Monthly Archives: August 2015

Sagu (Metroxylon sagu Rottb.)

31 August 2015
Sagu (Metroxylon sagu Rottb.)
 
Tanaman sagu dengan bahasa latin Metroxylon spRottb. berarti tanaman yang menyimpan pati pada batangnya (Metro : empulur, xylon : xylem, sagu : pati). Menurut Flach (1995) tanaman sagu merupakan tanaman hapaxanthik (berbunga satu kali dalam satu siklus hidup) dan soboliferous (anakan). Satu siklus hidup tanaman sagu dari biji sampai membentuk biji diperlukan waktu hingga 11 tahun dalam empat periode fase pertumbuhan awal atau gerombol (russet) diperlukan waktu 3.75 tahun, fase pembentukan batang diperlukan waktu 4.5 tahun, fase infoloresensia (pembungaan) diperlukan waktu 1 tahun dan fase pembentukan biji diperlukan waktu selama 1 tahun (Flach, 2005).

Batang sagu merupakan bagian yang terpenting karena merupakan gudang penyimpan pati. Ukuran batang sagu berbeda-beda tergantung dari jenis, umur, dan lingkungan atau habitat tumbuhnya. Pada umur 3-11 tahun tinggi batang bebas daun sekitar 3-16 m, bahkan dapat mencapai 20 m. Sagu memiliki batang tertinggi pada umur panen, yaitu 14 tahun ke atas. Pada rumpun sagu rata-rata terdapat 1-8 batang, pada setiap pangkal batang tumbuh 5-7 batang anakan. Pada kondisi liar, rumpun sagu ini akan melebar dengan jumlah anakan yang banyak, dalam berbagai tingkat pertumbuhan anakan tersebut sedikit sekali yang tumbuh menjadi pohon dewasa (Haryanto,1992).

Ditinjau dari segi penghasil karbohidrat, tanaman sagu memiliki kemampuan untuk menghasilkan karbohidrat lebih tinggi dibandingkan tanaman karbohidrat lainnya.  Dari penanaman baru, sagu mulai berproduksi pada umur sekitar 10 tahun. Namun setelah itu, dengan kemampuan selalu menumbuhkan tunas-tunas baru, sagu dapat terus-menerus berproduksi secara ekonomis tanpa penanaman baru. Hingga kini, sagu diketahui mempunyai daya hasil pati tertinggi per satuan luas per satuan waktu. Sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton per hektar, jauh melebihi produksi pati beras atau jagung yang masing-masing hanya 6 ton dan 5.5 ton per hektar.  Sagu tidak hanya menghasilkan pati terbesar, tetapi juga menghasilkan pati sepanjang tahun.

Pati Sagu

Pati merupakan bagian dari karbohidrat. Pati merupakan sumber utama penghasil energi dari pangan yang dikonsumsi oleh manusia. Sumber-sumber pati di dunia berasal dari tanaman sereal, legume, umbi-umbian, serta beberapa dari tanaman palm seperti sagu (Bastian, 2011). Pati merupakan polisakarida yang terdiri atas unit-unit glukosa anhidrat. Unit glukosa yang satu dengan yang lain dihubungkan ikatan 1,4-a-D-glikosidik. Pati dapat diperoleh dari berbagai macam tanaman seperti ken tang, jagung, beras, dan sagu (Swinkels, 1985 dalam Teja dkk, 2008).

Pati sagu merupakan hasil ekstraksi empulur pohon sagu yang sudah berumur tua (8-16 tahun). Komponen terbesar yang terkandung dalam sagu adalah pati. Kemampuan tanaman sagu untuk mengakumulasikan tepung pati pada batangnya dapat mencapai 200 sampai 220 kg/pohon (Jong, 1995) . Hasil perhitungan hasil pati dilaporkan Doelle (1998) yaitu 25 ton/ha, Ishizaki (1998) juga menunjukkan angka produksi pati sagu dibandingkan komoditas penghasil pati lain pada tabel 1. Penelitian-penelitian terbaru memperlihatkan kemampuan beberapa jenis sagu menghasilkan lebih dari 700 kg pati kering per pohon (Yamamoto 2004).  Dengan demikian, secara teoritis, setiap hektar dengan 100 pohon dapat menghasilkan 70 ton pati kering sagu.

Tabel Daya hasil pati sagu dibanding beberapa komoditas lain.

Komoditas                                           Hasil pati (t/ha/th)

Sagu                                                                25

Padi                                                                 6

Jagung                                                            5.5

Gandum                                                          5

Kentang                                                           2.5

Ubi kayu                                                          1.5

Sumber: Ishizaki (1996).

Pati sagu tersusun atas dua fraksi penting yaitu amilosa yang merupakan fraksi linier dan amilopektin yang merupakan fraksi cabang. Fraksi terlarutnya adalah amilosa dengan kadar ±27% dengan struktur linier, sedangkan fraksi tidak terlarutnya adalah amilopektin dengan kadar ±73% dengan struktur bercabang (Yazid, et.al, 2006). Berdasarkan kandungan amilosanya, pati dibagi menjadi empat golongan, yaitu : Pati dengan kadar amilosanya tinggi (25 – 33 %); Pati dengan kadar amilosa menengah (20 – 25 %); Pati dengan kadar amilosa rendah (9 – 20 %); dan pati dengan kadar amilosa sangat rendah (< 9 %) (Winarno,2002). Syarat pati sagu dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel  Syarat Pati Sagu

Komponen Satuan Jumlah
Air % (b/b) Maks 13 *
Abu % (b/b) Maks 0,5*
Serat kasar % (b/b) Maks 0,1 *
Protein % Maks 0,3 **

Sumber : * SNI 01-3729-1995

** Widaningrum dkk (2005)

Pati sagu yang ada di Indonesia umumnya merupakan pati sagu yang diperoleh melalui ekstraksi secara tradisional. Proses ekstraksi yang dilakukan secara tradisional hanya memisahkan pati berdasarkan kemampuannya untuk tersuspensi di dalam air kemudian mengendapkan pati yang tersuspensi (Herawati, 2009).  Keberadaan komponen selain pati pada pati sagu menjadi bagian dari penentu mutu pati sagu.

Proses ekstraksi pati sagu yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan pati dengan tingkat kemurnian yang tinggi yaitu dengan kandungan abu, lemak, protein dan serat kasar yang serendah mungkin. Adanya variasi metode dan peralatan yang digunakan dalam ekstraksi pati sagu di setiap daerah menyebabkan adanya perbedaan tingkat kemurnian sagu yang diperoleh.

Sagu memiliki kandungan karbohidrat, protein, lemak, kalsium, dan zat besi yang tinggi. Dengan kandungan tersebut, sagu berpotensi dijadikan sebagai bahan baku sirup glukosa yang dapat meningkatkan nilai tambah sagu. Pati sagu mengandung 27% amilosa dan 73% amilopektin. Perbandingan komposisi kadar amilosa dan amilopektin akan mempengaruhi sifat pati. Semakin tinggi kadar amilosa maka pati bersifat kurang kering, kurang lekat dan mudah menyerap air (higroskopis). Komposisi kimia sagu asal Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel Komposisi Kimia Sagu Asal Indonesia

Komponen

Asal sagu

Sukabumi*

Maluku*

Papua**

Tumi Molat Ihur Hapholo

Hungleu

Hapholo

longsay

Yepha

Hungleu

Yepha

hongsay

Air (%b/b)

14,01

16,90

17,03

15,37

Abu(%bb)

0,18

0,27

0,22

0,26

Lemak(%bb)

0,09

0,06

0,03

0,12

0,11

0,07

0,08

0,12

Protein(%bb)

0,37

0,30

0,48

0,25

0,06

0,12

0,19

0,25

Karbohidrat(%bb)

85,29

82,55

82,37

82,27

81,19

86,12

80,01

83,31

Serat kasar(%bb)

0,62

0,87

0,63

0,70

Amilosa(%bb)

34,15

33,82

34,96

30,90

28,63

29,52

27,55

27,34

Amilopektin(%bb)

52,76

55,38

53,42

57,32

52,79

52,83

56,54

55,43

Sumber:   * Purwani dkk. (2006)                         (-) data tidak tersedia

** Tenda et al., (2005)

Karbohidrat merupakan komponen terbesar dalam pati sagu. Proses ekstraksi pati yang dilakukan pada produksi pati sagu memungkinkan karbohidrat yang terekstrak adalah dalam bentuk pati. Karbohidrat lain seperti gula dan serat kemungkinan akan terbawa dalam jumlah yang sangat sedikit (Herawati, 2009). Seperti halnya pati dari sumber lainnya, molekul pati sagu disusun oleh dua kelompok makromolekul yaitu amilosa dan amilopektin. Baik amilosa maupun amilopektin disusun oleh monomer a-D-glukosa yang berikatan satu sama lain melalui ikatan glikosidik . Perbedaan antara kedua makromolekul terletak pada pembentukan percabangan pada struktur liniernya, ukuran derajat polimerisasi, ukuran molekul dan pengaturan posisi pada granula pati.

Dalam bentuk aslinya pati merupakan butir – butir kecil yang sering disebut granula. Sebaran dan ukuran granula sangat menentukan karakteristik fisik pati serta aplikasinya dalam bentuk pangan. Granula pati bervariasi dalam bentuk dan ukuran, ada yang berbentuk bulat, oval, atau bentuk tidak beraturan. Demikian juga ukuranya, mulai kurang dari 1 µm sampai 150 µm tergantung sumber patinya (Bank and Greenwood,1975). Pati terdeposit dalam biji, umbi, akar dan batang tanaman seperti sagu.

Granula pati mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka ragam sesuai dengan sumbernya, bentuk granula pati sagu adalah oval terpotong, diduga bukan merupakan bentuk alami, tetapi lebih disebabkan karena rusaknya granula akibat proses pengecilan ukuran empulur sagu dalam proses ekstraksi pati. Hal ini ditunjukkan pada pengamatan mikroskopis, dimana ketika dilakukan pemanasan granula dengan bentuk oval terpotong langsung mengalami amylose leaching. Ukuran granula pati sagu lebih besar daripada ukuran granula pati tanaman berpati yang lainnya. Ukuran granula yang besar mengindikasikan tingginya kemampuan menyerap air pada saat mengalami gelatinisasi. Hal ini yang memungkinkan pati alami memiliki viskositas yang tinggi.

Karakteristik pati sagu menurut Ahmad(1999) yaitu memiliki ukuran granula rata-rata 30m, kadar amilosa 27%±3, suhu gelatinisasi pati 70°C, entalpi gelatinisasi 15-17J/g, dan termasuk tipe C pada pola X-ray difraction. Bentuk dan komposisi granula pati sagu dibandingkan jenis pati yang lainnya mendekati pati ubi kayu, sedangkan ukuran granula pati kentang (Swinkels, 1985 di dalam Van Beynum dan Roels, 1985).

 

Kulit Jeruk Bali

28 August 2015

Kulit Jeruk Bali

Kulit buah jeruk bali mengandung senyawa-senyawa bioaktif seperti flavanoid, alkaloid, vitamin C, likopen, serta yang paling dominan adalah pektin dan tanin. Selama ini hampir 50% kulit jeruk bali belum sepenuhnya termanfaatkan (Menteri Pertanian RI. 2010). Berdasarkan hal tersebut maka kulit buah jeruk bali memiliki potensi yang cukup besar untuk digunakan sebagai antibakteri (Orwa, 2009).

Warna kulit buah jeruk bali bervariasi dari hijau gelap sampai ke hijau kekuningan setelah masak. Diameter buah rata-rata sekitar 20 cm. Kulit buah sangat tebal dan bergabus. (Scora RW and Nicolsion DH. 1986).

Terdapat tujuh varietas jeruk bali. Ketujuh varietas tersebut adalah 1. Nambangan; 2. Nambangan Merah; 3. Nambangan Putih; 4. Magetan Tanpa Biji; 5. Sri Nyonya; 6. Ades Duku dan 7. Gulung. (Menteri Pertanian RI).

Senyawa fenolik meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari tumbuhan yang mempunyai ciri yang sama, yaitu cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus -OH. Senyawa fenolik di alam mempunyai variasi struktur yang luas, mudah ditemukan di semua tanaman, daun, bunga, buah, dan kulit buah. Ribuan senyawa fenolik alam telah diketahui strukturnya, antara lain flavonoid, fenol monosiklik sederhana, fenil propanoid, polifenol (lignin, melanin, tanin), dan kuinon fenolik (Fauziah, 2008).

Banyak senyawa fenol alami mengandung sekurang-kurangnya satu gugus hidroksil dan lebih banyak yang membentuk senyawa eter, ester, atau glikosida daripada senyawa bebasnya. Senyawa ester atau eter fenol tersebut memiliki kelarutan yang lebih besar dalam air dari pada senyawa fenol dan senyawa glikosidanya. Dalam keadaan murni, senyawa fenol berupa zat padat yang tidak berwarna, tetapi jika teroksidasi akan berubah menjadi gelap. Kelarutan fenol dalam air akan bertambah jika gugus hidroksil semakin banyak (Fauziah, 2008). Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena umumnya sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya terdapat dalam vakuola sel (Utami, 2008).

Menurut Pambayun dkk. (2007) senyawa yang bersifat antibakteri pada kulit jeruk bali adalah golongan senyawa fenolik. Pada tahun 1923, Freudenberg dan Purrman telah mengisolasi dua komponen polifenol dari ekstrak kering jeruk bali, yaitu tanin. Analisis kuantitatif kandungan total flavan dengan menggunakan metode estimasi asam vanilin dengan kisaran antara 22 -27 % dan dilakukan analisa dengan RP-HPLC yaitu kadar tanin sebesar 23 %, epikatekin 1,5 % dan katekin 1% (Kassim et al., 2011). Berdasarkan hasil penelitian Nonaka (1980) dalam Kassim et al. (2011) diketahui bahwa dalam kulit jeruk bali terdapat pektin dan senyawa tanin sebagai komponen utama disertai dengan bentuk dimer dan oligomernya.

Alkaloid adalah sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang kebanyakan heterosiklik. Hampir semua alkaloid dialam mempunyai keaktifan biologis dan memberikan efek fisiologis tertentu pada mahluk hidup. Senyawa alkaloid juga merupakan senyawa organik terbanyak yang ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik daun-daunan yang berasa sepat dan pahit biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Selain pada daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji ranting, dan kulit buah serta kayu. (Switaning, 2010)

Fungsi alkaloid dalam tumbuhan sejauh ini belum diketahui secara pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid diperkirakan sebagai pelindung tumbuhan dari serangan hama penyakit, pengatur tumbuh atau sebagai basa mineral untuk mempertahankan keseimbanagan ion (Ahira, 2008).

Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbanyak terdapat di alam, senyawa-senyawa ini bertanggung jawab terhadap zat warna merah, ungu, biru dan sebagian zat warna kuning dalam tumbuhan. Semua flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawa induk “flavon” yakni nama sejenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan juga lazim ditemukan, yang berupa tepung putih pada tumbuh-tumbuhan. Sebagian besar flavonoid yang terdapat pada tumbuhan terikat pada molekul gula sebagai glikosida, dan dalam bentuk campuran jarang sekali di jumpai berupa senyawa tunggal. (Anonymous, 2012)

Tanin merupakan zat organik yang sangat kompleks dan terdiri dari senyawa fenolik. Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tanin terdiri dari sekelompok zat – zat kompleks terdapat secara meluas dalam dunia tumbuh – tumbuhan, antara lain terdapat pada bagian kulit kayu, batang, daun, dan buah -buahan (Hidayati, 2009). Secara kimia terdapat dua jenis utama tanin, yaitu tanin terkondensasi dan tanin terhidrolisis (galotanin). Tanin terkondensasi atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan karbon-karbon menghubungkan satu flavon dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-6 atau 6-8. Kebanyakan flavolan mempunyai 2-20 satuan flavon (Utami, 2008). Tanin terhidrolisis biasanya berupa senyawa amorf, higroskopis, dan berwarna coklat kuning yang larut dalam air (terutama air panas). Tanin disebut juga asam tanat, galotanin atau asam galotanat, memiliki titik leleh 305oC, titik didih 127oC, dan kelarutan dalam air 0,656 gr dalam 1ml (70oC) (Hidayati, 2009).

Daun Miana (Coleus benth)

27 August 2015

Daun Miana (Coleus benth)

Daun miana atau yang biasa disebut dengan tanaman iler menurut Lisdawati (2008) mempunyai nama ilmiah (Coleus benth). Tanaman ini tergolong ke dalam famili Lamiaceae, yaitu tumbuhan liar yang terdapat di ladang atau di kebun-kebun sebagai tanaman hias. Berbatang basah yang tingginya mencapai 1 meter. Daunnya berbentuk segitiga atau bentuk bulat telur dengan warna yang sangat bervariasi, dari  warna hijau hingga merah keungu-unguan dan mempunyai tepi yang beringgit. Pada saat dewasa atau tanaman ini mempunyai bunga yang berwarna merah atau ungu atau kuning. Senyawa kimia yang terkandung dalam daun miana (Coleus benth) adalah golongan minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, steroid, tanin,dan saponin (Iler, 2012).

Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, minyak esensial karena pada suhu kamar mudah menguap. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi. Untuk mencegahnya, minyak atsiri harus disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap, diisi penuh, ditutup rapat, serta disimpan di tempat yang kering dan sejuk (Gunawan & Mulyani, 2004).

Flavonoid adalah senyawa fenolik alam yang potensial sebagai antioksidan dan mempuyai bioaktifitas sebagai obat.Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, dan biru, dan sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan dan terdapat pada batang, daun, bunga, dan buah. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, meningkatkan efektifitas vitamin C, anti-inflamasi, mencegah keropos tulang, dan sebagai antibiotik.

Mungkin banyak orang di Indonesia belum banyak mengetahui tentang keberadaan daun miana ini, sehingga tidak mengetahui kandungan dan manfaat yang ada di dalam daun tersebut. Secara empiris daun miana ini dapat berefek farmakologis antara lain, sebagai penambah nafsu makan, antimalaria, penambah darah, selain itu bisa untuk terapi penyakit jantung. Bagian yang digunakan atau dimanfaatkan adalah daunnya.

Tanaman iler ini banyak tumbuh pada daerah yang memiliki tanah agak lembab atau sedikit berair. Di daerah tertentu seperti Manado, Kupang, Papua, dan Toraja daun miana diolah sebagai sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari (Iler, 2012).

Miana atau yang biasa disebut dengan iler mempunyai klasifikasi sebagai berikut : (Basrah, 1995)

Kingdom        : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi  : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas       : Asteridae
Ordo                : Lamiales
Famili              : Lamiaceae
Genus             : Coleus
Spesies           : Coleus atropurpureus (L) Benth

Jali (Coix lacryma jobi-L)

26 August 2015

Jali (Coix lacryma jobi-L)

Jali (Coix lacryma-jobi L.) adalah tanaman famili Poaceae (rumput-rumputan yang menghasilkan biji yang dapat dimakan (edible grains) seperti serealia lain (gandum, jagung, millet, barley) (Dharmananda, 2007dalam Cahyani, 2010).Jali (Coix lacryma-jobi L.) masih satu rumpun dengan jagung (Zea mays) dan sorghum (Sorghum bicolor), yaitu dalam rumpun Andropogoneae (Black et al., 2006dalam Cahyani, 2010).

Jali memiliki nama yang bermacam-macam seperti Job’s tear, Adlay, Mayuen, Gandum mutiara china (Chinese pearl barley), dan Hatomugi (Chaisiricharoenkul et al., 2011). Di Indonesia, Coix lacryma-jobi dikenal dengan berbagai sebutan antara lain Hanjeli, Hajeli, Jelai, Jali, Japen, Jaten (Heyne, 1987). Daerah asal jali adalah Asia Timur sampai India Timur yang menyebar ke Cina, Mesir, Jerman, Haiti, Hawai, Jepang, India, Indonesia, Panama, Philipina, Taiwan, Amerika, Venezuela, Australia, Malaysia, dan Papua (Plants For A Future, 2000).

Menurut pengamatan yang dilakukan di daerah Bandung Utara, beberapa petani lokal menyatakan bahwa tanaman ini hanya membutuhkan sedikit pupuk, dan tidak memiliki hama dan penyakit yang cukup berarti. Satu-satunya ancaman utama adalah burung liar yang mengincar bijinya.Namun budidaya tanaman jali tetap memerlukan tanah yang baik, air yang cukup dan sinar matahari yang cukup.Pemberian pupuk untuk menambah unsur hara nitrogen tetap diperlukan (Nurmala, 2003). Kekurangan jali dibandingkan padi dan jagung adalah produktivitas (yield) yang masih relatif lebih rendah. Walaupun pada dasarnya tanaman ini bersifat perennial (tahunan), tetapi untuk budidaya dianggap sebagai tanaman annual (musiman).Masa panen jali sekitar 5-6 bulan sejak biji ditanam.Tanaman tumbuh secara vegetatif selama empat bulan sebelum berbunga dan penyerbukan terjadi, sedangkan pertumbuhan bijian memakan waktu dua bulan (Burnette, 2012).Dalam satu rumpun dapat terdiri banyak tunas. Kalau dalam 1 lubang ditanam 2 biji, maka dala satu rumpun akan tumbuh sekitar 7-10 tunas pada masa panen pertama. Pada masa panen ke-2 akan menjadi lebih banyak lagi. Berbeda dengan jagung yang hanya satu kali panen per 1 kali tanam, tetapi jali dapat dipanen berkali kali dalam satu kali tanam.FAO dan PROSEA melaporkan bahwa jali bereproduksi 2-4 ton tanpa kulit per hektar dengan persentase penggilingan (sejumlah biji yang telah dikuliti) 30-50% (Burnette, 2012).Bentuk tanaman jali dapat dilihat pada Gambar berikut:

Biji jali dikelompokkan menjadi dua bentuk, yaitu biji yang dikultivasi berkulit lunak dan jali liar yang berkulit keras (Arora, 1977).Jenis yang dibudidayakan (var. ma-yuen) memiliki peranan penting sebagai obat tradisional.Jenis ini memiliki cangkang yang tipis dan mudah dipecahkan sehingga mudah untuk mendapatkan biji dalamnya untuk bahan makanan.Jali kultivasi digunakan tersebar sebagai pangan dan pakan, tetapi jali liar (var. stenocarpa, var. monilifer, dll) umumnya digunakan sebagai ornament dan dibentuk menjadi kalung tasbih (Purseglove, 1972 dalam Apirattananusorn, 2008).Lakkaham et.al (2009) menyebutkan ada 4 varietas jali, yaitu jali ketan, jali batu, jali abu-abu, dan jali normal.Keempat jali tersebut dapat dibedakan secara visual berdasarkan warna kulit arinya.Apabila kulit ari pada biji jali tersebut dikelupas, maka terlihat warna biji yang putih. Di Indonesia, masyarakat membedakan jali menjadi 2, yaitu jali batu dan jali ketan. Jali batu menghasilkan biji yang keras dan biasanya jenis jali batu ini tumbuh liar, sedangkan jali ketan dibudidayakan untuk diambil bijinya.Jali ketan berkulit tipis dan lebih lunak dan warna kulit biji jali ketan cokelat kekuningan, kuning gading sampai ke merah jambu, dengan permukaan kurang licin dan kurang mengkilap (Foragri, 2010dalam Cahyani, 2010).

Menurut Chaisirichharoenkul et al(2011), jali telah banyak digunakan pada pengobatan tradisional China karena mengandung anodin, anti-inflamasi, antipiretik, antiseptic, antispasmodic, hipoglikemik, hipotensif, sedative, dan vermifuge (Plants For A Future, 2000). Di Jepang dan Thailand digunakan sebagai penambah sup pada makanan yang merupakan alternatif makanan yang sehat. Percobaan yang telah dilakukan terhadap manusia dan hewan bahwa mengkonsumsi biji jali dapat meningkatkan metabolisme lemak sehingga dapat menurunkan resiko penyakit jantung.Beberapa komponen bioaktif jali terutama coixenolide dapat menghambat tumor, mencegah kanker, dan melindungi dari inveksi virus (Hung dan Chang, 2003).Tidak hanya berpotensi sebagai obat, tumbuhan yang tergolong serealia ini juga berpotensi sebagai sumber pangan karena memilki rasio protein karbohidrat yang tinggi. Bila dibandingkan dengan gandum, biji jali memilki jumlah fosfor dan besi yang lebih tinggi, kandungan lemak dua kali lipat lebih banyak, dan protein, vitamin B kompleks serta energi yang setara (Plants For A Future, 2000). Perbandingan nilai gizi biji jali dengan serealia lainnya dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel Komposisi Kimia Tanaman Serealia dalam 100 g Biji Serealia

Komposisi Kimia

Beras

Jagung

Millet

Sorghum

Barley

Jali

Gandum*

Kadarair (%)

13.5

13.6

11.0

12.0

13.7

15.0

14.0

Energi (kJ)

1711

1690

1573

1628

1586

1506

330 (kkal)

KH (%)

87.7

83.0

78.9

82.6

83.2

76.4

77.3

Protein (%)

8.8

10.5

12.8

11.4

12.2

14.1

10-16

Lemak (%)

2.1

4.9

5.6

4.2

2.4

7.9

1-2.9

Serat (%)

0.8

2.7

1.7

2.5

2.9

0.9

Abu (g)

1.3

1.6

2.7

1.7

2.2

1.6

1.9

Ca (mg)

18

16

56

25

58

54

48

Fe (mg)

3.2

3.2

10.1

4.3

7.0

0.8

3.1-4.6

Vit B1 (mg)

0.39

0.34

0.35

0.37

0.36

0.48

1.1

Vit. B2 (mg)

0.08

0.13

0.16

0.20

0.12

0.10

Niacin (mg)

5.8

2.4

2.0

4.4

6.0

2.7

Sumber: Grubben dan Partohardjono(1996)

*Hardiyanti (2009)

Duke (1983) menyatakan bahwa protein yang terdapat dalam biji jali terdiri atas asam amino tyrosine, arginine, histide, asam glutamate, lysine dan leusine. Selain kaya akan protein, biji jali juga mengandung lemak essensial, asam lemak miristat dan palmitat. Asam lemak essensialnya terdiri atas 45-55%, asam oleat 35%, dan asam linoleat 39% (Lau, 2003).

Granula pati jali berbentuk bulat dan polygonal dengan ukuran rata-rata 11.68-12.29 µm. Suhu gelatinisasi jali putih dan jali hitam berkisar antara 67-81°C dengan tipe gelatinisasi tipe A (Chaisiricharoenkul, et.al., 2011).  Pada biji jali tidak terdapat gluten, sehingga tidak akan tejadi pengembangan adonan saat pemanggangan (Grubben dan Partohardjono, 1996). Oleh karena itu penggunaan tepung jali dapat dipergunakan sebagai tepung campuran untuk memberi rasa tertentu pada produk pangan berbasis tepung.Menurut Sulaeman dkk.(1993), tepung jali dapat disubstitusikan dalam tepung terigu untuk membuat berbagai produk olahan. Hal ini karena tepung jali memilki pH antara 4,75-5,75 yang hampir sama dengan tepung terigu dan mengandung 19,97% amilosa yang hampir sama dengan tepung terigu (19,91%).

Daun Alpukat (Persea americana miller )

25 August 2015

Daun Alpukat (Persea americana miller )

Taksonomi Daun Alpukat

Berdasarkan taksonominya tanaman alpukat dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Kanisius, 1997) :

Kerajaan          : Plantae

Divisi               : Spermatophyta

Subdivisi          : Angiospermae

Kelas               : Dicotyledonae

Ordo                : Laurales

Family             : Lauraceae

Genus             : Persea

Spesies           : Persea americana miller

Daun tumbuh berdesakan di ujung ranting. Bentuk daun ada yang bulat telur atau menjorong dengan panjang 10-20 cm, lebar 3 cm, dan panjang tangkai 1,5-5 cm. Bunga berbentuk malai, tumbuh dekat ujung ranting dengan jumlah banyak, garis tengah 1-1,5 cm, warna putih kekuningan, berbulu halus. Buah berbentuk bola berwarna hijau atau hijau kekuningan dan biji berbentuk bola (Tersono, 2008). Daun merupakan bagian tanaman yang berfungsi untuk mempertahankan kehidupan, mengingat fungsinya tersebut maka alat ini sering disebut dengan alat vegetatif, pada batasnya terdapat daun berbentuk tunggal dan tersusun dalam bentuk spiral. Daun alpukat disebut daun tidak lengkap karena hanya terdiri dari tangkai dan helaian saja, tanpa upih atau pelepah daun. Bagian tanaman yang berfungsi sebagai alat pengambilan dan pengolahan zat-zat makanan serta alat penguapan air dan pernapasan, daun berwarna hijau tua dan pucuk hijau muda sampai agak kemerahan (Indriyani dan Sumiarsih, 1992).

Kandungan Kimia Daun Alpukat Sebagai Zat Pewarna Alami

Kandungan zat aktif yang terdapat di daun alpukat (Persea america miller) adalah saponin, alkaloida dan flavonoida serta polifenol, quersetin dan gula alkali persiit (Mursito, 2007). Flavanoida merupakan kelompok flavanol turunan senyawa benzena dapat digunakan sebagai senyawa dasar zat warna alam. Menurut Chang dan Kinghorn (2001) ada tiga kelompok flavanoida yang amat menarik perhatian dalam fisiologi tumbuhan yaitu antosianin, flavanol, dan flavon. Antosianin adalah pigmen berwarna merah, ungu, dan biru. Warna antosianin pertama-tama bergantung pada gugus pengganti yang terdapat dicincin B. Kedua, antosianin sering berhubungan dengan flavon atau flavonol yang menyebabkan warnanya menjadi lebih biru. Ketiga, antosianin berhubungan satu sama lain, khususnya pada konsentrasi tinggi dan ini dapat menyebabkan efek kemerahan atau kebiruan, bergantung pada antosianin dan pH vakuola tempat mereka terhimpun.

Berdasarkan penelitian Maryati dkk.(2007), penapisan fitokimia daun alpukat menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, tanin katekat, kuinon, saponin, dan steroid/ triterpenoid. Menurut (Sulaeman dkk.,1999) tanin merupakan senyawa fenolik kompleks yang tersebar luas dalam tanaman, seperti daun, buah yang belum matang, batang dan kulit kayu. Pada buah yang belum matang, tanin digunakan sebagai energi dalam proses metabolisme dalam bentuk oksidasi tanin. Lestari (2014) menyatakan bahwa ekstraksi tanin dari daun alpukat, diketahui total tanin yang terkandung dalam ekstrak tersebut berkisar antara 15.81 – 22.07 %. Tanin akan menghasilkan warna coklat (Hidayat dan Saati, 2006).

Kelor (Moringa oleifera L.)

24 August 2015
Kelor (Moringa oleifera L.)

Kingdom : Plantae

Divisio : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Brassicales

Famili : Moringaceae

Genus : Moringa

Spesies : Moringa oleifera L.

Pohon kelor sejak zaman dahulu telah tersebar di banyak  tempat di dunia dan di Indonesia. Daun kelor secara luas telah digunakan sebagai bahan konsumsi makanan manusia, produk-produk farmasi, penjernihan air dan makanan hewan. Di Afrika dan Asia, daun kelor direkomendasikan sebagai suplemen yang kaya zat gizi untuk ibu menyusui dan anak pada masa pertumbuhan (Fuglie, 2001). Khasiat daun kelor yang lain adalah sebagai obat sakit kuning, obat sakit mata, obat haid yang tidak teratur, obat pusing, obat sesak nafas, ekspektoran (obat yang dapat memudahkan pengeluaran dahak atau getah radang dari paru-paru), encok, obat mual  dan penguat tubuh atau tonik (Anonymous,  2004).

Nama umum dari tanaman ini adalah kelor, beberapa nama sebutan di daerah-daerah tertentu seperti Kelor (Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Kerol (Buru), Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo), Keloro (Bugis), Kawano (Sumba), Ongge (Bima) dan Hao fo (Timor). Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu dengan tinggi pohon dapat mencapai 8 m. Pohon kelor tidak terlalu besar, batang kayunya getas dan cabangnya jarang. Daun kelor berbentuk bulat, berukuran 2-6 cm dan bersusun majemuk dalam satu tangkai (Anonymous, 2004).

Berdasarkan kandungan yang terdapat dalam daun kelor, saat ini daun kelor banyak dikonsumsi manusia hampir di seluruh dunia. Menurut  Ghasi (2000), daun kelor di India digunakan untuk mengobati manusia yang mengidap penyakit jantung dan kegemukan hal ini didasarkan dari kemampuan daun kelor yang dapat mereduksi efek dari kolesterol. Selain itu daun kelor juga dimanfaatkan oleh anak-anak di India karena memiliki kandungan  ß-karoten untuk mencegah defisiensi  vitamin A.  Daun kelor  di Nigeria  dikonsumsi sebagai sayur-sayuran dan tidak pernah dilaporkan menimbulkan efek pada manusia yang mengkonsumsinya. Daun kelor muda biasa dimasak dan dimakan seperti bayam atau digunakan untuk membuat sup dan salad (Foild, 2007)

Di Indonesia daun kelor dikonsumsi sebagai sayuran dengan rasa  yang khas, yang memiliki rasa langu dan juga digunakan untuk pakan ternak karena dapat meningkatkan perkembangbiakan ternak khususnya unggas. Selain dikonsumsi daun kelor juga dijadikan obat-obatan dan penjernih air (Anonymous, 2004). Menurut Sharmila (2012), di dalam daun kelor juga mengandung enzim proteolitik.

Kandungan kimia yang dimiliki daun kelor antara lain asam amino yang berbentuk asam aspartat, asam glutamat, alanin, valin, leusin, isoleusin, histidin, lisin, arginin, venilalanin, triftopan, sistein dan me thionin (Simbolan, 2007). Selain itu daun kelor juga mengandung makro elemen seperti potasium, kalsium, magnesium, sodium, dan fosfor, serta mikro  elemen seperti mangan, seng, dan besi. Daun kelor merupakan  sumber provitamin A, vitamin B, vitamin  C, mineral terutama zat besi.  Fuglie (2001),  menyebutkan kandungan kimia daun kelor per 100 g adalah sebagai berikut :

Tabel Kandungan Energi dan Zat Gizi  Daun Kelor per 100 gram

Komponen Komposisi
Air

Energi

Protein

Lemak

Karbohidrat

Serat

Kalsium

Potassium

Fosfor

Besi

Zinc

Β-Karoten

Tiamin (Vitamin B1)

Ribovlafin (Vitamin B2)

Niacin (Vitamin B3)

Vitamin C

75 g

92 Kal

6.8 g

1.7 g

12.5 g

0.9 g

440 mg

259 mg

70 mg

7 mg

0.16 mg

6.78 mg

0.06 mg

0.05 mg

0.8 mg

220 mg

Sumber : Fuglie, 2001

Tanaman Murbei (Morus alba)

21 August 2015
Tanaman Murbei (Morus alba)

Kingdom : Plantae

Ordo : Rosales

Family : Moraceae

Tribe : Moreae

Genus : Morus

Species : M. alba

Nama Binomial: Morus alba

Tanaman Murbei berasal dari India dan Cina di kaki pegunungan Himalaya. Kemudian tanaman Murbei tersebar hingga ke beberapa wilayah, penyebaran tanaman Murbei ini didukung oleh kemudahan tanaman Murbei yang dapat tumbuh dari daerah sub tropis hingga ke daerah tropis. Beberapa negara yang telah mengembangkan tanaman Murbei antara lain Jepang, Cina, Korea, Rusia, India, Brazil, Italia, Perancis, Spanyol, Yunani, Yugoslavia, Hungaria, Rumania, Polandia, Bulgaria, Turki, Mesir, Syria, Cyprus, Sri Lanka, Iran, Bangladesh, Afganistan, Lebanon, Thailand, Myanmar, Vietnam, Indonesiam dan Kamboja (Departemen Kehutanan, 2007).

Tanaman Murbei merupakan tanaman perdu, tingginya dapat mencapai 6 meter dengan tajuk yang jarang, bercabang banyak, daunnya berwarna hijau tua dengan bentuk mulai dari bulat, berlekuk, dan bergerigi dengan permukaan kasar atau halus tergantung jenisnya. Pertumbuhan tanaman Murbei sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah dan iklim setempat. Di daerah tropis seperti di Indonesia, meskipun Murbei tidak mengalami masa istirahat, tetapi terdapat perbedaan pertumbuhan pada saat musim hujan dan musim kemarau. Penyebabnya adalah faktor kandungan air tanah. Perbedaan pertumbuhan yang nyata terlihat antara musim hujan dan musim kemarau. Waktu pertumbuhan yang paling baik bagi tanaman Murbei adalah diantara musim hujan dan musim kemarau, saat curah hujan mulai berkurang sedangkan temperatur udara masih cukup tinggi (Departemen Kehutanan, 2007).

Buah murbei pada waktu muda berwarna putih kehijau-hijauan kemudian berubah menjadi merah muda dan rasanya asam. Pada saat buah telah matang, warna buah Murbei menjadi merah tua agak kehitaman dan rasanya manis (Departemen Kehutanan, 2007).


Penggolongan jenis tanaman Murbei ke dalam spesies, sub spesies/varietas dilakukan berdasarkan struktur bunga, daun, dan cabang. Di Indonesia sendiri terdapat barbagai macam jenis tanaman Murbei, namun yang banyak ditanam oleh petani sebanyak 6 varietas Murbei saja. Varietas Murbei tersebut antara lain Morus nigra, Morus alba, Morus australis, Morus cathayana, Morus multicaulis dan Morus macroura.

Morus alba dikenal dengan nama “Murbei Buah” karena pada umumnya ditanam untuk diambil buahnya. Sifat yang sangat mencolok dari jenis ini adalah tentang buku atau ruas batangnya yang pendek-pendek dan pertumbuhannya yang tidak ke atas melainkan ke samping. Bentuk daunnya seperti Nigra atau Australis tetapi lebih kecil lagi. Tinggi pohon mampu mencapai 1,5 meter apabila tumbuh di daerah dingin dengan cabang yang banyak. (Departemen Kehutanan, 2007). Buah murbei ini ternyata mengandung senyawa antioksidan yaitu antosianin. Menurut Liu et al., (2004) berdasarkan penelitian level antosianin terhadap 31 jenis murbei yang terhitung sebagai cyanidin 3-glucoside, berkisar antara 147,68 hingga 2725, 46 mg/100 g filtrat. Kandungan unsur gizi pada 100 gr buah murbei dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel Kandungan Unsur Gizi dalam 100 gr buah Murbei

No

Unsur Gizi

Kadar/100 g bahan

1.

Energi (kkal)

48

2.

Protein (g)

1,6

3.

Lemak (g)

0,4

4.

Karbohidrat (g)

12,9

5.

Serat diet (g)

3,3

6.

Riboflavin (mg)

0,05

7.

Vitamin E (mg)

12,78

8.

Kalsium (mg)

30

9.

Fosfor (mg)

33

10.

Kalium (mg)

32

11.

Natrium (mg)

1,9

12.

Zat Besi (mg)

0,3

Sumber : Dunia Encyclopedia (2014)

Temu Giring ( Curcuma heyneana val. & van Zipj)

20 August 2015

Temu Giring ( Curcuma heyneana val. & van Zipj)

Temu giring merupakan tanaman berbatang semu yang tersusun atas banyak pelepah daun, batangnya berwarna hijau pucat dan tumbuh tegap. Rimpang temu giring rasanya amat pahit. Rimpang temu giring merupakan umbi batang yang tumbuh menyebar disebelah kiri dan kanan batang secara memanjang sehingga terlihat kurus. Daging rimpang temu giring berwarna kuning, berbau khas temu giring. Rimpang bagian samping umumnya memiliki rasa pahit (Muhlisah, 1999). Rimpang temu giring mengandung minyak atsiri, saponin dan flavonoida (Rukmana, 2004). Gambar temu giring dapat dilihat pada Gambar berikut:

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Curcuma
Spesies: C. heyneana val. & Van 

Temu Putih (Curcuma zeodaria Rosc.)

19 August 2015

Temu Putih (Curcuma zeodaria Rosc.)

Klasifikasi Tanaman
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma zedoaria (Berg.) Rosc.

Temu putih memiliki daun tanaman berwarna hijau, berukuran panjang 41,6 cm dan lebar 14,8 cm dan berjumlah sekitar 12 helai. Kulit rimpang temu putih yang berumur tua memiliki warna putih kotor dengan daging berwarna putih kekuningan, sedangkan rimpang yang masih muda kulit rimpangnya berwarna coklat muda dengan daging berwarna putih kotor. Rimpang berasa agak pahit dan berlendir. Beberapa zat kimia yang terdapat dalam rimpang temu putih antara lain minyak atsiri yang terdiri atas cinelo, resin, camphene, zingeberene, borneol, camphor, tepung, curcumin, dan zedoarin (Rukmana, 2004). Gambar temu putih dapat dilihat pada Gambar berikut:

Gambar Tanaman Obat Temu Putih - Curcuma zedoaria (Berg.) Roscoe.

Secara tradisioal digunakan sebaagi antimikroba dan antifungal (Witson et al., 2005). Shiobara et al. (1985) mengidentifikasi senyawa cyclopropanosesquiterpene, curcumenone dan 2  spirolactones, curcumanolide A dan curcumanolide B. Pada shoots muda dari C. zedoaria mengandung  (+)-germacrone-4,5-epoxide, sebuah intermediet kunci pada biogenesis a germacrone-type sesquiterpenoids. Di negara Brazil, di gunakan sebagai obat penurun panas. Aktivitas ini dikarenakan adanya senyawa yang bertanggung jawab yaitu curcumenol (Navvaro et al., 2002). Kandungan kimia rimpang Curcuma zedoaria Rosc terdiri dari : kurkuminoid (diarilheptanoid), minyak atsiri, polisakarida serta golongan lain. Diarilheptanoid yang telah diketahui meliputi : kurkumin, demetoksikurkumin, bisdemetoksikurkumin, dan 1,7 bis (4-hidroksifenil)-1,4,6-heptatrien-3-on (Windono dkk, 2002).
Minyak atsiri berupa cairan kental kuning emas mengandung : monoterpen dan sesquiterpen. Monoterpen terdiri dari : monoterpen hidrokarbon (alfa pinen, D-kamfen), monoterpen alkohol (D-borneol), monoterpen keton (D-kamfer), monoterpen oksida (sineol). Seskuiterpen pada Curcuma zedoaria terdiri dari berbagai golongan dan berdasarkan penggolongan yang dilakukan terdiri dari : golongan bisabolen, elema, germakran, eudesman, guaian dan golongan spironolakton. Kandungan lain meliputi : etil-p-metoksisinamat, 3,7-dimetillindan-5-asam karboksilat (Windono dkk, 2002).

Singh et al (2002) melaporkan kandungan minyak atsiri pada Curcuma zedoaria berupa 1,8 cineol (18.5%), cymene (18.42%), α-phellandrene (14.9%).

Golongan seskuiterpen yaitu β-Turmerone dan ar-turmeron yang diisolasi dari rhizoma Curcuma zedoaria menghambat produksi prostaglandin E2 terinduksi lipopolisakarida (LPS) pada kultur sel makrofag tikus RAW 264.7 dengan pola tergantung dosis (IC50 = 7.3 μM untuk β-turmerone; IC50 = 24.0 μM untuk ar-turmerone). Senyawa ini juga menunjukkan efek penghambatan produksi nitric oxide terinduksi LPS pada sistem sel (Hong et al., 2002).

Aktivitas antioksidan
Senyawa yang beraksi sebagai antioksidan kemungkinan adalah 5-isopropylidene-3,8-dimethyl-1(5H)-azulenone (Mau et al., 2003).

 

Lengkuas (Alpina galanga)

18 August 2015

Lengkuas (Alpina galanga)

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)                                                                             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)
Genus: Alpinia
Spesies: Alpinia galanga (L.) Sw.

Lengkuas merupakan tanaman semak berumur tahunan. Batang lengkuas merupakan batang semu yang lunak. Buah lengkuas memiliki  kulit yang berwarna putih ada juga yang kulitnya berwarna kemerahan. Lengkuas mengandung minyak atsiri berwarna kuning kehijauan dan berbau khas. Rasanya pahit dan mendinginkan lidah. Minyak atsiri ini terdiri dari bahan metil sinamat 48%, cineol 20% – 30%, kamfer, d-alfa-pinen, galangin dan eugenol 3%-4% (pemberi cita rasa pedas). Lengkuas segar tidak terlalu berserat dan aroma rimpangnya menyebar (Muhlisah,1999). Gambar lengkuas dapat dilihat pada Gambar berikut:

Next Page »