang cukup besar dan merupakan umbi batang. Rimpang bercabang-cabang. Rimpang yang tua jika dibelah tampak lingkaran berwarna biru kehitaman dibagian luarnya. Rimpang temu hitam memiliki rasa pahit dan bersifat hangat. Temu hitam memiliki kandungan kimia seperti minyak atsiri, curcumol, kordione, germakrena, tetrametilfrazine, pati, damar, tanin, alkaloida, sponin dan mineral (Hembing, 2006). Gambar temu hitam dapat dilihat pada Gambar berikut:

 

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb)

11 August 2015

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb)

Tanaman Temulawak

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) banyak ditemukan di hutan-hutan daerah tropis. Temulawak juga berkembangbiak di tanah tegalan sekitar pemukiman, terutama pada tanah gembur, sehingga buah rimpangnya mudah berkembang menjadi besar. Temulawak termasuk jenis tumbuh-tumbuhan herba yang batang pohonnya berbentuk batang semu dan tingginya dapat mencapai 2 meter. Daunnya lebar dan pada  setiap  helaian dihubungkan dengan pelapah dan tangkai daun yang  agak panjang. Temulawak mempunyai bunga  yang berbentuk unik  (bergerombol) dan berwarna kuning tua. Rimpang temulawak sejak lama dikenal sebagai bahan ramuan obat. Aroma dan warna khas dari rimpang temulawak adalah berbau tajam dan daging  buahnya berwarna kekuning-kuningan. Rimpang cabang dan ranting bentuknya silindris, berwarna kuning. Menurut Susanto (2001) tanaman ini lebih produktif di tanah tebuka dan terkena sinar matahari. Daerah tumbuhnya  selain di dataran rendah juga dapat tumbuh baik sampai pada ketinggian tanah 1500 meter di atas permukaan laut (Anonymous, 2011a). Berikut Tabel perkembangan produksi temulawak tahun 2002-2004.

Tabel Perkembangan Areal & Produksi Temulawak dari Tahun 2002 – 2004.

No

Provinsi

Areal (m2)

Produksi (Kg)

2002

2003

2004

2002

2003

2004

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

Sumut

Riau

Jambi

DKI Jakarta

Jabar

Jateng

Jatim

DIY

Banten

Bali

Kalbar

Kaltim

Sulut

Sulsel

Gorontalo

20.823

146.376

29.194

1.005

317.276

2.316.448

1.077.307

1.022.048

51.805

10.503

7.509

1.475

17.406

52.817

3.694

33.843

194.467

26.018

2.535

276.000

3.496.844

1.275.644

1.275.240

103.420

19.302

49.596

6.635

25.627

55.471

4.309

33.843

143.280

10.936

3.472

485.905

3.600.103

4.556.396

1.405.251

132.788

13.597

23.989

20.104

34.371

72.380

11.618

46.627

69.742

60.818

1.049

958.767

2.501.602

2.335.185

991.451

78.484

18.472

5.932

1.811

38.282

57.753

6.992

53.654

93.282

30.503

3.860

502.526

4.992.053

3.133.644

2.521.625

189.519

34.225

45.893

41.989

55.305

55.772

8.134

53.654

252.766

34.461

4.579

1.528.789

6.765.546

5.140.245

2.375.621

205.071

29.916

31.229

42.839

83.915

100.248

17.625

JUMLAH

2.759.240

5.421.511

10.239.495

7.172.969

11.761.984

16.666.504

Sumber : Pusat Data dan Informasi Departemen Pertanian, 2005

Menurut Rukmana (2000) kedudukan tanaman temulawak dalam tatanaman (sistematika) tumbuhan termasuk kedalam klasifikasi sebagai berikut:

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Zingiberales

Keluarga          : Zingiberaceae

Genus              : Curcuma

Spesies            : Curcuma xanthorrhiza Roxb.

Temulawak banyak tumbuh liar di padang alang-alang dan tanah-tanah kering. Temulawak juga tumbuh dengan baik di lahan-lahan yang teduh dan terlindungi dari terik sinar matahari. Meskipun demikian, temulawak juga dapat tumbuh di tempat yang terik, seperti di tanah tegalan. Tanaman ini memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai cuaca di daerah beriklim tropis. Suhu udara yang baik untuk budidaya tanaman ini antara 19-30oC. Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan antara 1000-4000 mm/tahun. Temulawak dapat tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi, sampai ketinggian 1.500m dari permukaan laut (dpl) (Afifah, 2003). Gambar rimpang temulawak dapat dilihat pada Gambar berikut:

Rimpang temulawak segar mengandung air sekitar 75%. Selain itu mengandung minyak atsiri, lemak (fixed oil), zat warna, protein, resin, selulosa, pati, mineral, dan zat-zat penyebab rasa pahit (Nurdjanah, 1987). Menurut Sugiharto  (2004), temulawak segar memiliki kadar air 86,85%, nilai aktivitas antioksidan 58,10%, pH 5,41. Flach dan Rumawas (1996) menyatakan bahwa rimpang temulawak kering mengandung 12% kadar air, 7,30% minyak atsiri, 37-61% karbohidrat dan 1-4% curcumin. Minyak atsiri temulawak terdiri dari 40 komponen yang sebagian besar terdiri dari curcumin 41,4% dan xanthorrizhol 21,5%. Kedua zat tersebut merupakan ciri khas minyak atsiri temulawak (Zwaving, 1992).

 

Anggur Bali (Vitis vinifera)

10 August 2015

Anggur Bali (Vitis vinifera)

Perkembangan anggur Bali dimulai sejak penjajahan Belanda, yaitu pada tahun 1900. Pada masa itu, dibangun Kebun Percobaan Banjarsari di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dengan koleksi sekitar 30 varietas anggur. Namun yang kemudian paling populer adalah varietas anggur Bali (Vitis vinifera) yang dikembangkan di Probolinggo (Jatim) dan Buleleng (Bali) (Annonymousc, 2011).

Secara taksonomi, anggur Bali diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom   : Plantae

Divisio        : Magnoliophyta

Kelas          : Magnoliosida

Ordo           : Vitales

Genus         : Vitis

Spesies       : Vitis vinifera.

Buah anggur Bali dengan karakteristik warna ungu tua kehitaman disebabkan buah ini mengandung flavonoid dan mengandung antioksidan yang tinggi. Anggur banyak mengandung asam tartrat dan asam amalat. Kandungan asam yang lainnya adalah asam suksinat, asam fumarat, asam gliserat, asam kumarat dan asam kafeat. Beberapa kandungan senyawa dalam buah anggur Bali yang memiliki potensi antioksidan antara lain vitamin C, flavonoid, dan polifenol (Anugoro, 2011).

Pada kulit anggur, banyak mengandung antosianin. Antosianin memiliki fungsi fisiologis yaitu sebagai antioksidan, antikanker dan perlindungan terhadap kerusakan hati. Selain itu pada buah anggur terdapat kandungan beta karoten, likopen, dan fitonutrien lain seperti asam elagat, resveratrol, dan senyawa belerang. Biji anggur banyak mengandung antioksidan flavonol yang melawan radikal bebas. Adapun khasiat buah anggur adalah sebagai berikut (Anonymousd, 2008):

1. Kandungan antioksidan yang tinggi ampuh melawan kanker.

2. Flavonol dalam biji anggur efektif mengurangi rabun, kelainan retina dan meningkatkan ketajaman penglihatan.

3. Kandungan vitamin C yang tinggi bermanfaat bagi kulit dan mencegah jerawat.

Adapun kandungan gizi anggur dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Kandungan gizi buah anggur

Komponen Gizi

Konsentrasi per 100 gram

Energi (kkal)Protein (g)

Lemak total (g)

Karbohidrat (g)

Serat total (g)

Gula total (g)

Kalsium (mg)

Besi (mg)

Magnesium (mg)

Fosfor (mg)

Kalium (mg)

Natrium (mg)

Seng (mg)

Tembaga (mg)

Mangan (mg)

Selenium (mg)

Vitamin C (mg)

Thiamin (mg)

Riboflavin (mg)

Niacin (mg)

Vitamin B6 (mg)

Folate total (mkg)

Vitamin A (mg)

Vitamin E (mg)

Vitamin K (mkg)

69

0,72

0,16

18,1

0,9

15,48

10

0,36

7

20

191

2

0,07

0,13

0,07

0,1

10,8

0,07

0,07

0,19

0,09

2

66

0,19

14,6

Sumber : Natarini, 2007

Ikan patin (Pangasius sp.)

7 August 2015

Ikan patin (Pangasius sp.)

Ikan patin (Pangasius sp.) adalah salah satu ikan asli perairan Indonesia yang telah berhasil didomestikasi. Jenis-jenis patin di Indonesia sangat banyak, antara lain Pangasius pangasius atau Pangasius jambal, Pangasius humeralis, Pangasius lithostoma, Pangasius nasutus, Pangasius polyuranodon, Pangisius niewenhuisii. Ikan patin merupakan ikan perairan tawar yang banyak ditemukan di daerah Sumatera, Kalimantan dan sebagian Jawa (Rupawan et al., 2000).

Ikan Patin merupakan spesies ikan tawar dari jenis Pangasidae yang memiliki ciri-ciri umum tidak bersisik, tidak memiliki banyak duri, kecepatan tumbuhnya relatif cepat, fekunditas dan sintasannya tinggi, dapat diproduksi secara massal dan memiliki peluang pengembangan skala industri. Dengan banyak keunggulan tersebut ikan ini menjadi salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik dalam segmen usaha pembenihan maupun usaha pembesarannya (Susanto, 2009).

Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna putih seperti perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Panjang tubuhnya bisa mencapai 120 cm, suatu ukuran yang cukup besar untuk ukuran ikan air tawar domestik. Kepala patin relatif kecil dengan mulut terletak diujung kepala agak disebelah bawah. Hal ini merupakan ciri khas golongan catfish. Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba (Amri, 2007).

Kandungan Gizi dan Manfaat Ikan

Berdasarkan habitatnya, ikan digolongkan menjadi dua yaitu ikan air laut dan ikan air tawar. Habitat tersebut akanmenentukan jenis makanan ikan, yang kemudian akan mempengaruhi kandungan zat gizi ikan. Ikan air tawar terutama kaya akan karbohidrat dan protein, sedangkan ikan laut kaya akan lemak, vitamin dan mineral (Khomsan, 2004).

Para ahli menemukan bahwa komposisi asam-asam amino dalam bahan makanan hewani sesuai dengan jaringan di dalam tubuh manusia. Hal ini berarti dengan adanya kesamaan ini maka protein ikan, daging, susu, unggas dan telur mempunyai nilai gizi yang tinggi. Ikan sering disebut sebagai makanan untuk kecerdasan. Absorpsi ikan lebih tinggi dibanding dengan daging sapi, ayam, dan lain-lain, karena daging ikanmempunyai serat-serat protein lebih pendek daripada serat-serat protein daging sapi atau ayam (Pandit, 2008).

Di antara kelompok pangan hewani, ikan sebagai sumber protein setelah diolah dengan cara tertentu dapat dipakai sebagai bahan pengkayaan makanan atau jajanan olahan, mengingat kandungan protein ikan cukup tinggi (15-24 %), asam amino esensialnya lengkap, daya cerna sangat tinggi yaitu 95 % serta mengandung asam lemak omega-3 yang berguna untuk kesehatan, pertumbuhan dan kecerdasan anak (Rahayu dkk, 1992 ; Hadju dkk, 1998).

Ikan mengandung asam amino esensial yang lengkap, serta asam lemak omega-3 yang berguna bagi kesehatan, terutama yang disebut dengan eikosapentaenoat (EPA) dan dokosaheksaenoat (DHA). Menurut Hadju (1998) Ikan mempunyai daya cerna yang sangat tinggi yaitu hingga 98% yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak.Di samping itu, ikan juga mengandung vitamin larut air yaitu vitamin A, D E dan K, serta mengandung kalsium yang cukup tinggi yang sangat diperlukan dalam menyusun sel-sel tulang, yodium yang sangat diperlukan untuk mencegah penyakit gondok terutama di daerah pegunungan (Dahuri, 2004).

Tabel Komposisi Kimia Daging Ikan

Komposisi Jumlah Kandungan
Air 60-84
Lemak 18-30
Protein 0,1-0,2
Karbohidrat 0,0-1,0
Vitamin dan Mineral Sisanya

Sumber : Suhartini dan Hidayat (2005)

Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis)

6 August 2015

Ikan Tongkol (Euthynnus Affinis

Daerah penyebaran ikan tongkol sangat luas bahkan hampir diseluruh daerah pantai dan laut lepas pantai Indonesia serta seluruh perairan Indo-Pasifik. Umumnya ikan tngkol hidup dilapisan permukaan pada daerah pantai dan lepas pantai berkadar garam rendah,bersuhu 26-28°C (Murniyati, 2004). Bentuk ikan tongkol dapat dilihat pada Gambar berikut:

Ikan tongkol termasuk kelompok “scromboid fish” dengan klasifikasi sebagai berikut : (Saanin, 1984).

  1. Phylum Chordata,
  2. Sub phylum Vertebrata,
  3. Kelas Pisces, Sub kelas Teleostoi,
  4. Ordo Percomorphi,
  5. Sub Ordo Scombroidea,
  6. Famili Scombroidea,
  7. Genus Euthynnus affinis

Menurut Murniyati (2004), ikan tongkol merupakan jenis ikan tuna paling kecil dengan panjang rata-rata sekitar 50-50 cm atau 200-500 gram/ekor. Bentuk badan seperti cerutu atau torpedo dengan kulit licin, tidak bersisik kecuali pada corselet dan garis rusuk. Pada belakang sirip punggung dan sirip dubur terdapat sirip tambahan kecil-kecil. Warna tubuh bagian atas biru kehitaman dan bagian bawah putih keperakan.

Ikan sebagai sumber protein mempunyai nilai gizi yang tinggi. Hal ini disebabkan karena kandungan protein yang cukup baik jumlahnya maupun mutunya, sedikit mengandung kolesterol, lemak ikan yang asam-asam lemak tak jenuh, minyak hati ikan selain sumber vitamin A juga mengandung vitamin B, C, D, dan K, ikan mengandung kadar mineral yang cukup tinggi, serta daging ikan hanya mempunyai sedikit tenunan pengikat, sehingga daya cernanya cukup tinggi.

Komposisi ikan dapat bervariasi antar spesies, antar individu dalam satu spesies dan antar bagian-bagian dari satu individu ikan. Variasi ini dapat disebabkan karena pengaruh beberapa faktor antara lain : Umur, laju metabolisme, dan aktifitas pergerakannya. Komposisi kimia ikan tongkol dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Kandungan Kimia Ikan Tongkol

Kandungan

Jumlah

Air (%)

71.00  –  76.70

Protein (%)

21.60  –  26.30

Lemak (%)

1.30  –    2.10

Mineral (%)

1.20  ­-    1.50

Abu (%)

1.45  –    3.40

Vitamin A (mg/g)

0.50  –    0.70

Vitamin D3 (mg/g)

10.00  –  10.00

Sumber : Suzuki (1981)

Kerusakan Ikan

Kerusakan pada ikan dan produk-produk ikan terutama disebabkan oleh pertumbuhan bakteri pembusuk. Tanda-tanda kerusakan pada ikan karena mikroba adalah:

  1. Adanya bau busuk karena gas amonia, sulfida atau senyawa busuk lainnya, perubahan bau busuk (anyir) ini lebih cepat terjadi pada ikan laut dibandingkan dengan ikan air tawar.
  2. Terbentuknya lendir pada permukaan ikan
  3. Adanya perubahan warna yaitu kulit dan daging ikan menjadi kusam atau pucat
  4. Adanya perubahan daging ikan menjadi tidak kenyal lagi Tumbuhnya kapang pada ikan

Pada umumnya kerusakan ikan dibagi menjadi 3 yaitu : kerusakan enzimatis, biologis dan kerusakan fisik.Sedangkan penyebab utama pembusukan ikan adalah enzim dan bakteri. Pada ikan asin yang telah diolah dengan pengeringan dan penggaraman sehingga aw ikan menjadi rendah, kerusakan disebabkan oleh pertumbuhan kapang (Fardiaz S, 1999).

Menurut Syarief et al. (1989) gangguan yang paling umum terjadi pada bahan pangan adalah kehilangan atau perubahan kadar air serta pengaruh gas dan cahaya. Sebagai akibat perubahan kadar air pada produk maka akan timbul jamur dan bakteri, pengerasan (pada produk bubuk) dan pelunakan pada produk kering. Akibat kontak dengan oksigen, produk yang berlemak akan tengik. Ditambahkan oleh Fardiaz (1999) bahwa kebusukan dan kerusakan daging juga ditandai oleh terbentuknya senyawa-senyawa berbau busuk seperti amoniak, H2S, indol dan amin yang merupakan hasil pemecahan protein oleh mikroorganisme. Daging yang rusak memperlihatkan perubahan organoleptik yaitu bau, warna, kekenyalan,penampakan, dan rasa.

Kramlich (1982) dalam Badewi (2002) menyatakan bahwa kerusakan daging olahan umumnya terdiri dari dua jenis yaitu kerusakan aroma (flavor) dan penampilan. Kerusakan flavor daging olahan ditandai dengan timbulnya ketengikan, pembusukan atau adanya bau asam. Kerusakn yang berhubungan dengan penampilan produk disebabkan oleh perubahan warna akibat adanya aktivitas mikroba, pertumbahan mikroba mikroskopis dan oleh agensia bukan mikroba.

Menurut Wibowo (2002) parameter untuk mengukur kesegaran ikan yakni sensori ikan dan dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Parameter Kesegaran Ikan

Parameter

Ciri – Ciri Produk Ikan Segar
Kenampakan Mengkilap, tidak berjamur, dan tidak berlendir
Bau Baunya segar, tanpa bau tengik, masam, basi, busuk
Tekstur Daging kompak, padat

 

Buah Naga daging Putih (Hylocereus undatus)

5 August 2015

Buah Naga daging Putih (Hylocereus undatus)

Menurut Cahyono (2009) Secara umum, buah naga putih memiliki ciri-ciri yang kurang lebih sama dengan jenis buah naga lainnya. Pohon, bentuk buah, kandungan buah, sistem budidaya dan poin lainnya masih erat dengan genera lainnya. Satu-satunya perbedaan yang menjadi dasar pengelompokan berbagai varitas ini ada pada daging buahnya. Buah naga putih memiliki kulit buah berwarna merah cerah lengkap dengan sisik. Hanya saja ketika buah tersebut dibelah, kita akan menemukan daging buah yang berwarna putih dan dipenuhi dengan bebijian kecil berwarna hitam.

Selain warna daging buah, ternyata buah naga putih juga memiliki aroma yang khas dan berbeda dengan jenis buah naga lainnya. Berdasakan penelitian dengan menggunakan sistem bernama QDA, diperoleh perbedaan antara buah naga putih dan buah naga merah. Buah naga putih memiliki urutan aroma berdasarkan intensitasnya dimulai dari green leafy, floral, fatty green, sweet, fruity, dan terakhir plastic green. Sementara buah naga merah, secara berurutan adalah green leafy, floral, fatty green, fruity, sweet, dan diakhiri dengan aroma plastic green. Peneliti QDA menyimpulkan buah naga putih mengandung karakteristik aroma manis yang lebih menonjol jika dibandingkan dengan buah naga merah (Cahyono, 2009).

Berikut ini klasifikasi dari buah naga :

Kingdom : Plantae

Divisio     : Magnoliophyta

Classis      : Magnoliopsida

Ordo         : Caryophyllales

Familia    : Cactaceae

Genus      : Hylocereus, Selenicerius

Spesies    : Hylocereus undatus

Manfaat Dari Buah Naga

Menurut Anonymous, (2010a) kandungan buah naga adalah gula sederhana, betakaroten, serat alami, kalsium, lemak, fosfor, protein, vitamin B1, B2 dan C, air dan masih banyak lagi kandungan lain yang tentunya sangat bermanfaat sekali bagi kesehatan. Berikut ini adalah manfaat dari buah naga adalah:

1. Mencegah Diabetes Melitus

Buah naga memiliki zat yang sangat efektif untuk mengurangi kadar gula dalam darah.

2. Memperkuat Tulang dan Gigi

Fosfor dan Kalsium yang melimpah terdapat dalam buah naga dapat memperkuat tulang dan gigi. Untuk itu dianjurkan untuk mengonsumsi buah naga merah setiap harinya, bagi yang sudah memasuki usia senja sebaiknya mengonsumsi buah naga karena dapat mencegah kerapuhan tulang atau osteoporosis.

3. Jantung Tetap Sehat

Buah naga merupakan salah satu menu makanan sehat yang cukup bagus untuk dikonsumsi agar jantung tetap sehat. Kandungan Vitamin yang ada didalamnya seperti C, B1, B2 dan B3 sangat baik untuk Jantung.

4. Mengatasi Jerawat

Buah naga bisa dijadikan sebagai obat jerawat, hal ini tak luput dari kandungan vitamin C yang dapat diandalkan untuk menghilangkan jerawat. Cara penggunaannya adalah Buah naga dikupas kulitnya lalu di blender hingga halus, tempatkan buah naga yang sudah halus tersebut kedalam sebuah wadah lalu ambil airnya dengan sendok dan usapkan pada wajah.

5. Menurunkan Kadar Kolesterol

Vitamin B3 yang ada di buah naga mampu menurunkan kolesterol dalam darah secara efektif.

6. Meningkatkan Nafsu Makan

Vitamin B1 dan B2 yang ada di dalam buah naga berkhasiat untuk menambah nafsu makan, khususnya ketika dalam masa penyembuhan dari penyakit.

7. Meningkatkan Kekebalan Tubuh

Untuk meningkatkan kekebalan tubuh bisa mengonsumsi buah naga, karena kandungan vitamin C yang ada di dalamnya bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

8. Mencegah Kanker

Kandungan antioksidan di dalam buah naga mampu mencegah tumbuhnya sel kanker dalam tubuh manusia.

9. Menghambat Penuaan dini

Selain sebagai pencegah kanker Antioksidan di dalam buah naga juga dapat menghambat proses penuaan dini. Antioksidan ini akan mengeluarkan racun dalam tubuh secara efektif.

10. Menyehatkan Mata

Kandungan Karoten sangat bermanfaat sekali untuk kesehatan mata.

Udang Vannamei

4 August 2015

Udang Vannamei

Klasifikasi dan Morfologi 

Klasifikasi udang putih menurut (Hardiwiyoto,1993) adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Subkingdom  : Metazoa

Filum                : Arthropoda

Subfilum          : Crustacea

Kelas                 : Malacostraca

Subkelas          : Eumalacostraca

Superordo      : Eucarida

Ordo                  : Decapoda

Subordo           : Dendrobrachiata

Famili                : Penaeidae

Genus                 : Litopenaeus

Spesies               :Litopenaeus vannamei

Purwaningsih (2000) menjelaskan bahwa udang putih memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar (eksoskeleton) secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang putih sudah mengalami modifikasi sehinggadapat digunakan untuk keperluan makan, bergerak, dan membenamkan diri kedalam lumpur (burrowing), dan memiliki organ sensor, seperti pada antena dan antenula.

 Komposisi Kimia Daging Udang Vannamei

Daging udang Vannamei mempunyai kelebihan dalam hal kandungan asam aminonya daripada daging hewan darat.Asam amino tirosintriptofan, dan sistin lebih tinggi terdapat pada daging udang Vannamei. Disamping itu daging udang Vannamei mempunyai rasa lebih enak daripada daging hasil perikanan lainnya (Purwaningsih,2000).

Komposisi gizi dari daging udang secara umum dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Komposisi Kimia Udang Vannamei

Zat kimia terkandung

Komposisi

Air 78,2 %
Lemak 0,8 %
Protein 18,1 %
Karbohidrat 1,4 %
Kalsium (Ca) 145-320 mg/100 gr
Magnesium (Mg) 40-105 mg/100 gr
Fosfor (F) 270-350 mg/100 gr
Besi (Fe) 1,6 mg/100 gr
Natrium (Na) 140 mg/100 gr
Kalium (K) 220 mg/100 gr

Sumber :Hardiwiyoto,1993

Persyaratan Mutu Udang

Udang adalah pangan yang sangat cepat membusuk, penanganannya harus selalu hati-hati guna mencegah pembiakan mikroorganisme. Udang harus dilindungi terhadap cahaya matahari dan angin yang mengeringkan, karena udang segar atau masak/rebus cepat menurun mutunya. Udang yang sudah menurun mutunya atau dicemari atau terkena bahan asing tidak boleh diolah selanjutnya. Udang yang akan dibekukan harus sama perlakuannya seperti udang yang dipasarkan segar. Hanya udang segar yang terbaik yang boleh dibekukan. Udang segar beku setelah dilelehkan, rupa, cita rasa dan teksturnya harus seperti yang dimiliki udang baru ditangkap (Hardiwiyoto, 1993).

Persyaratan mutu udang segar yang harus dipenuhi sesuai dengan SNI 01-2728.1-2006 adalah seperti pada Tabel berikut:

Tabel Persyaratan Mutu Udang Segar

Jenis Uji

Satuan

Persyaratan

a.    Organoleptik Angka (1 – 9) Min 7
b.    Cemaran mikroba*–       ALT

–       Escherichia coli

–       Salmonella

–       Vibrio cholera

Koloni/g

APM/g

APM/25 g

APM/25 g

Maks 5,0 x 105

Maks <2

Negative

Negative

c.    Cemaran kimia-       Kloramfenikol

–       Nitrofuran

–       Tetrasiklin

µg/kg

µg/kg

µg/kg

Maks 0

Maks 0

Maks 100

d.   Filth Maks 0

Sumber : SNI 01-2728.1-2006

Kupang Beras (Corbula faba)

3 August 2015

Kupang

Kupang tergolong jenis kekerangan (bivalvia shell) yang termasuk dalam kelas kelas Pelecypoda (berkaki kapak), bercangkang belah, dengan insang yang berlapis-lapis seperti jala. Kupang hidup secara bergerombol di dasar perairan khususnya di daerah muara sungai berlumpur yang relatif dekat dengan daratan pantai dan dipengaruhi oleh gerakan pasang-surut air laut (Subani et al. 1983). Ada dua jenis kupang yang biasa ditangkap oleh penangkap kupang yaitu Kupang Putih atau Kupang Beras (Corbula faba) dan Kupang Merah (Musculita senhausia). Kupang Putih atau Kupang Beras yang bercangkang lebih keras hidup bebas di bagian bawah dasar perairan, sedangkan Kupang Merah yang ukurannya relatif lebih besar dari Kupang Putih dengan kulit lebih tipis hidup melekat di permukaan dasar perairan bersama bysusnya (Purwati, 2004).Kupang putih diklasifikasikan sebagai berikut (Prayitno dan Susanto, 2002):

Filum     : Molusca

Kelas     : Pelecypoda

Ordo      : Vilobransia

Famili     : Corbula

Spesies : Corbula faba H

Kupang Putih mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan Kupang Merah yaitu daya tahan hidupnya lebih panjang yaitu sekitar 24 jam, lebih cepat menyesuaikan diri pada udara bebas, sedikit bergerak dan jika mati kulitnya tidak membuka sehingga tidak begitu menimbulkan bau. Bentuk dari Kupang Putih dapat dilihat pada Gambar 2.1. Lingkungan perairan Kupang Putih kebanyakan terdapat diantara 2–4 mil dari daratan pantai yang landai. Pada waktu air surut kedalamannya berkisar 0,30-0,75 m, sedangkan pada waktu air pasang kedalamannya mencapai 3-4 m. Pada waktu air surut suhu rata-rata adalah 28,57 oC, sedangkan kadar garamnya adalah 24,27%. Pada waktu air pasang (mulai pasang) suhu rata-ratanya adalah 28,70 oC, sedangkan kadar garamnya adalah 29,32% (Subani et al, 1983).

Kupang Putih sebagai salah satu sumber protein hewani mangandung protein yang cukup tinggi, dalam rangka menunjang peningkatan gizi masyarakat dari protein hewani, Kupang Putih dapat digunakan sebagai salah satu alternatif sumber protein. Adapun kandungan gizi dari berat basah daging Kupang Putih dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Kandungan Gizi Daging Kupang Putih (Corbula faba Hinds)

Kandungan Gizi

Kupang Putih (%)

Air

72,96

Protein

    9,054

Lemak

  1,50

Abu

  3,80

Sumber: Baswardono (1983)

« Previous Page