Home » artikel » Pepaya (Carica papaya L.)

Pepaya (Carica papaya L.)

Pepaya (Carica papaya L.)

Tanaman pepaya merupakan herba menahun dan tingginya mencapai 8 meter. Batang tidak berkayu, bulat, berongga, bergetah dan terdapat bekas pangkal daun dapat hidup pada ketinggian tempat 1 m – 1000 m dari permukaan laut dan pada suhu udara 22–26 0C. Pada umumnya semua bagian dari tanaman baik akar, batang, daun, biji dan buah dapat dimanfaatkan (Warisno, 2003). Menurut Tjitrosoepomo (2004), sistematika tumbuhan pepaya (Carica papaya L.) berdasarkan taksonominya adalah sebagai berikut:

Kingdom       : Plantae

Divisi             : Spermatophyta

Class             : Dicotyledoneae

Ordo              : Cistales

Family           : Caricaeae

Genus           : Carica

Spesies         : Carica papaya L.

Nama lokal   : Pepaya

Tanaman pepaya merupakan salah satu sumber protein nabati. Pepaya merupakan tanaman yang berasal dari Amerika tropis. Buah pepaya tergolong buah yang populer dan digemari hampir seluruh penduduk di bumi ini. Pepaya merupakan tanaman yang cukup banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman pepaya di Indonesia dapat tumbuh dari dataran rendah sampai dataran pegunungan 1000 m dpl. Negara penghasil pepaya antara lain Kostarika, Republik Dominika, Puerto rika dan lain-lain. Brazil, India dan Indonesia merupakan penghasil pepaya yang cukup besar (Warisno, 2003).

Kandungan Aktif biji pepaya

Apabila dikaitkan dengan senyawa aktif dari tanaman ini ternyata banyak diantaranya yang mengandung alkaloid, steroid, tanin, dan minyak atsiri. Dalam biji pepaya mengandung senyawa-senyawa steroid. Kandungan biji dalam buah pepaya kira-kira 14,3 % dari keseluruhan buah pepaya (Satriyasa dan Pangkahila, 2010). Kandungannya berupa asam lemak tak jenuh yang tinggi, yaitu asam oleat dan asam palmitat (Yuniawati dan Purwanti, 2008). Selain mengandung asam-asam lemak, biji pepaya diketahui mengandung senyawa kimia lain seperti golongan fenol, alkaloid, terpenoid dan saponin (Warisno, 2003). Zat aktif yang terkandung dalam biji pepaya tersebut bisa berefek sitotoksik, antiandrogen atau berefek astrogenik (Lohiya et al., 2002 dalam Satriyasa 2007). Alkaloid salah satunya yang terkandung dalam biji pepaya dapat berefek sitotoksik. Efek tersebut akan menyebabkan gangguan metabolisme sel spermatogenik.

Biji pepaya jangan termakan oleh orang yang sedang hamil muda karena dapat mengakibatkan keguguran. Orang yang keguguran akibat makan biji pepaya ini, biasanya sulit hamil kembali karena adanya pengeringan rahim akibat masuknya enzim proteolitik seperti papain, chymopapain A, chymopapain B dan peptidase pepaya. Disamping mengandung enzim proteolitik, biji pepaya juga mengandung senyawa kimia yang lain seperti lemak majemuk 25%, lemak 26%, protein 24,3%, 17 % serat, karbohidrat 15,5%, abu 8,8% dan air 8,2% (Warisno, 2003).

Aplikasi Biji Pepaya

Biji buah pepaya hanya dibuang begitu saja setelah pepaya diambil buahnya, padahal apabila biji buah pepaya diolah untuk diambil minyaknya akan sangat menguntungkan (Yuniawati dan Purwanti, 2008). Biji pepaya memiliki warna yang berbeda sesuai tingkat kematangannya, seperti pada gambar berikut ini:

Secara tradisional biji buah pepaya dapat dimanfaatkan sebagai obat cacing gelang, gangguan pencernaan, diare, penyakit kulit, untuk kontrasepsi pria, bahan baku obat masuk angin dan sebagai sumber untuk mendapatkan minyak dengan kandungan asam-asam lemak tertentu (Warisno, 2003).

 

artikel

No Comments to “Pepaya (Carica papaya L.)”

Leave a Reply

(required)

(required)


CAPTCHA Image
*