Home » artikel » Daun Alpukat (Persea americana miller )

Daun Alpukat (Persea americana miller )

Daun Alpukat (Persea americana miller )

Taksonomi Daun Alpukat

Berdasarkan taksonominya tanaman alpukat dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Kanisius, 1997) :

Kerajaan          : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi          : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Ordo                : Laurales

Family             : Lauraceae

Genus             : Persea

Spesies           : Persea americana miller

Daun tumbuh berdesakan di ujung ranting. Bentuk daun ada yang bulat telur atau menjorong dengan panjang 10-20 cm, lebar 3 cm, dan panjang tangkai 1,5-5 cm. Bunga berbentuk malai, tumbuh dekat ujung ranting dengan jumlah banyak, garis tengah 1-1,5 cm, warna putih kekuningan, berbulu halus. Buah berbentuk bola berwarna hijau atau hijau kekuningan dan biji berbentuk bola (Tersono, 2008). Daun merupakan bagian tanaman yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan, mengingat fungsinya tersebut maka alat ini sering disebut dengan alat vegetatif, pada batasnya terdapat daun berbentuk tunggal dan tersusun dalam bentuk spiral. Daun alpukat disebut daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian saja, tanpa upih atau pelepah daun. Bagian tanaman yang berfungsi sebagai alat pengambilan dan pengolahan zat-zat makanan serta alat penguapan air dan pernapasan, daun berwarna hijau tua dan pucuk hijau muda sampai agak kemerahan (Indriyani dan Sumiarsih, 1992).

Kandungan Kimia Daun Alpukat Sebagai Zat Pewarna Alami

Kandungan zat aktif yang terdapat di daun alpukat (Persea america miller) adalah saponin, alkaloida dan flavonoida serta polifenol, quersetin dan gula alkali persiit (Mursito, 2007). Flavanoida merupakan kelompok flavanol turunan senyawa benzena dapat digunakan sebagai senyawa dasar zat warna alam. Menurut Chang dan Kinghorn (2001) ada tiga kelompok flavanoida yang amat menarik perhatian dalam fisiologi tumbuhan yaitu antosianin, flavanol, dan flavon. Antosianin adalah pigmen berwarna merah, ungu, dan biru. Warna antosianin pertama-tama bergantung pada gugus pengganti yang terdapat dicincin B. Kedua, antosianin sering berhubungan dengan flavon atau flavonol yang menyebabkan warnanya menjadi lebih biru. Ketiga, antosianin berhubungan satu sama lain, khususnya pada konsentrasi tinggi dan ini dapat menyebabkan efek kemerahan atau kebiruan, bergantung pada antosianin dan pH vakuola tempat mereka terhimpun.

Berdasarkan penelitian Maryati dkk.(2007), penapisan fitokimia daun alpukat menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, tanin katekat, kuinon, saponin, dan steroid/ triterpenoid. Menurut (Sulaeman dkk.,1999) tanin merupakan senyawa fenolik kompleks yang tersebar luas dalam tanaman, seperti daun, buah yang belum matang, batang dan kulit kayu. Pada buah yang belum matang, tanin digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam bentuk oksidasi tanin. Lestari (2014) menyatakan bahwa ekstraksi tanin dari daun alpukat, diketahui total tanin yang terkandung dalam ekstrak tersebut berkisar antara 15.81 – 22.07 %. Tanin akan menghasilkan warna coklat (Hidayat dan Saati, 2006).

artikel

No Comments to “Daun Alpukat (Persea americana miller )”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*