Home » artikel » Uncategorized » Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

15 May 2015

 Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Açaí pada umumnya dikenal sebagai açaí berry dan merupakan buah yang tumbuh di hutan hujan Amazon, Brazil. Açaí tumbuh terutama di dataran Sungai Amazon dan anak-anak sungainya, seluas lebih dari 12 juta hektar. Hingga 7.000 pohon dapat tumbuh per hektar yang membentuk kanopi yang melindungi tanaman dari radiasi sinar matahari (Schauss, 2006a).

Klasifikasi dari buah Açaí adalah sebagai berikut :

Kingdom             : Plantae

Sub kingdom     : Tracheobionta

Super divisi        : Spermatophyta

Divisi                  : Magnoliophyta

Kelas                  : Monocotyledons

Sub kelas           : Arecidae

Ordo                  : Arecales

Famili                 : Arecaceae/Palmae

Genus                : Euterpe Mart.

Spesies              : Euterpe oleracea Mart.

Buah açaí pada mulanya hanya dikonsumsi oleh penduduk lokal, namun sekarang keberadaannya telah menyebar hampir ke seluruh dunia. Schauss (2006a) menyatakan bahwa buah açaí memiliki tampilan menyerupai buah anggur tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil, bulat, berwarna hitam-ungu, dan setiap cabang terdiri dari 500-900 buah. Exocarp dari buah matang berwarna ungu atau hijau tergantung dari jenis dan tingkat kematangan buah. Mesocarp buah ini lembek dan tipis dengan ketebalan 1 mm. Buah açaí berukuran 2,5 cm yang terdiri dari 87% berupa biji, 13% pulp dan kulit. Buah açaí pulp telah mendapat banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena kapasitas antioksidan yang sangat tinggi dan perannya sebagai pangan fungsional. Freeze dried açaí pulp memiliki nilai antioksidan yang tinggi yang diukur dengan ORAC sebesar (1,027 mmol TE/g) (Schauss, 2006a). Perbandingan kapasitas total antioksidan dari beberapa buah dan berry dapat dilihat pada Tabel

Tabel Total Antioxidant Capacity (TAC) per takaran

Jenis Buah

Kadar air (%)

TAC (mmol TE/g)

Takaran Saji (g)

TAC per takaran

Açaí pulp

60,0

410,80

145

59,566

Blueberry

85,0

62,20

145

9,019

Cranberry

87,1

94,56

95

8,983

Blackberry

86,9

53,48

145

7,701

Raspberry

85,8

49,25

123

6,058

Strawberry

91,1

35,77

166

5,938

Apel

85,7

38,99

138

5,381

Alpukat

72,0

19,33

173

3.344

Sumber : (Schauss, 2006a)

 

Kandungan Buah Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Pulpbuahaçaímengandungproteinsekitar 2,4% dan5,9% lemak. Analisisasam lemak menyebutkan bahwa asam lemak tak jenuh tunggal oleat merupakan komponen lemak utama yakni 56,2%, asam lemakjenuh palmitat24,1%, danasam linoleat12,5% (Schauss, 2006b). Schauss (2006b) juga menyebutkan bahwa buah açaí juga kaya akan kandungan asam amino antara lain: alanine, arginin, asam aspartate, sistin, asam glutamate, glisin, histidin, hidroksiprolin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, prolin, serin, threonine, tirosin, dan valin.

Kandungan mineral dalam buah açaí yakni boron, kalsium, kromium, tembaga, iodin, besi, magnesium, mangan, potassium, selenium, sodium, dan zinc. Selain ditemukan berbagai macam mineral, pada buah acai juga tinggi kandungan vitamin yakni biotin, asam folat, inositol, asam pantotenik, vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, C, D, dan E (Schauss, 2006b).

Analisis fenolat buah açaí ditemukan  antosianin3-glikosida, asam ferulic, epicatechin, asam benzoatp-hidroksi, asam galat,asam,catechin, asam ellagic, asamvanilatprotocatechuic,p-coumaric, dan gallotanin (Del Pozo, 2004).

Tabel Kandungan senyawa fitokimia Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Komposisi Senyawa Fitokimia Buah Açaí

Beta-sitosterol Homoorietin
Campesterol Isoquercitin
Catechin Isovitexin
Coumeric acid Kaempferol
Cyanidin-3-glucoside Luteolin
Cyanidin-3-rutoside Luteolin-4-glucoside
Cyanidin-3-diglyside Methyl-derivative of homoorientin
Cyanidin-3-O-rutinoside Myricetin
Cyanidin-3-glucoside-coumaraterutinoside Orientin
Deoxyhexose Proanthocyanin
Epicatechin Protocatchuric acid
Eriodictyol Protocatechic acid
Eriodictyol-7-glucoside Pterostilbene
Eurpatorin Quercitin-3-arabinoside
Ferulic acid Resveratrol
Flavanols Sigmasterol
Flavonoids Taxifolin
Flavonols Vanilic acid
Gallic acid  

Sumber : (Schauss, 2006a)

 

Manfaat Buah Açaí (Euterpe oleracea Mart.)

Penelitian yang telah dilakukan pada Açaí pulp ditemukan adanya kandungan polifenol yang relatiftinggi misalnya flavonoid terutama proantosianin dan dalam tingkat yang lebih rendah yakni antosianin (cyandin3-glucoside dancyanidin3-rutinosida) serta karotenoid, dan asam askorbat (Del Pozo, 2004; Rodrigues, 2006; Schauss, 2006b; Pacheco, 2008; Chin, 2008). Açaí pulp juga memiliki aktivitas antioksidan yang relatif kuat yakni sebagai scavenger ROSsepertisuperoksida(O2) danperoksil(ROO-) radikal, yangberkontribusiuntukpencegahanbeberapa penyakitinflamasiseperti penyakit tidak menular(diabetes, arthritis, kanker) (Lichtenthäler, 2005; Rodrigues, 2006; Pacheco, 2008; Chin, 2008). Kandungan antioksidan yang relatif tinggi menjadikan buah acai banyak digunakan sebagai pangan fungsional dalam upaya pencegahanpenyakitdan terapi.

Manfaat kesehatanAçaí yang didasarkanpada studieksperimental potensiterhadap:

  1. Inflamasi, misalnya penghambatan NF-KB dan jalur MAPK, penghambatan aktivitas Cy-clooxygenase (COX) (Schauss, 2006a; Xie, 2012)
  2. Penuaan, yakni ditunjukkan dengan memperpanjang umur lalat dengan diet tingga asam lemak jenuh atau kekurangan enzim antioksidan SOD. Selain itu, secara dermatologis dapat melawan gangguan psioriasis dan  dermatitis atopic, serta perawatan kecantikan (Baumann, 2009; Sun 2010).
  3. Kanker, misalnya yang disebabkan oleh apoptosis sel leukemia atau kanker usus besar secara in vivo (Del Pozo, 2006; Fragoso, 2013).
  4. Penyakit kardiovaskular yaitu efekvasodilatasidimediasi olehNitric Oxide(NO) /cyclicGuanosinMonophosphate(cGMP)/EndotelDerived HyperPolarizingFactor(EDHF) jalur, perbaikanprofillipid, dan peredamanaterosklerosis (Rocha, 2007; Feio, 2012).
  5. Sindrom metabolik, misalnya perbaikan profil lipid seperti pengurangan LDL-kolesterol dan peningkatan post-prandial dengan peningkatan glukosa plasma setelah makan, pencegahandan pengendalian Type-2 Diabetes tipe 2 melalui mekanisme Fenofibrate drug-like molecularyang melibatkan Phosphophenolpyruvate Carboxykinase (PEPCK) (Sun, 2010; Udani, 2011).
  6. Infeksi, misalnya melalui stimulus respon kekebalan (Holderness, 2011; Skyberg, 2012)
  7. Nyeri, misalnya pengurangan C-Reactive Protein (C-RP) pada manusia (Jensen, 2011).
  8. Kerusakan DNA, misalnya dengan penurunan kerusakan yang disebabkan oleh obat-obatan doxorubicin dalam eritrosit mencit dan yang dihasilkan oleh H2O2 dalam jaringan otak dan melalui aktivitas antioksidan (Spada, 2009; Ribeiro, 2010)

Uncategorized